Showing posts with label Wanita dan Pria. Show all posts
Showing posts with label Wanita dan Pria. Show all posts

Sunday, March 3, 2013

Al-qur’an Mengajak Ruh Manusia, Bukan Mengajak Pria dan Wanita


Ketika kita merujuk pada Qur’an, kita akan menemukan bahwa kesempurnaan manusia terletak pada pengetahuan dia tentang Tauhid, Ma’ad dan wahyu atau kenabian. Hal ini menandakan bahwa kesempurnaan manusia bergantung pada kualitas pandangan dunia tauhidnya. Dalam kata lain, manusia yang memiliki pandangann dunia tauhid  meyakini bahwa alam ini ada permulaanya yaitu Allah swt, kemudian ada akhirnya yang disebut dengan ma’ad atau hari kebangkitan, kemudian antara awal dan akhir terdapat ‘shiratul mustaqim’ dimana shiratul mustaqim berkaitan dengan persoalan kenabian itu sendiri.   
Kita ketahui bersama bahwa tidak ada eksistensi di alam ini kecuali ketiga eksistensi tersebut. Dimana ketiga hal tersebut berkaitan dengan  ‘awal’ yaitu Tauhid, ‘akhir’ yaitu Ma’ad atau hari kebangkitan dan ‘diantara awal dan akhir’ terdapat kenabiaan. Oleh karena itu ada tiga elemen utama dalam prinsip agama, dan segala sesuatunya akan kembali kepada ketiga prinsip tersebut. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw menjelaskan ; ‘semoga Allah swt merahmati bagi mereka yang mengetahui dari mana asalnya, sedang dimana dia, dan akan kemana dia’.
Untuk mengetahui ketiga prinsip diatas tidak disyaratkan pada pria atau wanita. Artinya bahwa risalah Rasulullah tidak dikhususkan pada pria dan juga tidak dikhususkan pada wanita. Dalam surah Yusuf ; 108 Allah swt berfirman : “ katakanlah, Inilah jalanku, aku dan orang–orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah swt dengan Hujjah yang nyata “. Ajakan Rasulullah saw meliputi seluruh manusia. Tapi mungkin saja kita menemukan ada ajakan tertentu yang dikhususkan kepada wanita dan ajakan tertentu yang dikhususkan kepada pria, namun harus dipahami bahwa pengkhususan tersebut tidak kembali kepada ruh manusia sebagai inti utama dari eksistensi manusia.     
Hakekat Manusia Bukan Pria dan Wanita        
Hakekat manusia dalam pandangan Islam berada pada ruh, bukan pada jasad. Jasad dipahami hanya sebagai instrumen semata. Hubungan tersebut dalam artian bahwa segala prilaku manusia berasal dari jiwa. Pada hakekatnya yang melihat, mendengar, merasakan, dst adalah jiwa. Namun inti dari jiwa adalah ruh sebagai hakekat yang abadi yang secara langsung berasal dari Allah swt. Dalam surah Al-hijr;29 Allah swt berfirman; “ ... dan telah meniupkan kedalam ruh (ciptaan)-Ku,“.
Yang menarik disini karena Al-qur’an juga menyebut malaikat sebagai ruh. Hal ini menunjukkan bahwa pada diri malaikat pun tidak terdapat pria dan wanita. Itulah sebabnya mengapa Al-qur’an menentang orang–orang yang meyakini bahwa malaikat diciptakan dalam bentuk perempuan. Dalam surah shaffat;150 Allah swt berfirman ; “ dan apakah kami menciptakan malaikat berupa perempuan dan apakah mereka menyaksikannya ? “ dan juga dalam surah zukhruf ; 19 Allah swt berfirman ; “ dan mereka menjadikan malaikat–malaikat yang mereka itu adalah hamba–hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang–orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat–malaikat itu ?  kelak akan ditulis persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung jawaban“.
Manusia dan malaikat memiliki dimensi  yang sama yaitu ruh. Oleh karena itu apa yang dicapai oleh malaikat pasti bisa dicapai oleh manusia sempurna. Bahkan pada maqam insaniyah malaikat bersujud atasnya. Ibn Arabi mewasiatkan kepada kita untuk tidak melihat diri kita hanya sebagai bahagian kecil diantara mahkluk yang ada, akan tetapi menurut beliau eksistensi manusia berada pada seluruh tingkatan alam aksistensi.
Jika demikian maka seluruh kesempurnaan manusia harus dikaitkan dengan hakekat manusia yaitu pada ruh manusia, bukan pada jasadnya. Allah swt tidak pernah membedakan antara pria dan wanita, bahkan dalam inti manusia tidak ada pria dan wanita. Allah swt mengajak manusia untuk menuntut ilmu baik itu pria maupun wanita, karena ilmu berkaitan dengan ruh manusia, begitu juga dengan beribadah, suluk (berjalan menuju Allah swt) atau hal–hal lain yang berkaitan dengan ruh manusia. Jika demikian halnya, lalu dari manakah asal perbedaan pria dan wanita ?
Perbedaan pria dan wanita berasal dari jasad semata. Hukum–hukum yang kita lihat dalam Islam pun - jika kita cermati secara sepintas -  terdapat perbedaan yang substansi, sebenarnya perbedaan tersebut kembali kepada jasad atau kembali pada maslahat sosial, bukan kembali kepada ruh sebagai inti hakekat manusia.     
Allah swt berfirman ; “Berlomba–lombalah kalian menuju Allah swt“. Sebuah perlombaan bisa terlaksana secara adil jika seluruh pesertanya memiliki potensi yang sama untuk sampai pada tujuan yang dimaksud. Jika secara substansi memang berbeda, maka pertandingan tersebut tidak adil untuk dilaksanakan. Dalam diri manusia tidak ada sama sekali perbedaan, tidak ada pria dan wanita dan karena itu keduanya bisa sampai kepada Allah swt.
Rahasia Perbedaan Pria dan Wanita
Dalam surah zukhruf ; 32 Allah swt berfirman ; “apakah mereka yang membagi–bagi rahmat Tuhanmu ? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain (dan juga saling bantu membantu). Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan“.  
Al-qur’an menjelaskan bahwa kehidupan ini harus berjalan dalam sebuah sistem yang harmoni dan sebaik - baiknya. Jika tidak ada interaksi antara satu eksistensi dengan eksistensi lainnya maka tentunya tidak akan tercipta harmonisasi diantara entitas–entitas yang ada, bahkan tidak akan tercipta perbedaan strata sosial dan karenanya tidak akan terjadi harmoni antara satu dengan lainnya.
Allah swt menciptakan manusia dengan potensi dan kondisi yang berbeda–beda. Jika segala sesuatu diciptakan dengan kondisi dan potensi dalam level yang sama maka sistem eksistensi tidak akan berjalan. Pekerjaan yang beragam menunjukkan adanya potensi yang beragam, dan karenanya diharuskan adanya perbedaan.
Begitu juga dengan perbedaan–perbedaan lainnya seperti perbedaan strata sosial, perbedaan potensi, perbedaan kecendrungan, dst. Namun harus dipahami bahwa perbedaan tersebut tidak menjadi tolak ukur keunggulan atau keutamaan seseorang. Perbedaan tersebut hanya sebagai instrumen dalam aktivitas kerja. Demikian halnya dengan perbedaan antara pria dan wanita, perbedaan tersebut hanya instrumen semata bukan tolak ukur keunggulan spiritual kedekatan kepada Allah swt. Jika seseorang dapat menggunakan potensi yang dia miliki dengan baik sehingga mengantarkan dirinya kepada nilai–nilai ketaqwaan maka dirinya akan menggapai kesempurnaan yang hakiki melalui potensi tersebut.
Kaum Pria Pengayom Bagi Kaum Wanita
Dalam surah annisa;34 Allah swt berfirman ; “pria adalah pengayom bagi kaum wanita, oleh karena Allah swt telah melebihkan sebagian mereka (pria) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka“. Ayat ini ingin menjelaskan bahwa kaum prialah yang seyogyanya mengatur persoalan dalam rumah tangga karena yang menjamin kehidupan dalam rumah tangga adalah pria. Kaum prialah yang mencari nafkah diluar rumah, oleh karena itu kaum pria pun yang memiliki andil yang besar dalam persoalan rumah tangga.
Namun hal ini tidak berarti bahwa wanita adalah tawanan bagi kaum pria. Kemudian ayat ini juga tidak menunjukkan keutamaan seorang pria terhadap wanita, dikarenakan pada level ini tidak serta merta menunjukkan kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah swt. Ayat ini hanya menunjukkan tugas yang harus dijalani oleh kaum pria dalam keluarga. Ayat diatas membahas sebuah prinsip umum dalam keluarga.
Dalam keluarga, seorang anak – baik itu pria maupun wanita – harus menaati perintah ibu dan ayahnya. Jika seorang Ibu melarang anaknya demi kebaikan, maka seorang anak wajib untuk menaatinya. Meskipun anak tersebut seorang pria dan bahkan telah mendapatkan gelar doktoral. Seorang anak tidak berhak untuk mengatakan bahwa karena saya telah mendapat gelar Doktoral oleh karena itu saya tidak perlu lagi menaati perintah Ibu. Dalam keluarga posisi otoritas bisa saja berubah. Baik itu pria terhadap wanita maupun wanita terhadap pria.
Panutan Baik dan Buruk dalam Qur’an
Manusia yang baik tentunya menjadi suri tauladan bagi seluruh ummat manusia. Jika dia seorang pria maka tidak hanya menjadi panutan bagi pria akan tetapi juga wanita, begitupun sebaliknya jika dia seorang wanita maka bukan hanya menjadi panutan bagi wanita akan tetapi juga pria. Al-qur’an menceritakan 4 tokoh perempuan, dua diantaranya sebagai contoh perempuan baik dan dua lagi sebagai contoh perempuan buruk.
Dalam surah attahrim ; 10 Allah swt berfirman ; “Allah swt menjadikan istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang–orang kafir“. Istri Nuh dan istri Luth adalah dua contoh perempuan buruk yang dikisahkan dalam Qur’an. Dan dua perempuan lainnya adalah istri Fir’aun dan Sayyidah Maryam as sebagai contoh perempuan baik.
Jika kita cermati ayat diatas, Qur’an tidak menyebutkan perumpamaan bagi “perempuan“ kafir, akan tetapi Qur’an menyebutkan perumpamaan bagi “orang–orang“ kafir. Hal ini mempertegas bahwa baik dan buruk sebagai sifat manusia tidak berasal dari unsur ke-pria-an atau ke-wanita-an, namun berasal dari jiwa atau ruh manusia. Jika kebaikan maka pasti berasal dari ruh karena ruh-lah yang berhubungan langsung dengan Allah swt, dan jika keburukan datangnya dari bagian jiwa kita, dikarenakan ada bagian fakultas jiwa kita yang cendrung kepada unsur hewaniyah. Sebagaimana firman Allah swt dalam surah  Annisa ; 79 ; “segala kebaikan yang kamu peroleh, maka hal itu berasal dari Allah swt. Dan segala keburukan yang kamu peroleh berasal dari (kesalahan) dirimu sendiri “.    Kesimpulannya bahwa Islam mengajak ruh manusia, bukan mengajak pria dan wanita disebabkan kedua hal tersebut hanya instrumen semata dan bukan inti dari hakekat manusia. Oleh karena itu tolak ukur kesempurnaan dan keutamaan manusia harus didasarkan pada seberapa jauh kaitannya dengan ruh manusia.