Wednesday, August 5, 2015

Takwil Syair Rumi (2)


Setiap jiwa senantiasa baru, dunia dan kita
Tak diketahui kebaruan itu dalam keabadian
Umur bagai arus, baru dan baru
Senantiasa berlangsung dalam jasad
~ Rumi


Maulana Rumi ingin memberikan suatu penafsiran baru atas realitas keberadaan jiwa dan alam. Suatu penafsiran bahwa jiwa dan dunia senantiasa baru. Meskipun Anehnya kita tak pernah menyaksikan kebaruan itu. Yang kita saksikan hanya perubahan, seperti perubahan pergantian waktu dari sebuah proses gerak.
Lalu kebaruan mana yang dimaksud ! Kita akan memaknai baru jika ada suatu hal baru yang melekat pada diri kita, seperti saat kita memakai baju baru. Bagaimana jika hal ini disematkan pada jiwa bahwa ada hal yang senantiasa baru pada jiwa ? Apa yang baru pada jiwa dan yang senantiasa baru ?
Tak mudah menjawabnya. Namun ada yang menarik yang dikatakan Sadra bahwa wujud mumkin yang dalam terminologi Sadra disebut dengan wujud faqir adalah wujud yang senantiasa bergantung pada Ilahi. Bahkan lebih dari itu, menurut Sadra, bukan wujud yang bergantung namun kebergantungan itu sendiri. Apa maksud kebergantungan itu sendiri ?
Maksudnya, wujud faqir tak memiliki independensi wujud sama sekali, satu-satunya yang dimiliki adalah kefaqiran eksistensi. Kita tak bisa mengatakan bahwa diri kita ada dimana diri kita ini bergantung. Namun yang bisa kita katakan bahwa diri kita adalah kebergantungan itu sendiri, bukan 'ada' yang bergantung pada sesuatu yang menunjukkan suatu independensi eksistensi pada diri kita.
Jika demikian, lalu apa konsekwensinya ? Apa konsekwensinya jika wujud kita adalah wujud faqir bahwa bahkan dalam eksistensipun kita faqir ? Konsekwensinya adalah kita senantiasa meminta wujud pada penyebab segala wujud yang dalam bahasa teologi disebut dengan Tuhan. Bukan hanya kita, bahkan segala entitas-entitas mumkin termasuk alam semesta senantiasa meminta pada Ilahi.
Lalu apa konsekwensi jika kita senantiasa meminta wujud pada Ilahi ? Konsekwensinya adalah wujud kita senantiasa baru dan baru. Kita dan alam senantiasa baru karena setiap saat kita meminta eksistensi pada Ilahi. Betul, kita senantiasa dalam penciptaan yang baru karena wujud kita senantiasa baru.
Anehnya kata Rumi, kita tak sadar kebaruan itu dalam keabadian. Artinya meski senantiasa eksistensi kita baru, namun tak meniscayakan identitas yang disebut 'aku' ikut berubah. Disini 'aku' yang senantiasa dan setiap saat meminta eksistensi. Jika ditanya apakah 'aku' ini ada ? Tidak. 'aku' disini tak bisa dikatakan ada juga tak bisa dikatakan tidak ada, karena 'aku' senantiasa memperoleh wujud yang baru dan karena senantiasa dan setiap saat meminta wujud. sehingga tak bisa dikatakan ada juga tak bisa dikatakan tiada. Ada dan tiada senantiasa beringan dalam hakikat kita dan alam semesta.
Sebagaimana firman Tuhan, (Ar-Raĥmān):29 - Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan (atau setiap waktu Dia mencipta).
Setiap waktu Dia mencipta adalah jawaban atas sebuah permintaan eksistensi yaitu semua yang ada di langit dan dibumi senantiasa meminta eksistensi kepadaNya.
Comments
0 Comments

0 comments: