Monday, March 10, 2014

Filosofi 'Ulama Pewaris Para Nabi'

Sering kita mendengar hadis ini bahwa ulama adalah pewaris para nabi, namun kita tidak pernah memahami maksud sebenarnya dari istilah pewaris tersebut. Maksud dari pewaris para nabi adalah mereka yang memahami apa yang dibawa para nabi baik dalam pengetahuan maupun dalam akidah. Selain dari hal itu  mereka pun menyadari sifat apa saja yang dimiliki oleh para nabi serta apa yang dilakukan para nabi dalam amal-amal perbuatannya. Berdasarkan hal ini, pewaris nabi adalah mereka yang telah makrifat atas ajaran-ajaran para nabi dan sifat-sifat nabi yang menjelma dalam dirinya serta meniru amal perbuatan para nabi. Jadi perlu dipahami istilah ‘pewaris’ ini disyaratkan adanya hubungan dengan ‘yang mewariskan’. Namun meskipun maqam-maqam tersebut dapat diraih dan diperoleh dengan usaha akan tetapi tidak seperti dengan ilmu-ilmu indrawi karena ilmu-ilmu indrawi terbuka bagi semua orang. Jika maqam tersebut ingin diraih manusia mesti menjadi pewaris nabi dan menjadi ‘pewaris’ manusia mesti terhubung dengan ‘yang mewariskan’.
Disini dapat kita memahami perbedaan antara ilmu warisan dan ilmu perolehan. Dalam ilmu perolehan manusia berusaha mempersiapkan usahanya sendiri, bukan melalui relasi pada seseorang. Namun dalam ilmu warisan penyiapannya dengan relasi spiritual dengan seseorang. Karena itu ilmu warisan lebih banyak kaitannya dengan hubungan spiritual antara yang diwariskan dengan yang mewariskan. Berdasarkan hal ini jika seseorang menginginkan dirinya sebagai pewaris nabi, dirinya mesti terhubung dengan Rasulullah dan keterhubungan ini jalan satu-satunya melalui dengan proses tazkiyah atau proses mensucikan qalbu.
Perbedaan lainnya antara ilmu warisan dengan ilmu perolehan, dalam ilmu perolehan yang diraih di bangku-bangku madrasah, mungkin saja setelah memperolehnya manusia lupa akan ilmu tersebut, namun dalam ilmu warisan pengetahuan tersebut akan terus dingat dan bahkan akan menyertainya di hari kiamat kelak dan dengan ilmu tersebut akan mendapatkan syafaat. Oleh karena itu mereka yang tidak memperoleh ilmu warisan tentu tidak dapat menjadi pewaris dan pastinya tidak termasuk ke dalam ‘ulama adalah pewaris para nabi’.
Derajat Pewaris Para Nabi
Sebagaimana dipahami bahwa para nabi memiliki derajat yang berbeda-beda maka pewaris para nabi pun dengan mengikuti nabi-nabi yang ada memiliki derajat yang berbeda-beda. Hal ini dijelaskan dalam surah al-baqarah : 253 ‘rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain’ dan juga dalam surah isra : 55 ‘dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian yang lain’.
Siapa saja yang hubungannya dengan para nabi lebih kuat, tentu akan memiliki saham yang lebih banyak. Dalam persoalan ilmu warisan ini tidak ada kaitannya dengan sebelum dan setelah dalam konteks ruang dan waktu. Karena meskipun Abu Lahab berada di Hijaz dan masih ada ikatan darah dengan Rasulullah saw namun tak memperoleh pengetahuan warisan apa pun dari Rasulullah saw. Justru yang jauh seperti Bilal dari Habsyah dan Salman dari Persia yang mampu memperoleh pengetahuan dari Rasulullah saw. Dalam persoalan spiritual penekanannya lebih banyak pada persoalan tazkiyatunnafs dimana dengan tazkiyahnya dan suluknya akan menghubungkan dirinya dengan Rasulullah saw sehingga dirinya layak untuk memperoleh warisan pengetahuan dari Rasulullah saw.
Mendapatkan warisan pengetahuan dari nabi tidak ada kaitannya dengan hubungan nasab dan juga golongan. Manusia adalah anak dari pikiran-pikiran dan akidahnya. Manusia Ilahiyah adalah anak dari realitas kehambaan dirinya kepada Allah swt. Relasi antara tauhid dan kehambaan ini akan menghasilkan dasar warisan.
Disisi lain perlu juga dipahami bahwa para nabi disebut sebagai pendidik dan pengajar manusia. Berkenaan dengan Rasulullah saw, Allah swt dalam surah al-baqarah : 151 berfirman, ‘... dan mengajarkan kepadamu kitab dan hikmah’. Dalam Quran menggunakan istilah mu’allim dan makna dari mu’allim bukan hanya mengajar tapi juga mendidik. Dalam kata lain, ilmu tidak bisa ditransfer hanya dengan kata-kata. Maksudnya selama seseorang belum yakin atas dirinya serta mengamalkannya maka dirinya tak kan mungkin menjadi mu’alim bagi yang lain. Perkataan yang tak muncul dari hati, tak kan diterima pula oleh hati. Oleh karena perkataan hati sesuai dengan hati pendengarnya dan juga diletakkan pada tempat yang sesuai.
Para nabi berbicara dari jiwa dan perkataannya seperti perkataan manusia yang mengalami secara langsung sehingga memberikan efek. Karena boleh jadi ada orang yang memberikan pelajaran dan pilihan diksi yang digunakannya indah namun tidak memberikan efek pada yang lain. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Imam Sodiq, ‘seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, maka pesan-pesannya tergelincir dan tidak tertanam di hati’. Namun para petuah agama yang tekun dengan amal dapat mempengaruhi para pendengarnya karena pembicaraannya berasal dari rintihan jiwanya. Selama manusia tidak merasakan derita tersebut maka perkataannya sangat sulit untuk memberikan pengaruh pada yang lain. Mengapa para nabi senantiasa bersyukur kepada Allah swt dikarenakan para nabi senantiasa melihat dan menyaksikan nikmat-nikmat Ilahi secara terus menerus. Para nabi menyaksikan bagaimana nikmat itu berasal dari Allah swt hingga sampai pada dirinya dan pada makhluk-makhluk lainnya. Pengalaman para nabi inilah yang kemudian terbahasakan dalam bahasa yang indah dan memiliki tingkat balaghah yang tinggi dan tentunya dapat mempengaruhi yang lain.
Manusia di dunia ini ibarat bumi yang kering yang senantiasa membutuhkan siraman air sehingga dahaganya dapat terpenuhi. Manusia yang dahaga membutuhkan hubungan dengan Tuhan sehingga pancaran emanasi turun dari realitas eksistensinya dan manusia meneguknya dan mencerapnya secara perlahan-lahan sehingga dirinya senantiasa mengalami perkembangan dan penyempurnaan. Manusia pesuluk yang tidak menyaksikan dan merasakan secara langsung hakekat tersebut tentu umur dan kehidupun yang dijalaninya tak memberikan hasil. Menarik salah satu perkataan dari Syekh Isyraq, ‘sebagian umurku aku jalani dalam petualangan, namun sangat disayangkan tak serang pun  yang saya temui yang ahli syuhud. Kegaiban itu apakah disaksikan atau manusia beriman padanya. Yang populer dalam tatanan masyarakat dan dalam pusat-pusat ilmu ialah tentang ilmu hushuli yang diperoleh dengan argumentasi namun sangat jarang ilmu syuhudi yang diperoleh dengan tazkiyah dan dibawah naungan pengetahuan-pengetahuan Ilahi’.
Dalam Quran setelah menjelaskan sifat-sifat yang sama diantara para nabi, selanjutnya menyampaikan kepada kita semua bahwa para nabi adalah orang-orang yang telah sampai pada tujuan sehingga mereka juga mengambil peran sebagai imam-imam bagi kalian. Oleh karenanya mereka yang di dunia ini tidak mengetahui kenabian, setelah proses kematian mereka akan mengenal pengetahuan tersebut dengan pahit. Karena itu sebaiknya sebelum kita dipaksa untuk bangkit dan sadar, kita sadarkan diri kita.
Inilah salah satu fungsinya mengapa kita mesti mengenal sirah para nabi dan orang-orang soleh karena mengenal mereka dapat menenangkan hati kita. Karena itu Allah swt berfirman kepada Rasulullah saw, kami nukilkan kisah-kisah para nabi terdahulu untuk mengukuhkan hatimu. Dalam surah arr’ad : 28 Allah swt berfirman, ‘Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram’. Selain hal ini, Allah swt juga mengingatkan dan mengajarkan kepada manusia untuk mengingat sirah para nabi agar hati pun menjadi tentram dan teguh. Dalam surah  hud : 120 Allah swt berfirman, ‘Dan Kami menceritakan kepadamu setiap kisah dari kisah-kisah para rasul, kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam kisah-kisah ini telah datang kepadamu kebenaran serta nasihat dan peringatan bagi orang-orang yang beriman’. Hal ini menunjukkan bahwa mengingat sirah para nabi akan  membuat kita menjadi tentram dan teguh, oleh karena mereka adalah manifestasi-manifestasi Ilahi sehingga mengingat para nabi sekaligus mengingat Allah swt. Dalam surah ali imran : 137 Allah swt berfirman, ‘Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (para rasul)’. Lagi-lagi Allah swt mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengingat ummat terdahulu dan memetik pelajaran dari mereka. Tentu faedah dalam memetik hikmah dari para nabi agar dapat melihat akibat dari orang-orang buruk sehingga kita tidak ikut melakukan apa yang telah mereka lakukan dengan mendustakan para nabi dan rasul.      
     


          
Comments
0 Comments

0 comments: