Friday, September 5, 2014

Tafsir Surah al-'Ashr, Khajah Nashiruddin Thusi

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحيم

Tafsir Surah al-‘Ashr oleh Khajah Nashiruddin Thusi 

وَ الْعَصْرِ﴿إِنَّ الْإِنْسانَ لَفي‏ خُسْرٍ  
Maksudnya adalah mereka yang sibuk dengan urusan-urusan materi dan jiwanya tenggelam dalam kerakusan

إِلاَّ الَّذينَ آمَنُوا
Maksudnya mereka yang telah sempurna dalam hikmah nazari (filsafat teori)

وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ 
Maksudnya mereka yang telah sempurna dalam hikmah amali (pengamalan filsafat praktis)

وَ تَواصَوْا بِالْحَقِّ  
Mereka yang sedang proses menyempurnakan akalnya dengan pengetahuan-pengetahuan nazari

وَ تَواصَوْا بِالصَّبْرِ 
Mereka yang sedang proses menyempurnakan akhlaknya dengan pengetahuan-pengetahuan amali

Monday, September 1, 2014

Tafsir Sufi Surah al-Baqarah; Ayat 1-3

[Tafsir Sufi Surah al-baqarah];

'Alif lam mim; kitab Qur'an ini tdk ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa'.

Alif lam mim, sebagian mufassir menyatakan bahwa huruf muqatthaah ini hanya dipahami oleh Rasulullah saw karena huruf tersebut adalah simbol dan rahasia antara Allah swt dengan Rasulullah saw. Sebagian mufassir lainnya menafsirkan alif dengan Allah swt, lam dengan ila (kepada) Jibrail as, mim dengan Muhammad saw. Artinya menjelaskan proses wahyu dari Allah swt kepada Rasulullah saw melalui Jibrail as.

Zalikalkitab la rayba fihi. Zalik (itu) isyarah dalam menunjuk sesuatu. Jadi Kitab itu (zalik) meliputi semua tingkatan kitab, mulai dari kitab 'ummul kitab' atau 'kitabin mubin' sampai pada kitab Qur'anan Arabiyan (Qur'an yang ada ditangan kita saat ini yang berbahasa arab). Dalam semua tingkatan kitab tersebut tidak terdapat keraguan sama sekali. Keraguan itu muncul jika berasal dari sesuatu yang diragukan atau bersumber dari realitas yang didalamnya bercampur antara kebenaran dan kebatilan. Karena Qur'an berasal dari hakekat mutlak, hakekat kebenaran, dan hakekat kesempurnaan maka Qur'an juga mutlak benar. Apalagi Rasulullah saw dan Jibrail as keduanya adalah maksum maka Qur'an sampai ke tangan kita juga maksum, dan dikarenakan maksum maka tidak ada lagi keraguan didalamnya.

Hudan lilmuttaqin; petunjuk (yakni Qur'an sbg petunjuk) bagi orang2 yg bertaqwa; Pada pembahasan surah alfatihah sedikit banyaknya telah kami singgung tentang persoalan hidayah. Dalam pembahasan hidayah disini, dijelaskan bahwa Qur'an adalah pentunjuk bagi orang-orang yg bertaqwa. Ada pertanyaan berkenaan dengan hal ini bahwa jika Qur'an adalah hidayah bagi orang yang bertaqwa, kemudian disisi lain Qur'an menyuruh manusia agar bertaqwa, bukankah ini yang disebut dengan 'daur' ? Maksudnya Qur'an menyuruh manusia untuk bertaqwa namun disisi lain yang bisa menerima Qur'an adalah orang bertaqwa ? Dalam menjawab pertanyaan ini, pada tafsir surah al-fatihah telah kami jelaskan bahwa hidayah ada dua yaitu hidayah internal (dalam diri manusia yaitu perkara fitrawi; akal dan qalbu) dan hidayah eksternal (diluar diri manusia yaitu Qur'an dan maksumin). Karena itu, yang dimaksud Qur'an dengan hudan lilmuttaqin (petunjuk bagi orang yg bertaqwa) yaitu menjelaskan syarat bahwa untuk mendapatkan cahaya Qur'an disyaratkan adanya kesiapan dalam diri manusia, dan kesiapan itu adalah hidupnya fitrah dalam diri manusia. Maksudnya taqwa didasari pada hidupnya fitrah dalam diri manusia. Jika fitrah ini terjaga, maka dirinya mampu menerima cahaya Qur'an, tentu pada batas keluasan fitrahnya (dalam hal ini qalbu dan akal). Pada ayat yang lain dijelaskan bahwa Qur'an merupakan hidayah bagi semua manusia (hudan linnas). Disini seolah ada pertentangan antara hudan linnas dengan hudan lilmuttaqin. Namun tidak demikian, akan tetapi maksudnya yaitu meskipun Qur'an hidayah bagi semua manusia tanpa terkecuali, namun yang mendapatkan banyak manfaat adalah yang memiliki ketaqwaan, dan ketaqwaan yang dimaksud disini paling minimal masih adanya nilai-nilai fitrawi di dalam dirinya. Contohnya, jika ada seorang yg sakit hingga mengakibatkan matanya buta, maka pada saat matanya buta tentu tidak lagi bisa menikmati cahaya matahari. Meskipun cahaya matahari mendatanginya namun ia tak lagi dapat memanfaatkan cahaya tersebut. Begitu juga jika fitrah seseorang telah buta, tentu ia tak lagi bisa mendapatkan petunjuk-petunjuk dari luar dirinya. Meskipun setiap saat petunjuk tersebut datang menghampirinya.

Allazina yu'ninuna bilghayb; (yaitu mereka yang beriman thdp yg gaib); Salah satu makna iman yaitu diikrarkan dengan lisan, ditashdiq dengan qalbu, dan mengamalkannya. Maka iman meliputi ketiga unsur tersebut. Mereka yg mengikrarkan iman dengan lisannya tanpa adanya keyakinan pada qalbunya disebut dengan munafiq. Jika qalbunya meyakini namun tidak mau mengikrarkan dengan lisan maka dia menyangsikan (inkar), dan jika mengamalkan sesuatu yg tdk sejalan dengan keyakinan (keimanan) disebut dengan fasiq. Dalam surah al-hujurat ayat 14 menunjukkan bahwa qalbu adalah wadahnya iman. Maksudnya tempatnya iman itu pada qalbu. Pada ayat ini Rasulullah saw menegur sekelompok orang arab yang mengatakan bahwa diri mereka telah beriman, karena itu Rasulullah saw mengatakan kepada mereka bahwa cukup anda katakan 'kami berislam' karena iman belum masuk ke dalam qalbumu. Dalam surah mujadalah;22 Allah swt berfirman; kamu tidak akan mendapati suatu kaum yg beriman kepada Allah swt dan hari akhirat, mencintai orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, sekalipun orang itu adalah ayah, anak, saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka . . . Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa 'pada saat orang mencuri tak ada keimanan didalamnya'. Dalam hadits ini dapat dipahami bahwa ruh iman dan hakekat iman tidak bisa bercampur dengan kemaksiatan karena kemaksiatan adalah menentang Allah swt (tdk mematuhi perintahnya), dan menentang Allah swt tentu bermakna tidak beriman kepadanya. Oleh karenanya disaat seseorang berbuat maksiat maka pada saat itu tak ada keimanan didalamnya. Lalu siapa saja mereka yang dapat memiliki ruh iman dan hakekat iman ? Mereka yang telah memiliki akal teoritis dan akal praktis adalah mereka yang dapat meraih ruh iman dan hakekat iman. Karena melalui akal teoritis, mareka mencari kebenaran-kebenaran dan kemudian menimbang keyakinan tersebut dengan akalnya. Mereka tidak taklid buta (tanpa pertimbangan akal) dan fanatis terhadap keyakinan orang tua dan nenek moyang mereka. Sehingga dengan akal teoritisnya mereka sampai pada ilmu yakin. Setelah itu mereka masuk pada akal praktis yaitu mulai mengamalkannya. Tugas pertama yang ia lakukan yaitu mujahadah dengan hawa nafsunya atau menundukkan hawa nafsunya sehingga amal yang ia lakukan senantiasa berdasarkan dengan syariat Ilahi sehingga akhlaqnya adalah akhlaq Ilahi. Ulama kita mengatakan bahwa kesempurnaan manusia, kesempurnaan iman, dan hakekat taqwa diperoleh dengan terjalinnya hubungan dengan alam rububiyah dan tidak cinta pada makhluk, qalbunya senantiasa tertuju pada Tuhan dan hakekat kebenaran sehingga qalbunya tidak disibukkan dengan perkara-perkara selain Tuhan. Dalam memperoleh segala hal tersebut, 1) jalannya dengan mengaktualkan potensi pikir (quwwah aqilah) melalui tadabbur, kontemplasi, dan senantiasa berpikir tentang ayat-ayat Ilahi (Qur'an dan segala realitas yang ada) sehingga imannya bertambah melalui akalnya dan pengetahuannya sehingga ia tidak taklid buta. Semakin dalam manusia tafakkur pada ayat-ayat Ilahi maka rahasia2 akan dibukakan pada dirinya. Maka dirinya akan senantiasa tertarik pada perkara-perkara Ilahi. 2) jalan selanjutnya dengan mengaktualkan potensi amaliyahnya (quwwah 'aamilah) yaitu manusia senantiasa memperhatikan tujuan akhirnya yaitu mendekatkan diri kepada Allah swt karena pada akhirnya manusia akan kembali ke singgasana Ilahi. Karena itu ia lebih mendahulukan Qur'an dan syariat dalam menjalani kehidupan kesehariannya sehingga ia senantiasa berada dalam koridor shirathal mustaqim. Kesimpulannya, dalam meraih kesempurnaan Ilahi, manusia mesti mengosongkan dirinya dari sifat hewaniyah kemudian mengisi jiwanya dengan akhlak Ilahi sehingga qalbunya menjadi singgasana Ilahi sebagaimana Sabda Rasulullah saw bahwa qalbu mu'min arasy Rahman (arasy Ilahi). Juga dalam hadits Qudsi dijelaskan 'bumi dan langit tidak dapat menampung diri-Ku kecuali qalbu hambaku yang mu'min'. Mungkin ini yang dimaksud dengan istilah hikmah dalam Qur'an (surah albaqarah;269) bahwa hikmah adalah kebaikan yang melimpah ruah (khairan katsiran) yaitu mereka yang telah mengaktualkan potensi pikir dan potensi amal (quwwah aqilah dan amilah), karena qalbunya telah menjadi singgasana Ilahi. (Beriman pada yg gaib); pada pembahasan sebelumnya dijelaskan bahwa iman dan hakekat iman (bukan taklid buta) berkenaan dengan aktualisasi fakultas pikir dan amal. Aktualisasi fakultas tersebut tentu sebatas kemampuan dirinya. Maksudnya semakin dalam ia berpikir dan semakin kuat ia mengamalkannya maka imannya pun akan semakin dalam. Maka dari aktualisasi fakultas tersebut akan terlihat derajat iman atau tingkatan iman yang berbeda-beda. Ada yang sampai ilmu yaqin yaitu keyakinan dengan argumentasi, ada yg sampai pada 'ainul yaqin yaitu dengan musyahadah atau penyaksian, bahkan ada yang sampai pada haqqul yaqin yaitu sebuah bentuk penyaksian yang lebih tinggi dari 'ainul yaqin. Berdasarkan hal ini, maka yg dimaksud dengan iman terhadap gaib yaitu iman terhadap Allah swt (karena Dia absolut dan tak terbatas), dan munculnya Imam Mahdi as serta hari kiamat (karena tak ada manusia yg mengetahuinya), surga, neraka, dst. karena gaib adalah sesuatu yg tidak nampak melalui indra kita. Bahkan untuk manusia yg hidup pada saat ini, iman terhadap Rasulullah saw termasuk iman kepada yang gaib karena kita tidak menyaksikan wujud Rasulullah saw termasuk para maksumin lainnya. Karena itu iman diakhir zaman ini membutuhkan tingkat keimanan yang lebih dibandingkan dengan mereka yg bisa secara langsung menyaksikan wujud para maksumin. Iman terhadap yang gaib melazimkan amal-amal qalbu. Amal-amal qalbu yang dimaksud adalah tazkiyah (pensucian), dan tazkiyah adalah mensucikan qalbu dari dorongan-dorongan atas kebahagiaan badaniyah karena jika kebajagiaan badaniyah ini dituruti akan mencegah dalam meraih kenikmatan dan kebahagiaan lainnya. Karena kebahagiaan itu ada 3, ada kebahagiaan qalbu, kebahagiaan badan, dan kebahagiaan seputar badan. Kebahagiaan qalbu diantaranya pengetahuan-pengetahuan, aturan-aturan syariat, kesempurnaan ilmu dan amal. Kebahagiaan badaniyah diantaranya kesehatan, kekuatan, kelezatan jismani, dan syahwat. Kebahagiaan seputar badan adalah harta dan fasilitas-fasilitas. Imam Ali mengatakan 'ketahuilah, sesungguhnya sebagian dari nikmat itu adalah keluasan harta, dan keluasan harta yang paling baik adalah sehat jismani dan ketaqwaan pada qalbu'. Berdasarkan hal ini, manusia mesti menkualifikasikan yang pertama untuk meraih yg terakhir dengan zuhud dan ibadah.

Maka 'mendirikan sholat' (wa yuqimunasshalah) yaitu dengan sholat bermakna meninggalkan kesenangan badan dan menyibukkan fakultas-fakultas badan. Karena itu sholat merupakan ibu dari ibadah-ibadah karena dengan solat merupakan awal tonggak terhadap yang lainnya, sebagaimana firman Allah swt 'sesungguhnya solat itu mencegah dari perbuatan2 keji dan munkar' (al-ankabut;45). Karena solat itu dipikul oleh badan dan nafs (jiwa), dan tentu membuat keduanya tidak senang dan menderita. Karena itu selanjutnya diikuti dengan 'wa mimma razaqnahum yunfiqun' (dan menafkahkan sebagian rezeki yang telah Kami anugerahkan kpd mereka). Maksudnya, menafkahkan harta berarti manusia tdk memberikan kecintaannya pada material dimana material ini sesuatu diluar dirinya dan sesuatu yang tidak memberikan kesempurnaan ruhaniyah diakhirat kelak kecuali dinafkahkan di jalan Allah swt, karena itu, menafkahkan harta mengajarkan manusia agar manusia hidup zuhud. Zuhud itu bukan meninggalkan dunia, namun tidak cinta pada dunia. Ayat 4-5; 'dan mereka yang beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat'. 'Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka. Dan merekalah orang-orang yang beruntung'. Maksudnya dalam pembahasan sebelumnya dijelaskan bahwa hakekat iman meliputi atas 3 bagian tersebut. Kemudian hal ini melazimkan amal-amal qalbu yaitu tahliyah (mensucikan batin) sehingga qalbunya terhiasi dengan syariat-syariat dan pengetahuan-pengetahuan yg diturunkan pada kitab-kitab Ilahiyah, termasuk pengetahuan-pengetahuan yang berkenaan dengan ma'ad dan seputar ma'ad, berkenaan dengan akhirat, dan hakekat-hakekat ilmu Qudsi, karena itu pada ayat tsb dijelaskan mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat (yuqinun). Iman ini yaitu beriman kepada kitab-kitab Ilahi juga berlaku pada mereka ahli akhirat. Ahli akhirat adalah mereka yang belum melampaui batas tazkiyah (masih dalam proses tazkiyah) dan belum sampai pada tahliyah dimana tahliyah merupakan warisannya sebagaimana Maksumin mengatakan; 'barang siapa yg mengamalkan atas yang dia ketahui, niscaya Allah swt akan mewariskannya pengetahuan yg tdk ia ketahui'. Namun orang-orang muqinun (contohnya pada Nabi Ibrahim as, lihat surah al-an'am;75) adlah mereka yg telah dianugerahi hidayah dari Ilahi (hudan minrabbihim), baik thdp dirinya sendiri atau pada amalnya, karena itu merekalah orang-orang muflihun (orang2 yg beruntung). [Albaqarah;6-7]; mereka adalah orang-orang yang terpisah dari jalan sebelumnya (orang-orang beriman) yakni mereka adalah orang-orang kafir, orang-orang kafir adalah orang-orang yang tak lagi berfungsi baginya sebuah peringatan. Diberikan peringatan atau pun tidak baginya sama saja. Puncaknya adalah sampai pada pintu-pintu pengetahuan Ilahi baginya telah tertutup. Sehingga karena mereka tidak menginginkan Ilahi sehingga Allah swt menutupnya. Pintu pertama yang tertutup adalah pintu batin yaitu qalbu karena qalbu merupakan singgasana Ilahi dan juga berfungsi sebagai tempat datangnya ilham. Pintu kedua yg tertutup adalah pintu zahir yaitu pendengaran dan penglihatan karena keduanya adalah pintu pehamaman dan peng-iktibaran (abstraksi atau peristilahan-peristilahan) sehingga jalan keduanya utk sampai pada qalbu juga tertutup. Dan karena semua pintu tertutup, maka yang ia dapatkan adalah azab yg besar.

Friday, August 29, 2014

PRINSIP-PRINSIP JIWA DALAM KAJIAN SUFISTIK


a.    Beberapa tindakan yang dilakukan manusia dialam ini, akan mengaktual (mewujud) di alam akhirat. Tindakan yang dimaksud disini adalah tindakan yang telah menjadi malakah (bagian dari dirinya). Sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits bahwa dunia ini adalah ibarat ladang (tempat menanam) bagi manusia yang buahnya akan dipetik kelak (pada hari akhir). Namun sebenarnya secara malakuti akibat perbuatan tersebut telah terjadi saat ini, sebagaimana yang bisa disaksikan oleh para sufi.

b.    Ruh tidak terpisah dari badan. Ruh dialam materi dengan badan materi dan di alam barzakh dengan alam barzakh.

c.    Setelah ruh manusia melepaskan badan materinya di alam, akan segera menyatu dengan badan barzakhinya (biasanya juga disebut dengan badan mitsali) yang disertai dengan seluruh kesempurnaan dan keburukan  yang telah menjadi malakah bagi dirinya. 

d.    Ruh adalah pemelihara dan pengatur badannya dan aktifitas badannya. Oleh karena itu, badan materinya secara totalitas bergantung kepada ruh. Namun badan materi ini pada hari kiamat nanti akan menjadi saksi terhadap segala tindakan yang dilakukan oleh ruh.

e.    Manusia di alam barzakh kelak, juga memiliki persepsi, kondisi-kondisi, serta akan bertemu dengan hal-hal yang baik atau pun yang buruk. Fenomena-fenomena tersebut dipersepsi oleh ruh beserta badan barzakhinya. Contohnya sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits bahwa orang-orang mukmin ketika dikuburkan akan disambut dengan tanah dengan bahagia, namun tanah akan menyempit ketika orang-orang kafir akan dikuburkan. Kuburan yang dimaksud disini adalah kuburan barzakhi, bukan kuburan materi sebagaimana yang terlihat di pekuburan. Oleh karena itu, kubur memiliki tiga istilah; 1) kubur di alam materi sebagaimana yang kita saksikan di pekuburan. 2) kubur di alam barzakh. 3) ruh yang telah mati maka badannya akan menjadi kuburannya.
f.     Hakekat kematian adalah terpisahnya jiwa pada selain hakekat dirinya. Misalnya ketika mayat sedang diantar ke kuburan, si mayat melihat dirinya pada dua bentuk, bentuk pertama adalah ruh yang sedang berjumpa dengan malaikat, dan bentuk kedua adalah badan yang sedang diantar oleh sanak keluarganya ke kuburan.

g.    Tajassum a’mal yaitu perbuatan-perbuatan manusia di alam materi akan berbentuk di alam barzakh kelak. Bentuknya bukan bentuk badan materi akan tetapi berbentuk badan barzakhi yang sesuai dengan malakah ruh manusia.

h.    Sebagaimana dipahami bahwa alam ini dibagi menjadi tiga tingkatan; tingkatan paling atas adalah alam akal, kemudian alam mitsal (barzakh), dan selanjutnya alam materi. Ciri pada alam materi yaitu pada alam materi terdapat dimensi (3 dimensi), ada bentuk, dan juga terdapat beban (massa jenis). Pada alam mitsal tidak ada beban namun memiliki dimensi dan bentuk, sebagaimana yang kita saksikan pada alam mimpi. Sedangkan pada alam akal, tak ada bentuk, tak ada dimensi, dan tentunya tak ada massa jenis. Hubungan antara alam akal dan alam-alam selanjutnya yang ada di bawah alam akal, terhubungkan dengan relasi kausalitas. Dalam kata lain, alam akal adalah sebab bagi alam mitsal, selanjutnya alam mitsal adalah sebab bagi alam materi. Jika dipahami bahwa sebab lebih sempurna dari pada akibatnya, maka alam akal lebih sempurna dari alam mitsal dan alam mitsal lebih sempurna dari alam materi. Berdasarkan hal ini, keinginan di alam barzakh lebih sempurna dari pada keinginan di alam materi. Pada alam barzakh keinginan bersifat ‘kun fa yakun’ atau dalam kata lain, setiap manusia berkeinginan secara spontan keinginan tersebut teraktual. Namun berbeda pada alam materi, keinginan kita tidak bisa teraktual secara spontanitas karena keinginan kita di alam materi, terpisah dari realitas diri kita.

i.      Pada surah ali-imran;30 Allah swt berfirman, ‘Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebaikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara dirinya dengan hari itu ada masa yang jauh’. Berkenaan dengan ayat ini, bahwa balasan di hari akhirat kelak adalah perbuatan itu sendiri, maksudnya perbuatan itulah balasan manusia. Dalam kata lain, perbuatan manusia pada alam barzakh memiliki bentuk tertentu (bergantung pada jenis perbuatannya), bentuk itulah adalah balasan bagi dirinya.

j.      Berdasarkan pada prinsip sebelumnya, jiwa tidak mungkin berdiri sendiri tanpa ada badan, oleh karena itu dimana ada jiwa pasti ada badan. sebagaimana pada alam materi jiwa memiliki badan materi, maka pada alam ukhrawi kelak, jiwa memiliki badan ukhrawi. Badan ukhrawi yang dimaksud adalah bentuk tertentu yang dihasilkan dari perbuatan yang akan menjadi badan manusia di hari akhirat kelak.

k.    Perbandingan antara alam materi dengan alam ukhrawi bahwa pada alam ukhrawi merupakan alam hakekat kebenaran. Maksud dari hakekat kebenaran bahwa pada alam ukhrawi merupakan hakekat kehidupan sebenarnya. Sebagaimana firman Allah swt dalam surah al-ankabut;64 ‘Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main belaka. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui’. Namun hal ini tidak berarti bahwa pada alam materi juga tidak terdapat hakekat kehidupan, apalagi jika diyakini bahwa Allah swt hadir dalam segala entitas. Oleh karena itu pada alam materi pun terdapat hakekat kehidupan akan tetapi hakekat kehidupan pada alam materi hanya disaksikan oleh para sufi karena hakekatnya berada pada batin alam materi.

l.      Pada alam materi kita memiliki 5 persepsi indrawi, begitupun pada alam barzakh, manusia memiliki 5 persepsi indrawi. Biasanya disebut dengan persepsi indrawi batin. Misalnya melihat, mendengar, dan persepsi indrawi lainnya pada alam materi, persepsi tersebut juga terdapat pada alam barzakh.
Misalnya Rasulullah saw menyaksikan bentuk malaikat Jibrail as dan mendengarkan suara lonceng disaat menerima wahyu, penyaksian dan pendengaran tersebut terjadi di alam barzakh melalui persepsi indrawi batin. Berkenaan dengan mimpi, manusia menyaksikan bentuk-bentuk tertentu di alam mitsal. Namun mimpi pada hakekatnya bukan bentuk itu, karena mimpi datang melalui alam ruh, kemudian dari alam ruh turun ke qalbu, kemudian dari qalbu turun khayal (imajinasi) dari khayal selanjutnya di transfer ke ‘hissi musytarak’, ketika sampai pada hissi musytarak manusia bisa menyaksikan sesuatu. Oleh karena itu, kerja khayal adalah menkonversi makna yang datang dari qalbu menjadi bentuk tertentu sehingga makna tersebut bisa disaksikan. Misalnya ketika seseorang akan mendapatkan harta atau ilmu, makna ilmu dan harta ini, ketika dikonversi ke alam imajinasi akan berbentuk singa. Inilah yang dimaksud dengan penakwilan mimpi, yaitu dari alam bentuk dikembalikan kepada makna asalnya.

m.   Setiap manusia memiliki penyaksian sendiri-sendiri karena setiap manusia memiliki karekteristik eksistensi dirinya masing-masing. Hal ini-lah yang membuat mengapa penyaksian dan mimpi setiap orang berbeda-beda.

n.    Syafaat tidak mungkin di dapatkan tanpa adanya ketaatan, karena syafaat merupakan hasil dari ketaatan seseorang. Dalam kata lain, ketaatan adalah wadah dalam menerima syafaat, sebab jika seseorang tidak memiliki wadah dalam menerima syafaat, maka jika syafaat diberikan pun pada dirinya tidak akan bermanfaat karena wadahnya yaitu ketaatan tidak ia miliki. Karena itu ada hadits yang berbunyi bahwa tak ada syafaat bagi mereka yang meninggalkan sholat. Karena itu perlu dipahami bahwa syafaat berfungsi menyempunakan ibadah dan amal perbuatan yang belum sempurna. Misalnya sholat yang tidak memiliki batin tentu sholat yang tidak sempurna, nah fungsi syafaat disini untuk menyempurnakan sholat tersebut.

o.    Pada prinsip sebelumnya dijelaskan bahwa penyaksian para sufi dalam menyaksikan bentuk-bentuk dan kondisi-kondisi manusia yaitu berkenaan dengan sifat-sifat malakah yang dimiliki seseorang. Jadi sifat-sifat yang telah menjadi malakah yang menjadi ‘bahan dasar’ bentuk-bentuk barzakhi. Seorang sufi yang telah terbuka mata batinnya dapat menyaksikan bentuk seseorang yang sesuai dengan sifat malakah yang dimilikinya.

p.    Kenikmatan dan penderitaan yang ada di alam materi semuanya berasal dari pengaruh yang datang dari luar diri manusia. Misalnya saat kita makan dan minuman yang lezat, jiwa kita merasakan kenikmatan. Namun pada akhirat kelak, kenikmatan dan penderitaan semuanya berasal dari diri manusia itu sendiri, bukan sesuatu yang datang dari luar diri manusia.  

q.     Dari beberapa prinsip sebelumnya dapat dipahami makna ayat dalam surah nuh ; 13-14 ‘Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah’, ‘padahal Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan penciptaan’. 

r.     Dari pembahasan sebelumnya dipahami bahwa yang dimaksud dengan (maut) kematian yaitu keterpisahan jiwa dari sesuatu selain dirinya. Misalnya ketika manusia meninggal maka jiwanya akan meninggalkan badan materinya karena badannya tak lagi menjadi hakekat dirinya.

s.    Kenon-materian jiwa (nafsunnathiqah) dipahami dengan kenon-materian akal, khususnya kenon-materian barzakh pada maqam imajinal jiwa dan mitsal muttashil. Bahkan kenon-materian jiwa, bukan saja tidak terikat pada materi bahkan tidak terikat dengan suatu esensi tertentu dimana hal ini tak memiliki batasan tertentu.

t.      Berdasarkan dengan prinsip-prinsip sebelumnya, kita dapat memahami makna ayat dalam surah hud ; 46 ‘إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صالِحٍ (sesungguhnya dia adalah amal/perbuatan yang tidak soleh). Ayat ini menunjukkan bahwa balasan adalah amal itu sendiri dan amal tak lain adalah hakekat diri seseorang itu sendiri. Karena itu dalam ayat ini tidak mengatakan ‘sesungguhnya dia ‘memiliki’ perbuatan yang tidak soleh’ tapi ayat ini mengatakan ‘sesungguhnya dia adalah perbuatan yang tidak soleh’. Berdasarkan atas hal ini, setiap orang membentuk hakekat dirinya melalui persepsi-persepsinya, pemikiran-pemikirannya, perkataan-perkataannya, serta tindakan-tindakannya.

u.    Salah satu dari prinsip penting berkenaan dengan hadits mi’raj Rasulullah saw. Hadits tersebut pada hakekatnya adalah rangkaian perjalanan spiritual Rasulullah saw. Dalam mi’raj tersebut juga menjelaskan hakekat manusia yang berkenaan dengan tindakannya, kondisinya, dan perubahan-perubahan yang terjadi padanya setelah meninggalkan alam materi. Karena itu amat sangat bermanfaat jika seseorang menelaah hadits mi’raj Rasulullah saw sehingga manusia memahami bahwa selama manusia tidak memiliki perjalanan spiritual barzakhi dan juga dengan alam-alam setelahnya maka tak kan tersingkap baginya realitas hakekat-hakekat. Pemahaman dengan istilah-istilah tak kan memberikan keluasan eksistensi dan tak kan mengaktualkan potensi dalam dirinya.

v.    Prinsip lainnya yang dapat diperoleh dari persoalan-persoalan sebelumnya yaitu mengaktualkan fakultas khiyal (imajinasi) pada saat tawajjuh (mengerahkan seluruh konsentrasinya) yang mana bentuk-bentuk imajinal menjadi aktual padanya dan juga pada mitsal muttashil adalah merupakan pendahuluan agar terkoneksi dan dapat memasuki realitas intinya yaitu pada alam mitsal munfashil atau khiyal munfashil atau mitsal mutlak pada alam-alam arwah. Maksudnya seorang salik seharusnya mengerahkan segala usahanya untuk sampai pada maqam diatas bentuk-bentuk imajinal. Hal yang dianjurkan pada maqam ini agar menguatkan kehadiran dan menjaga kehadiran secara sempurna hingga sampai pada syuhud tauhid hakiki.  
 
w.   Begitu juga selanjutnya, dari alam mitsal mutlak, qalbu kembali tawajjuh pada alam yang lebih diatas yaitu alam akal dimana alam-alam tersebut merupakan gradasi dari tingkatan-tingkatan alam. Setiap tingkatan yang ada di bawah merupakan mitsal dan pancaran hakekat yang ada diatas. Dan setiap yang diatas merupakan makna dan hakekat yang ada di bawah. Karena itu jika realitas mitsal anda telah teraktual  maka anda menyaksikan dengan mitsal dan jika realitas akal anda telah teraktual maka anda menyaksikan dengan akal. Oleh karena itu, seorang arif dapat menyaksikan hakekat-hakekat bentuk dan atau mendengarkan perkataan dan atau meraih sebuah makna dari makna-makna pada qalbunya, kemudian berdasarkan perolehan itulah mereka membangun argumentasi dalam menjelaskan perolehan tersebut. Persoalan ini sebagaimana diisyaratkan dalam Qur’an dalam surah yusuf ; 105 ‘Dan alangkah banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling darinya’.

x.    Dari beberapa prinsip sebelumnya dapat disimpulkan bahwa manusia adalah hakekat tunggal yang didalam ketunggalannya terbagi ke dalam 4 tingkatan yaitu ruh, qalbu, khiyal (imajinasi), dan materi (badan). Pada tiap tingkatan tersebut berlaku hukum tertentu yang berlaku pada tingkatan tersebut. Kemudian hukum yang ada pada tingkatan diatas berlaku juga pada tingkatan dibawah. Karena itu, ‘pendengaran’ manusia adalah pendengaran yang intelek dan pendengaran yang insani. Begitu juga dengan persepsi-persepsi lainnya dan fakultas-fakultas lainnya. Apa yang ada pada tingkatan atas menunjukkan dirinya pada tingkatan bawah dengan perbandingan bahwa tingkatan atas lebih sempurna dan lebih luas. Jadi jiwa yang tunggal tersebut adalah akal dan juga qalbu dan juga imajinasi dan juga badan dan juga seluruh anggota-anggota tubuhnya, sehingga badannya (jasad) bisa disebut ruh yang ‘mutajassid’ atau ‘mutajassim’.


  


SYAIRKU; LAILA MAJNUN

Majnun ! lama tak kau sapa aku dengan munajatmu. apakah aku tak lagi hadir dihatimu,

dengan munajat apa aku harus menyapamu, sementara dirimu mendiamkan setiap kata,

dimana hati ini harus mencari, karena jejakmu tak tersentuh oleh apapun, kecuali jejak cintamu,

Majnun ! batin dari cinta adalah makrifat. tak mungkin dipahami dari setiap pertemuan, 

Majnun ! pergilah ... disini cinta dan kekasih tak terpisahkan. cinta itu hanya hijab,

Majnun ! apa itu cinta ? apakah krn keindahan wajah ini sehingga disaat wajah ini keriput cinta pun sirna !

Laila ! mengapa kau mengusirku padahal mengingatmu merenggut seluruh eksistensi diri,

Majnun ! disini tak ada dualitas, hulul dan ittihad tak punya makna. sirnalah ... kau akan temukan diriku,

ditaman bunga cinta, belum mampu seirama dengan bunga-bunga keindahannya,

Majnun ! Mengapa tak kau siram bunga cintamu dengan api kerinduan ! Bukankah setiap kata lelah menanti makna cinta,

Bukankah engkau mengagungkan indrawi ! Lalu mengapa kau mencintai ? Apakah cinta itu nampak bagimu seperti untaian ombak ! 

Majnun ! Apakah makrifat lebih dahulu dari cinta atau cinta lebih dahulu dari makrifat ! 

Majnun ! Apakah wajah Zulaikha yang meluluhkan cintamu atau keindahan makrifat Zulaikha yang merenggut eksistensimu,

Majnun ! Berlarilah padaku & bawalah hatimu namun tutup matamu sebab yang kau saksikan bukan aku,

Majnun ! Mengapa tak kau ceritakan cintamu pada yg lain ? 

Pada siapa ! Sebab yang ada hanya dirimu.

~ Karya ; Muhammad Nur Jabir

Monday, March 10, 2014

Filosofi 'Ulama Pewaris Para Nabi'

Sering kita mendengar hadis ini bahwa ulama adalah pewaris para nabi, namun kita tidak pernah memahami maksud sebenarnya dari istilah pewaris tersebut. Maksud dari pewaris para nabi adalah mereka yang memahami apa yang dibawa para nabi baik dalam pengetahuan maupun dalam akidah. Selain dari hal itu  mereka pun menyadari sifat apa saja yang dimiliki oleh para nabi serta apa yang dilakukan para nabi dalam amal-amal perbuatannya. Berdasarkan hal ini, pewaris nabi adalah mereka yang telah makrifat atas ajaran-ajaran para nabi dan sifat-sifat nabi yang menjelma dalam dirinya serta meniru amal perbuatan para nabi. Jadi perlu dipahami istilah ‘pewaris’ ini disyaratkan adanya hubungan dengan ‘yang mewariskan’. Namun meskipun maqam-maqam tersebut dapat diraih dan diperoleh dengan usaha akan tetapi tidak seperti dengan ilmu-ilmu indrawi karena ilmu-ilmu indrawi terbuka bagi semua orang. Jika maqam tersebut ingin diraih manusia mesti menjadi pewaris nabi dan menjadi ‘pewaris’ manusia mesti terhubung dengan ‘yang mewariskan’.
Disini dapat kita memahami perbedaan antara ilmu warisan dan ilmu perolehan. Dalam ilmu perolehan manusia berusaha mempersiapkan usahanya sendiri, bukan melalui relasi pada seseorang. Namun dalam ilmu warisan penyiapannya dengan relasi spiritual dengan seseorang. Karena itu ilmu warisan lebih banyak kaitannya dengan hubungan spiritual antara yang diwariskan dengan yang mewariskan. Berdasarkan hal ini jika seseorang menginginkan dirinya sebagai pewaris nabi, dirinya mesti terhubung dengan Rasulullah dan keterhubungan ini jalan satu-satunya melalui dengan proses tazkiyah atau proses mensucikan qalbu.
Perbedaan lainnya antara ilmu warisan dengan ilmu perolehan, dalam ilmu perolehan yang diraih di bangku-bangku madrasah, mungkin saja setelah memperolehnya manusia lupa akan ilmu tersebut, namun dalam ilmu warisan pengetahuan tersebut akan terus dingat dan bahkan akan menyertainya di hari kiamat kelak dan dengan ilmu tersebut akan mendapatkan syafaat. Oleh karena itu mereka yang tidak memperoleh ilmu warisan tentu tidak dapat menjadi pewaris dan pastinya tidak termasuk ke dalam ‘ulama adalah pewaris para nabi’.
Derajat Pewaris Para Nabi
Sebagaimana dipahami bahwa para nabi memiliki derajat yang berbeda-beda maka pewaris para nabi pun dengan mengikuti nabi-nabi yang ada memiliki derajat yang berbeda-beda. Hal ini dijelaskan dalam surah al-baqarah : 253 ‘rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain’ dan juga dalam surah isra : 55 ‘dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian yang lain’.
Siapa saja yang hubungannya dengan para nabi lebih kuat, tentu akan memiliki saham yang lebih banyak. Dalam persoalan ilmu warisan ini tidak ada kaitannya dengan sebelum dan setelah dalam konteks ruang dan waktu. Karena meskipun Abu Lahab berada di Hijaz dan masih ada ikatan darah dengan Rasulullah saw namun tak memperoleh pengetahuan warisan apa pun dari Rasulullah saw. Justru yang jauh seperti Bilal dari Habsyah dan Salman dari Persia yang mampu memperoleh pengetahuan dari Rasulullah saw. Dalam persoalan spiritual penekanannya lebih banyak pada persoalan tazkiyatunnafs dimana dengan tazkiyahnya dan suluknya akan menghubungkan dirinya dengan Rasulullah saw sehingga dirinya layak untuk memperoleh warisan pengetahuan dari Rasulullah saw.
Mendapatkan warisan pengetahuan dari nabi tidak ada kaitannya dengan hubungan nasab dan juga golongan. Manusia adalah anak dari pikiran-pikiran dan akidahnya. Manusia Ilahiyah adalah anak dari realitas kehambaan dirinya kepada Allah swt. Relasi antara tauhid dan kehambaan ini akan menghasilkan dasar warisan.
Disisi lain perlu juga dipahami bahwa para nabi disebut sebagai pendidik dan pengajar manusia. Berkenaan dengan Rasulullah saw, Allah swt dalam surah al-baqarah : 151 berfirman, ‘... dan mengajarkan kepadamu kitab dan hikmah’. Dalam Quran menggunakan istilah mu’allim dan makna dari mu’allim bukan hanya mengajar tapi juga mendidik. Dalam kata lain, ilmu tidak bisa ditransfer hanya dengan kata-kata. Maksudnya selama seseorang belum yakin atas dirinya serta mengamalkannya maka dirinya tak kan mungkin menjadi mu’alim bagi yang lain. Perkataan yang tak muncul dari hati, tak kan diterima pula oleh hati. Oleh karena perkataan hati sesuai dengan hati pendengarnya dan juga diletakkan pada tempat yang sesuai.
Para nabi berbicara dari jiwa dan perkataannya seperti perkataan manusia yang mengalami secara langsung sehingga memberikan efek. Karena boleh jadi ada orang yang memberikan pelajaran dan pilihan diksi yang digunakannya indah namun tidak memberikan efek pada yang lain. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Imam Sodiq, ‘seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, maka pesan-pesannya tergelincir dan tidak tertanam di hati’. Namun para petuah agama yang tekun dengan amal dapat mempengaruhi para pendengarnya karena pembicaraannya berasal dari rintihan jiwanya. Selama manusia tidak merasakan derita tersebut maka perkataannya sangat sulit untuk memberikan pengaruh pada yang lain. Mengapa para nabi senantiasa bersyukur kepada Allah swt dikarenakan para nabi senantiasa melihat dan menyaksikan nikmat-nikmat Ilahi secara terus menerus. Para nabi menyaksikan bagaimana nikmat itu berasal dari Allah swt hingga sampai pada dirinya dan pada makhluk-makhluk lainnya. Pengalaman para nabi inilah yang kemudian terbahasakan dalam bahasa yang indah dan memiliki tingkat balaghah yang tinggi dan tentunya dapat mempengaruhi yang lain.
Manusia di dunia ini ibarat bumi yang kering yang senantiasa membutuhkan siraman air sehingga dahaganya dapat terpenuhi. Manusia yang dahaga membutuhkan hubungan dengan Tuhan sehingga pancaran emanasi turun dari realitas eksistensinya dan manusia meneguknya dan mencerapnya secara perlahan-lahan sehingga dirinya senantiasa mengalami perkembangan dan penyempurnaan. Manusia pesuluk yang tidak menyaksikan dan merasakan secara langsung hakekat tersebut tentu umur dan kehidupun yang dijalaninya tak memberikan hasil. Menarik salah satu perkataan dari Syekh Isyraq, ‘sebagian umurku aku jalani dalam petualangan, namun sangat disayangkan tak serang pun  yang saya temui yang ahli syuhud. Kegaiban itu apakah disaksikan atau manusia beriman padanya. Yang populer dalam tatanan masyarakat dan dalam pusat-pusat ilmu ialah tentang ilmu hushuli yang diperoleh dengan argumentasi namun sangat jarang ilmu syuhudi yang diperoleh dengan tazkiyah dan dibawah naungan pengetahuan-pengetahuan Ilahi’.
Dalam Quran setelah menjelaskan sifat-sifat yang sama diantara para nabi, selanjutnya menyampaikan kepada kita semua bahwa para nabi adalah orang-orang yang telah sampai pada tujuan sehingga mereka juga mengambil peran sebagai imam-imam bagi kalian. Oleh karenanya mereka yang di dunia ini tidak mengetahui kenabian, setelah proses kematian mereka akan mengenal pengetahuan tersebut dengan pahit. Karena itu sebaiknya sebelum kita dipaksa untuk bangkit dan sadar, kita sadarkan diri kita.
Inilah salah satu fungsinya mengapa kita mesti mengenal sirah para nabi dan orang-orang soleh karena mengenal mereka dapat menenangkan hati kita. Karena itu Allah swt berfirman kepada Rasulullah saw, kami nukilkan kisah-kisah para nabi terdahulu untuk mengukuhkan hatimu. Dalam surah arr’ad : 28 Allah swt berfirman, ‘Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram’. Selain hal ini, Allah swt juga mengingatkan dan mengajarkan kepada manusia untuk mengingat sirah para nabi agar hati pun menjadi tentram dan teguh. Dalam surah  hud : 120 Allah swt berfirman, ‘Dan Kami menceritakan kepadamu setiap kisah dari kisah-kisah para rasul, kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam kisah-kisah ini telah datang kepadamu kebenaran serta nasihat dan peringatan bagi orang-orang yang beriman’. Hal ini menunjukkan bahwa mengingat sirah para nabi akan  membuat kita menjadi tentram dan teguh, oleh karena mereka adalah manifestasi-manifestasi Ilahi sehingga mengingat para nabi sekaligus mengingat Allah swt. Dalam surah ali imran : 137 Allah swt berfirman, ‘Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (para rasul)’. Lagi-lagi Allah swt mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengingat ummat terdahulu dan memetik pelajaran dari mereka. Tentu faedah dalam memetik hikmah dari para nabi agar dapat melihat akibat dari orang-orang buruk sehingga kita tidak ikut melakukan apa yang telah mereka lakukan dengan mendustakan para nabi dan rasul.