Friday, August 29, 2014

PRINSIP-PRINSIP JIWA DALAM KAJIAN SUFISTIK


a.    Beberapa tindakan yang dilakukan manusia dialam ini, akan mengaktual (mewujud) di alam akhirat. Tindakan yang dimaksud disini adalah tindakan yang telah menjadi malakah (bagian dari dirinya). Sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits bahwa dunia ini adalah ibarat ladang (tempat menanam) bagi manusia yang buahnya akan dipetik kelak (pada hari akhir). Namun sebenarnya secara malakuti akibat perbuatan tersebut telah terjadi saat ini, sebagaimana yang bisa disaksikan oleh para sufi.

b.    Ruh tidak terpisah dari badan. Ruh dialam materi dengan badan materi dan di alam barzakh dengan alam barzakh.

c.    Setelah ruh manusia melepaskan badan materinya di alam, akan segera menyatu dengan badan barzakhinya (biasanya juga disebut dengan badan mitsali) yang disertai dengan seluruh kesempurnaan dan keburukan  yang telah menjadi malakah bagi dirinya. 

d.    Ruh adalah pemelihara dan pengatur badannya dan aktifitas badannya. Oleh karena itu, badan materinya secara totalitas bergantung kepada ruh. Namun badan materi ini pada hari kiamat nanti akan menjadi saksi terhadap segala tindakan yang dilakukan oleh ruh.

e.    Manusia di alam barzakh kelak, juga memiliki persepsi, kondisi-kondisi, serta akan bertemu dengan hal-hal yang baik atau pun yang buruk. Fenomena-fenomena tersebut dipersepsi oleh ruh beserta badan barzakhinya. Contohnya sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits bahwa orang-orang mukmin ketika dikuburkan akan disambut dengan tanah dengan bahagia, namun tanah akan menyempit ketika orang-orang kafir akan dikuburkan. Kuburan yang dimaksud disini adalah kuburan barzakhi, bukan kuburan materi sebagaimana yang terlihat di pekuburan. Oleh karena itu, kubur memiliki tiga istilah; 1) kubur di alam materi sebagaimana yang kita saksikan di pekuburan. 2) kubur di alam barzakh. 3) ruh yang telah mati maka badannya akan menjadi kuburannya.
f.     Hakekat kematian adalah terpisahnya jiwa pada selain hakekat dirinya. Misalnya ketika mayat sedang diantar ke kuburan, si mayat melihat dirinya pada dua bentuk, bentuk pertama adalah ruh yang sedang berjumpa dengan malaikat, dan bentuk kedua adalah badan yang sedang diantar oleh sanak keluarganya ke kuburan.

g.    Tajassum a’mal yaitu perbuatan-perbuatan manusia di alam materi akan berbentuk di alam barzakh kelak. Bentuknya bukan bentuk badan materi akan tetapi berbentuk badan barzakhi yang sesuai dengan malakah ruh manusia.

h.    Sebagaimana dipahami bahwa alam ini dibagi menjadi tiga tingkatan; tingkatan paling atas adalah alam akal, kemudian alam mitsal (barzakh), dan selanjutnya alam materi. Ciri pada alam materi yaitu pada alam materi terdapat dimensi (3 dimensi), ada bentuk, dan juga terdapat beban (massa jenis). Pada alam mitsal tidak ada beban namun memiliki dimensi dan bentuk, sebagaimana yang kita saksikan pada alam mimpi. Sedangkan pada alam akal, tak ada bentuk, tak ada dimensi, dan tentunya tak ada massa jenis. Hubungan antara alam akal dan alam-alam selanjutnya yang ada di bawah alam akal, terhubungkan dengan relasi kausalitas. Dalam kata lain, alam akal adalah sebab bagi alam mitsal, selanjutnya alam mitsal adalah sebab bagi alam materi. Jika dipahami bahwa sebab lebih sempurna dari pada akibatnya, maka alam akal lebih sempurna dari alam mitsal dan alam mitsal lebih sempurna dari alam materi. Berdasarkan hal ini, keinginan di alam barzakh lebih sempurna dari pada keinginan di alam materi. Pada alam barzakh keinginan bersifat ‘kun fa yakun’ atau dalam kata lain, setiap manusia berkeinginan secara spontan keinginan tersebut teraktual. Namun berbeda pada alam materi, keinginan kita tidak bisa teraktual secara spontanitas karena keinginan kita di alam materi, terpisah dari realitas diri kita.

i.      Pada surah ali-imran;30 Allah swt berfirman, ‘Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebaikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara dirinya dengan hari itu ada masa yang jauh’. Berkenaan dengan ayat ini, bahwa balasan di hari akhirat kelak adalah perbuatan itu sendiri, maksudnya perbuatan itulah balasan manusia. Dalam kata lain, perbuatan manusia pada alam barzakh memiliki bentuk tertentu (bergantung pada jenis perbuatannya), bentuk itulah adalah balasan bagi dirinya.

j.      Berdasarkan pada prinsip sebelumnya, jiwa tidak mungkin berdiri sendiri tanpa ada badan, oleh karena itu dimana ada jiwa pasti ada badan. sebagaimana pada alam materi jiwa memiliki badan materi, maka pada alam ukhrawi kelak, jiwa memiliki badan ukhrawi. Badan ukhrawi yang dimaksud adalah bentuk tertentu yang dihasilkan dari perbuatan yang akan menjadi badan manusia di hari akhirat kelak.

k.    Perbandingan antara alam materi dengan alam ukhrawi bahwa pada alam ukhrawi merupakan alam hakekat kebenaran. Maksud dari hakekat kebenaran bahwa pada alam ukhrawi merupakan hakekat kehidupan sebenarnya. Sebagaimana firman Allah swt dalam surah al-ankabut;64 ‘Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main belaka. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui’. Namun hal ini tidak berarti bahwa pada alam materi juga tidak terdapat hakekat kehidupan, apalagi jika diyakini bahwa Allah swt hadir dalam segala entitas. Oleh karena itu pada alam materi pun terdapat hakekat kehidupan akan tetapi hakekat kehidupan pada alam materi hanya disaksikan oleh para sufi karena hakekatnya berada pada batin alam materi.

l.      Pada alam materi kita memiliki 5 persepsi indrawi, begitupun pada alam barzakh, manusia memiliki 5 persepsi indrawi. Biasanya disebut dengan persepsi indrawi batin. Misalnya melihat, mendengar, dan persepsi indrawi lainnya pada alam materi, persepsi tersebut juga terdapat pada alam barzakh.
Misalnya Rasulullah saw menyaksikan bentuk malaikat Jibrail as dan mendengarkan suara lonceng disaat menerima wahyu, penyaksian dan pendengaran tersebut terjadi di alam barzakh melalui persepsi indrawi batin. Berkenaan dengan mimpi, manusia menyaksikan bentuk-bentuk tertentu di alam mitsal. Namun mimpi pada hakekatnya bukan bentuk itu, karena mimpi datang melalui alam ruh, kemudian dari alam ruh turun ke qalbu, kemudian dari qalbu turun khayal (imajinasi) dari khayal selanjutnya di transfer ke ‘hissi musytarak’, ketika sampai pada hissi musytarak manusia bisa menyaksikan sesuatu. Oleh karena itu, kerja khayal adalah menkonversi makna yang datang dari qalbu menjadi bentuk tertentu sehingga makna tersebut bisa disaksikan. Misalnya ketika seseorang akan mendapatkan harta atau ilmu, makna ilmu dan harta ini, ketika dikonversi ke alam imajinasi akan berbentuk singa. Inilah yang dimaksud dengan penakwilan mimpi, yaitu dari alam bentuk dikembalikan kepada makna asalnya.

m.   Setiap manusia memiliki penyaksian sendiri-sendiri karena setiap manusia memiliki karekteristik eksistensi dirinya masing-masing. Hal ini-lah yang membuat mengapa penyaksian dan mimpi setiap orang berbeda-beda.

n.    Syafaat tidak mungkin di dapatkan tanpa adanya ketaatan, karena syafaat merupakan hasil dari ketaatan seseorang. Dalam kata lain, ketaatan adalah wadah dalam menerima syafaat, sebab jika seseorang tidak memiliki wadah dalam menerima syafaat, maka jika syafaat diberikan pun pada dirinya tidak akan bermanfaat karena wadahnya yaitu ketaatan tidak ia miliki. Karena itu ada hadits yang berbunyi bahwa tak ada syafaat bagi mereka yang meninggalkan sholat. Karena itu perlu dipahami bahwa syafaat berfungsi menyempunakan ibadah dan amal perbuatan yang belum sempurna. Misalnya sholat yang tidak memiliki batin tentu sholat yang tidak sempurna, nah fungsi syafaat disini untuk menyempurnakan sholat tersebut.

o.    Pada prinsip sebelumnya dijelaskan bahwa penyaksian para sufi dalam menyaksikan bentuk-bentuk dan kondisi-kondisi manusia yaitu berkenaan dengan sifat-sifat malakah yang dimiliki seseorang. Jadi sifat-sifat yang telah menjadi malakah yang menjadi ‘bahan dasar’ bentuk-bentuk barzakhi. Seorang sufi yang telah terbuka mata batinnya dapat menyaksikan bentuk seseorang yang sesuai dengan sifat malakah yang dimilikinya.

p.    Kenikmatan dan penderitaan yang ada di alam materi semuanya berasal dari pengaruh yang datang dari luar diri manusia. Misalnya saat kita makan dan minuman yang lezat, jiwa kita merasakan kenikmatan. Namun pada akhirat kelak, kenikmatan dan penderitaan semuanya berasal dari diri manusia itu sendiri, bukan sesuatu yang datang dari luar diri manusia.  

q.     Dari beberapa prinsip sebelumnya dapat dipahami makna ayat dalam surah nuh ; 13-14 ‘Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah’, ‘padahal Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan penciptaan’. 

r.     Dari pembahasan sebelumnya dipahami bahwa yang dimaksud dengan (maut) kematian yaitu keterpisahan jiwa dari sesuatu selain dirinya. Misalnya ketika manusia meninggal maka jiwanya akan meninggalkan badan materinya karena badannya tak lagi menjadi hakekat dirinya.

s.    Kenon-materian jiwa (nafsunnathiqah) dipahami dengan kenon-materian akal, khususnya kenon-materian barzakh pada maqam imajinal jiwa dan mitsal muttashil. Bahkan kenon-materian jiwa, bukan saja tidak terikat pada materi bahkan tidak terikat dengan suatu esensi tertentu dimana hal ini tak memiliki batasan tertentu.

t.      Berdasarkan dengan prinsip-prinsip sebelumnya, kita dapat memahami makna ayat dalam surah hud ; 46 ‘إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صالِحٍ (sesungguhnya dia adalah amal/perbuatan yang tidak soleh). Ayat ini menunjukkan bahwa balasan adalah amal itu sendiri dan amal tak lain adalah hakekat diri seseorang itu sendiri. Karena itu dalam ayat ini tidak mengatakan ‘sesungguhnya dia ‘memiliki’ perbuatan yang tidak soleh’ tapi ayat ini mengatakan ‘sesungguhnya dia adalah perbuatan yang tidak soleh’. Berdasarkan atas hal ini, setiap orang membentuk hakekat dirinya melalui persepsi-persepsinya, pemikiran-pemikirannya, perkataan-perkataannya, serta tindakan-tindakannya.

u.    Salah satu dari prinsip penting berkenaan dengan hadits mi’raj Rasulullah saw. Hadits tersebut pada hakekatnya adalah rangkaian perjalanan spiritual Rasulullah saw. Dalam mi’raj tersebut juga menjelaskan hakekat manusia yang berkenaan dengan tindakannya, kondisinya, dan perubahan-perubahan yang terjadi padanya setelah meninggalkan alam materi. Karena itu amat sangat bermanfaat jika seseorang menelaah hadits mi’raj Rasulullah saw sehingga manusia memahami bahwa selama manusia tidak memiliki perjalanan spiritual barzakhi dan juga dengan alam-alam setelahnya maka tak kan tersingkap baginya realitas hakekat-hakekat. Pemahaman dengan istilah-istilah tak kan memberikan keluasan eksistensi dan tak kan mengaktualkan potensi dalam dirinya.

v.    Prinsip lainnya yang dapat diperoleh dari persoalan-persoalan sebelumnya yaitu mengaktualkan fakultas khiyal (imajinasi) pada saat tawajjuh (mengerahkan seluruh konsentrasinya) yang mana bentuk-bentuk imajinal menjadi aktual padanya dan juga pada mitsal muttashil adalah merupakan pendahuluan agar terkoneksi dan dapat memasuki realitas intinya yaitu pada alam mitsal munfashil atau khiyal munfashil atau mitsal mutlak pada alam-alam arwah. Maksudnya seorang salik seharusnya mengerahkan segala usahanya untuk sampai pada maqam diatas bentuk-bentuk imajinal. Hal yang dianjurkan pada maqam ini agar menguatkan kehadiran dan menjaga kehadiran secara sempurna hingga sampai pada syuhud tauhid hakiki.  
 
w.   Begitu juga selanjutnya, dari alam mitsal mutlak, qalbu kembali tawajjuh pada alam yang lebih diatas yaitu alam akal dimana alam-alam tersebut merupakan gradasi dari tingkatan-tingkatan alam. Setiap tingkatan yang ada di bawah merupakan mitsal dan pancaran hakekat yang ada diatas. Dan setiap yang diatas merupakan makna dan hakekat yang ada di bawah. Karena itu jika realitas mitsal anda telah teraktual  maka anda menyaksikan dengan mitsal dan jika realitas akal anda telah teraktual maka anda menyaksikan dengan akal. Oleh karena itu, seorang arif dapat menyaksikan hakekat-hakekat bentuk dan atau mendengarkan perkataan dan atau meraih sebuah makna dari makna-makna pada qalbunya, kemudian berdasarkan perolehan itulah mereka membangun argumentasi dalam menjelaskan perolehan tersebut. Persoalan ini sebagaimana diisyaratkan dalam Qur’an dalam surah yusuf ; 105 ‘Dan alangkah banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling darinya’.

x.    Dari beberapa prinsip sebelumnya dapat disimpulkan bahwa manusia adalah hakekat tunggal yang didalam ketunggalannya terbagi ke dalam 4 tingkatan yaitu ruh, qalbu, khiyal (imajinasi), dan materi (badan). Pada tiap tingkatan tersebut berlaku hukum tertentu yang berlaku pada tingkatan tersebut. Kemudian hukum yang ada pada tingkatan diatas berlaku juga pada tingkatan dibawah. Karena itu, ‘pendengaran’ manusia adalah pendengaran yang intelek dan pendengaran yang insani. Begitu juga dengan persepsi-persepsi lainnya dan fakultas-fakultas lainnya. Apa yang ada pada tingkatan atas menunjukkan dirinya pada tingkatan bawah dengan perbandingan bahwa tingkatan atas lebih sempurna dan lebih luas. Jadi jiwa yang tunggal tersebut adalah akal dan juga qalbu dan juga imajinasi dan juga badan dan juga seluruh anggota-anggota tubuhnya, sehingga badannya (jasad) bisa disebut ruh yang ‘mutajassid’ atau ‘mutajassim’.


  


Comments
0 Comments

0 comments: