Thursday, August 6, 2015

Idul Fitri Menurut Jalaluddin Rumi

Maulana Rumi senantiasa menanti menyambut bulan ramadhan, duduk bersimpuh penuh kerinduan dan sebagaimana sufi lainnya, di bulan ramadhanlah mereka "berpesta" mencicipi hidangan ruhaniah.

Demikian halnya mereka pun berpesta dengan hari raya, hari raya idul fitri. Namun "pesta" tersebut bukan karena puasa telah berakhir, akan tetapi dikarenakan telah dimulainya kehidupan yang baru, dalam alam yang baru, dan dengan jiwa yang baru.

Menurut Maulana Rumi, dalam sepanjang bulan ramadhan, 'aku' yang palsu berada dibawah naungan dominasi kesejatian 'aku' manusia. Puasa kembali melahirkan dirinya dari aku yang palsu menuju aku yang sejati.

Melalui Idul Fitri, pertanda bahwa aku yang sejati telah menyembelih aku yang palsu. Aku yang palsu yaitu aku yang telah terkontaminasi dengan kemashuran, kekuasaan, keangkuhan, harta, dan syahwat.

Menurut Maulana Rumi, Idul Fitri adalah hari raya para pecinta dimana simbol keismailan pasrah disembelih oleh simbol keibrahimian sehingga memperoleh kemenangan fitrah dan kebahagiaan yang agung.

Idul Fitri adalah hari kesempurnaan dan pertemuan. Hari penyaksian dan hari ijabah, serta hari terbukanya rahmat seluas-luasnya kepada para pejalan menuju kefakiran eksistensinya.

Dalam Ghazal Maulana Rumi, bulan ramadhan disimbolkan dengan 'Maryam' dan idul fitri dengan 'Isa';

'Wahai jiwa, tak perlu berputus asa sebab harapan telah datang'

'Harapan bagi seluruh jiwa, telah sampai dari kegaiban'

'Tak perlu bersedih, meskipun dirimu telah kehilangan Maryam'

'Sebab cahaya Isa telah datang mengitari'

'Wahai jiwa, tak perlu bersedih dalam kegelapan penjara ini'

'Sebab Raja telah mengeluarkan Yusuf dari penjara'

'Sebagaimana Ya'qub telah keluar dari hijab ketersembunyiannya'

'Dan juga Zukaikha telah merobek tirai Yusuf'

'Duhai yang puasamu dari singgasana yang tinggi'

'Berbahagialah, berbahagialah, sebab Eid telah datang'

Comments
0 Comments

0 comments: