Sunday, August 9, 2015

Fenomenologi dan Problemnya

Hirarki atau gradasi salah satu karekteristik hakikat eksistensi. Lokus gradasi hanya pada eksistensi dan tak kan mewujud pada yang realitas yang lain.

Ketika dikatakan bahwa ketunggalan merupakan esensi yang fundamental bagi wujud. Tak semestinya kita berpandangan bahwa ketunggalan hanya aksiden bagi wujud sehingga dikatakan kita mensifatkan ketunggalan pada wujud. Karena mesti dipahami bahwa tak ada sesuatu diluar eksistensi yang dapat mengaksiden pada wujud. Maksudnya, wujud adalah ketunggalan itu sendiri dan ketunggalan adalah wujud itu sendiri. Kedua konsep tersebut, yaitu konsep wujud dan konsep ketunggalan diabstraksi dari satu hakikat.

Oleh karena itu ketunggalan sejati adalah wujud dan wujud sejati juga adalah ketunggalan itu sendiri.

Wujud mutlak yang merupakan wujud murni hanya akan menjelma pada menifastasi-manifestasi. Sebab itu dapat dikatakan, mutlak tak kan nampak kecuali pada determinasi (batasan), sebagaimana kemurnian tak kan nampak kecuali pada yang tidak murni.

Mereka yang pernah membaca filsafat fenomenologi akan memahami bahwa ada ragam pandangan terkait dengan fenomenologi. Namun ada satu kaidah yang diyakini oleh seluruh aliran fenomenologi, "kita senantiasa berhadapan dengan fenomena-fenomena".

Kaidah ini mudah dipahami dan diterima karena berakar dari pondasi realitas eksternal. Berdasarkan pandangan ini dapat dikatakan bahwa, sebagaimana manusia sebagai entitas yang terdeterminasi senantiasa berhadapan dengan fenomena-fenomena, karena manusia bukan entitas yang mutlak yang kosong dari segala bentuk batasan-batasan dan determinasi-determinasi. Sebab mutlak sebagaimana mutlak tak kan berhadapan dengan sesuatu apapun.

Berdasarkan hal ini pula dapat dikatakan, dalam kemutlakan dualitas tak lagi bermakna sebab kemutlakan senantiasa Dipahami sebagai dasar dan sumber. Tentu sesuatu yang dipahami sebagai 'sumber', bagaimana mungkin berhadapan dengan sesuatu dimana sesuatu tersebut muncul dari sumber itu sendiri?

Tak diragukan bahwa fenomena berasal dan diabstraksi dari sumber. Meskipun boleh jadi sumber dari fenomena-fenomena tersebut tak diketahui dan tanpa determinasi. Namun tak diketahui dan tanpa determinasi sama sekali tidak bermakna 'tidak ada'.

Mereka yang menganggap dirinya sebagai seorang fenomenolog, tentu akan menganggap dirinya selalu berhadapan dengan fenomena-fenomena. Selanjutnya asumsi 'senantiasa berhadapan dengan fenomena-fenomena' akan membentuk dan mempengaruhi model kehidupannya.

Karena itu pertanyaan yang mesti dijawab terkait dengan hal ini, "jika kehidupan manusia idealnya dengan 'senantiasa berhadapan dengan fenomena-fenomena', lalu bagaimana kita memaknai kehidupan ini?"

Dalam kata lain, jika kita meyakini manusia hidup dialam ini dan menetap di dalamnya, namun apakah ada orang di alam ini yang dapat menyaksikan seluruh alam dan memposisikan keseluruhan tsb sebagai suatu fenomena?

Tak mudah menjawab pertanyaan ini karena manusia adalah bagian dari alam ini sehingga tak dapat berhadapan dengan keseluruhan alam ini sebagai suatu fenomena.

Jika kita dapat mempersepsi di alam ini, lalu bagaimanakah kita dapat mempersepsi keseluruhan alam ini sebagai sebuah fenomena?maksudnya apakah mungkin keseluruhan alam ini sebagai objek fenomenologi?

Comments
0 Comments

0 comments: