Friday, August 29, 2014

PRINSIP-PRINSIP JIWA DALAM KAJIAN SUFISTIK


a.    Beberapa tindakan yang dilakukan manusia dialam ini, akan mengaktual (mewujud) di alam akhirat. Tindakan yang dimaksud disini adalah tindakan yang telah menjadi malakah (bagian dari dirinya). Sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits bahwa dunia ini adalah ibarat ladang (tempat menanam) bagi manusia yang buahnya akan dipetik kelak (pada hari akhir). Namun sebenarnya secara malakuti akibat perbuatan tersebut telah terjadi saat ini, sebagaimana yang bisa disaksikan oleh para sufi.

b.    Ruh tidak terpisah dari badan. Ruh dialam materi dengan badan materi dan di alam barzakh dengan alam barzakh.

c.    Setelah ruh manusia melepaskan badan materinya di alam, akan segera menyatu dengan badan barzakhinya (biasanya juga disebut dengan badan mitsali) yang disertai dengan seluruh kesempurnaan dan keburukan  yang telah menjadi malakah bagi dirinya. 

d.    Ruh adalah pemelihara dan pengatur badannya dan aktifitas badannya. Oleh karena itu, badan materinya secara totalitas bergantung kepada ruh. Namun badan materi ini pada hari kiamat nanti akan menjadi saksi terhadap segala tindakan yang dilakukan oleh ruh.

e.    Manusia di alam barzakh kelak, juga memiliki persepsi, kondisi-kondisi, serta akan bertemu dengan hal-hal yang baik atau pun yang buruk. Fenomena-fenomena tersebut dipersepsi oleh ruh beserta badan barzakhinya. Contohnya sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits bahwa orang-orang mukmin ketika dikuburkan akan disambut dengan tanah dengan bahagia, namun tanah akan menyempit ketika orang-orang kafir akan dikuburkan. Kuburan yang dimaksud disini adalah kuburan barzakhi, bukan kuburan materi sebagaimana yang terlihat di pekuburan. Oleh karena itu, kubur memiliki tiga istilah; 1) kubur di alam materi sebagaimana yang kita saksikan di pekuburan. 2) kubur di alam barzakh. 3) ruh yang telah mati maka badannya akan menjadi kuburannya.
f.     Hakekat kematian adalah terpisahnya jiwa pada selain hakekat dirinya. Misalnya ketika mayat sedang diantar ke kuburan, si mayat melihat dirinya pada dua bentuk, bentuk pertama adalah ruh yang sedang berjumpa dengan malaikat, dan bentuk kedua adalah badan yang sedang diantar oleh sanak keluarganya ke kuburan.

g.    Tajassum a’mal yaitu perbuatan-perbuatan manusia di alam materi akan berbentuk di alam barzakh kelak. Bentuknya bukan bentuk badan materi akan tetapi berbentuk badan barzakhi yang sesuai dengan malakah ruh manusia.

h.    Sebagaimana dipahami bahwa alam ini dibagi menjadi tiga tingkatan; tingkatan paling atas adalah alam akal, kemudian alam mitsal (barzakh), dan selanjutnya alam materi. Ciri pada alam materi yaitu pada alam materi terdapat dimensi (3 dimensi), ada bentuk, dan juga terdapat beban (massa jenis). Pada alam mitsal tidak ada beban namun memiliki dimensi dan bentuk, sebagaimana yang kita saksikan pada alam mimpi. Sedangkan pada alam akal, tak ada bentuk, tak ada dimensi, dan tentunya tak ada massa jenis. Hubungan antara alam akal dan alam-alam selanjutnya yang ada di bawah alam akal, terhubungkan dengan relasi kausalitas. Dalam kata lain, alam akal adalah sebab bagi alam mitsal, selanjutnya alam mitsal adalah sebab bagi alam materi. Jika dipahami bahwa sebab lebih sempurna dari pada akibatnya, maka alam akal lebih sempurna dari alam mitsal dan alam mitsal lebih sempurna dari alam materi. Berdasarkan hal ini, keinginan di alam barzakh lebih sempurna dari pada keinginan di alam materi. Pada alam barzakh keinginan bersifat ‘kun fa yakun’ atau dalam kata lain, setiap manusia berkeinginan secara spontan keinginan tersebut teraktual. Namun berbeda pada alam materi, keinginan kita tidak bisa teraktual secara spontanitas karena keinginan kita di alam materi, terpisah dari realitas diri kita.

i.      Pada surah ali-imran;30 Allah swt berfirman, ‘Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebaikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara dirinya dengan hari itu ada masa yang jauh’. Berkenaan dengan ayat ini, bahwa balasan di hari akhirat kelak adalah perbuatan itu sendiri, maksudnya perbuatan itulah balasan manusia. Dalam kata lain, perbuatan manusia pada alam barzakh memiliki bentuk tertentu (bergantung pada jenis perbuatannya), bentuk itulah adalah balasan bagi dirinya.

j.      Berdasarkan pada prinsip sebelumnya, jiwa tidak mungkin berdiri sendiri tanpa ada badan, oleh karena itu dimana ada jiwa pasti ada badan. sebagaimana pada alam materi jiwa memiliki badan materi, maka pada alam ukhrawi kelak, jiwa memiliki badan ukhrawi. Badan ukhrawi yang dimaksud adalah bentuk tertentu yang dihasilkan dari perbuatan yang akan menjadi badan manusia di hari akhirat kelak.

k.    Perbandingan antara alam materi dengan alam ukhrawi bahwa pada alam ukhrawi merupakan alam hakekat kebenaran. Maksud dari hakekat kebenaran bahwa pada alam ukhrawi merupakan hakekat kehidupan sebenarnya. Sebagaimana firman Allah swt dalam surah al-ankabut;64 ‘Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main belaka. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui’. Namun hal ini tidak berarti bahwa pada alam materi juga tidak terdapat hakekat kehidupan, apalagi jika diyakini bahwa Allah swt hadir dalam segala entitas. Oleh karena itu pada alam materi pun terdapat hakekat kehidupan akan tetapi hakekat kehidupan pada alam materi hanya disaksikan oleh para sufi karena hakekatnya berada pada batin alam materi.

l.      Pada alam materi kita memiliki 5 persepsi indrawi, begitupun pada alam barzakh, manusia memiliki 5 persepsi indrawi. Biasanya disebut dengan persepsi indrawi batin. Misalnya melihat, mendengar, dan persepsi indrawi lainnya pada alam materi, persepsi tersebut juga terdapat pada alam barzakh.
Misalnya Rasulullah saw menyaksikan bentuk malaikat Jibrail as dan mendengarkan suara lonceng disaat menerima wahyu, penyaksian dan pendengaran tersebut terjadi di alam barzakh melalui persepsi indrawi batin. Berkenaan dengan mimpi, manusia menyaksikan bentuk-bentuk tertentu di alam mitsal. Namun mimpi pada hakekatnya bukan bentuk itu, karena mimpi datang melalui alam ruh, kemudian dari alam ruh turun ke qalbu, kemudian dari qalbu turun khayal (imajinasi) dari khayal selanjutnya di transfer ke ‘hissi musytarak’, ketika sampai pada hissi musytarak manusia bisa menyaksikan sesuatu. Oleh karena itu, kerja khayal adalah menkonversi makna yang datang dari qalbu menjadi bentuk tertentu sehingga makna tersebut bisa disaksikan. Misalnya ketika seseorang akan mendapatkan harta atau ilmu, makna ilmu dan harta ini, ketika dikonversi ke alam imajinasi akan berbentuk singa. Inilah yang dimaksud dengan penakwilan mimpi, yaitu dari alam bentuk dikembalikan kepada makna asalnya.

m.   Setiap manusia memiliki penyaksian sendiri-sendiri karena setiap manusia memiliki karekteristik eksistensi dirinya masing-masing. Hal ini-lah yang membuat mengapa penyaksian dan mimpi setiap orang berbeda-beda.

n.    Syafaat tidak mungkin di dapatkan tanpa adanya ketaatan, karena syafaat merupakan hasil dari ketaatan seseorang. Dalam kata lain, ketaatan adalah wadah dalam menerima syafaat, sebab jika seseorang tidak memiliki wadah dalam menerima syafaat, maka jika syafaat diberikan pun pada dirinya tidak akan bermanfaat karena wadahnya yaitu ketaatan tidak ia miliki. Karena itu ada hadits yang berbunyi bahwa tak ada syafaat bagi mereka yang meninggalkan sholat. Karena itu perlu dipahami bahwa syafaat berfungsi menyempunakan ibadah dan amal perbuatan yang belum sempurna. Misalnya sholat yang tidak memiliki batin tentu sholat yang tidak sempurna, nah fungsi syafaat disini untuk menyempurnakan sholat tersebut.

o.    Pada prinsip sebelumnya dijelaskan bahwa penyaksian para sufi dalam menyaksikan bentuk-bentuk dan kondisi-kondisi manusia yaitu berkenaan dengan sifat-sifat malakah yang dimiliki seseorang. Jadi sifat-sifat yang telah menjadi malakah yang menjadi ‘bahan dasar’ bentuk-bentuk barzakhi. Seorang sufi yang telah terbuka mata batinnya dapat menyaksikan bentuk seseorang yang sesuai dengan sifat malakah yang dimilikinya.

p.    Kenikmatan dan penderitaan yang ada di alam materi semuanya berasal dari pengaruh yang datang dari luar diri manusia. Misalnya saat kita makan dan minuman yang lezat, jiwa kita merasakan kenikmatan. Namun pada akhirat kelak, kenikmatan dan penderitaan semuanya berasal dari diri manusia itu sendiri, bukan sesuatu yang datang dari luar diri manusia.  

q.     Dari beberapa prinsip sebelumnya dapat dipahami makna ayat dalam surah nuh ; 13-14 ‘Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah’, ‘padahal Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan penciptaan’. 

r.     Dari pembahasan sebelumnya dipahami bahwa yang dimaksud dengan (maut) kematian yaitu keterpisahan jiwa dari sesuatu selain dirinya. Misalnya ketika manusia meninggal maka jiwanya akan meninggalkan badan materinya karena badannya tak lagi menjadi hakekat dirinya.

s.    Kenon-materian jiwa (nafsunnathiqah) dipahami dengan kenon-materian akal, khususnya kenon-materian barzakh pada maqam imajinal jiwa dan mitsal muttashil. Bahkan kenon-materian jiwa, bukan saja tidak terikat pada materi bahkan tidak terikat dengan suatu esensi tertentu dimana hal ini tak memiliki batasan tertentu.

t.      Berdasarkan dengan prinsip-prinsip sebelumnya, kita dapat memahami makna ayat dalam surah hud ; 46 ‘Ø¥ِÙ†َّÙ‡ُ عَÙ…َÙ„ٌ غَÙŠْرُ صالِØ­ٍ (sesungguhnya dia adalah amal/perbuatan yang tidak soleh). Ayat ini menunjukkan bahwa balasan adalah amal itu sendiri dan amal tak lain adalah hakekat diri seseorang itu sendiri. Karena itu dalam ayat ini tidak mengatakan ‘sesungguhnya dia ‘memiliki’ perbuatan yang tidak soleh’ tapi ayat ini mengatakan ‘sesungguhnya dia adalah perbuatan yang tidak soleh’. Berdasarkan atas hal ini, setiap orang membentuk hakekat dirinya melalui persepsi-persepsinya, pemikiran-pemikirannya, perkataan-perkataannya, serta tindakan-tindakannya.

u.    Salah satu dari prinsip penting berkenaan dengan hadits mi’raj Rasulullah saw. Hadits tersebut pada hakekatnya adalah rangkaian perjalanan spiritual Rasulullah saw. Dalam mi’raj tersebut juga menjelaskan hakekat manusia yang berkenaan dengan tindakannya, kondisinya, dan perubahan-perubahan yang terjadi padanya setelah meninggalkan alam materi. Karena itu amat sangat bermanfaat jika seseorang menelaah hadits mi’raj Rasulullah saw sehingga manusia memahami bahwa selama manusia tidak memiliki perjalanan spiritual barzakhi dan juga dengan alam-alam setelahnya maka tak kan tersingkap baginya realitas hakekat-hakekat. Pemahaman dengan istilah-istilah tak kan memberikan keluasan eksistensi dan tak kan mengaktualkan potensi dalam dirinya.

v.    Prinsip lainnya yang dapat diperoleh dari persoalan-persoalan sebelumnya yaitu mengaktualkan fakultas khiyal (imajinasi) pada saat tawajjuh (mengerahkan seluruh konsentrasinya) yang mana bentuk-bentuk imajinal menjadi aktual padanya dan juga pada mitsal muttashil adalah merupakan pendahuluan agar terkoneksi dan dapat memasuki realitas intinya yaitu pada alam mitsal munfashil atau khiyal munfashil atau mitsal mutlak pada alam-alam arwah. Maksudnya seorang salik seharusnya mengerahkan segala usahanya untuk sampai pada maqam diatas bentuk-bentuk imajinal. Hal yang dianjurkan pada maqam ini agar menguatkan kehadiran dan menjaga kehadiran secara sempurna hingga sampai pada syuhud tauhid hakiki.  
 
w.   Begitu juga selanjutnya, dari alam mitsal mutlak, qalbu kembali tawajjuh pada alam yang lebih diatas yaitu alam akal dimana alam-alam tersebut merupakan gradasi dari tingkatan-tingkatan alam. Setiap tingkatan yang ada di bawah merupakan mitsal dan pancaran hakekat yang ada diatas. Dan setiap yang diatas merupakan makna dan hakekat yang ada di bawah. Karena itu jika realitas mitsal anda telah teraktual  maka anda menyaksikan dengan mitsal dan jika realitas akal anda telah teraktual maka anda menyaksikan dengan akal. Oleh karena itu, seorang arif dapat menyaksikan hakekat-hakekat bentuk dan atau mendengarkan perkataan dan atau meraih sebuah makna dari makna-makna pada qalbunya, kemudian berdasarkan perolehan itulah mereka membangun argumentasi dalam menjelaskan perolehan tersebut. Persoalan ini sebagaimana diisyaratkan dalam Qur’an dalam surah yusuf ; 105 ‘Dan alangkah banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling darinya’.

x.    Dari beberapa prinsip sebelumnya dapat disimpulkan bahwa manusia adalah hakekat tunggal yang didalam ketunggalannya terbagi ke dalam 4 tingkatan yaitu ruh, qalbu, khiyal (imajinasi), dan materi (badan). Pada tiap tingkatan tersebut berlaku hukum tertentu yang berlaku pada tingkatan tersebut. Kemudian hukum yang ada pada tingkatan diatas berlaku juga pada tingkatan dibawah. Karena itu, ‘pendengaran’ manusia adalah pendengaran yang intelek dan pendengaran yang insani. Begitu juga dengan persepsi-persepsi lainnya dan fakultas-fakultas lainnya. Apa yang ada pada tingkatan atas menunjukkan dirinya pada tingkatan bawah dengan perbandingan bahwa tingkatan atas lebih sempurna dan lebih luas. Jadi jiwa yang tunggal tersebut adalah akal dan juga qalbu dan juga imajinasi dan juga badan dan juga seluruh anggota-anggota tubuhnya, sehingga badannya (jasad) bisa disebut ruh yang ‘mutajassid’ atau ‘mutajassim’.


  


SYAIRKU; LAILA MAJNUN

Majnun ! lama tak kau sapa aku dengan munajatmu. apakah aku tak lagi hadir dihatimu,

dengan munajat apa aku harus menyapamu, sementara dirimu mendiamkan setiap kata,

dimana hati ini harus mencari, karena jejakmu tak tersentuh oleh apapun, kecuali jejak cintamu,

Majnun ! batin dari cinta adalah makrifat. tak mungkin dipahami dari setiap pertemuan, 

Majnun ! pergilah ... disini cinta dan kekasih tak terpisahkan. cinta itu hanya hijab,

Majnun ! apa itu cinta ? apakah krn keindahan wajah ini sehingga disaat wajah ini keriput cinta pun sirna !

Laila ! mengapa kau mengusirku padahal mengingatmu merenggut seluruh eksistensi diri,

Majnun ! disini tak ada dualitas, hulul dan ittihad tak punya makna. sirnalah ... kau akan temukan diriku,

ditaman bunga cinta, belum mampu seirama dengan bunga-bunga keindahannya,

Majnun ! Mengapa tak kau siram bunga cintamu dengan api kerinduan ! Bukankah setiap kata lelah menanti makna cinta,

Bukankah engkau mengagungkan indrawi ! Lalu mengapa kau mencintai ? Apakah cinta itu nampak bagimu seperti untaian ombak ! 

Majnun ! Apakah makrifat lebih dahulu dari cinta atau cinta lebih dahulu dari makrifat ! 

Majnun ! Apakah wajah Zulaikha yang meluluhkan cintamu atau keindahan makrifat Zulaikha yang merenggut eksistensimu,

Majnun ! Berlarilah padaku & bawalah hatimu namun tutup matamu sebab yang kau saksikan bukan aku,

Majnun ! Mengapa tak kau ceritakan cintamu pada yg lain ? 

Pada siapa ! Sebab yang ada hanya dirimu.

~ Karya ; Muhammad Nur Jabir

Monday, March 10, 2014

Filosofi 'Ulama Pewaris Para Nabi'

Sering kita mendengar hadis ini bahwa ulama adalah pewaris para nabi, namun kita tidak pernah memahami maksud sebenarnya dari istilah pewaris tersebut. Maksud dari pewaris para nabi adalah mereka yang memahami apa yang dibawa para nabi baik dalam pengetahuan maupun dalam akidah. Selain dari hal itu  mereka pun menyadari sifat apa saja yang dimiliki oleh para nabi serta apa yang dilakukan para nabi dalam amal-amal perbuatannya. Berdasarkan hal ini, pewaris nabi adalah mereka yang telah makrifat atas ajaran-ajaran para nabi dan sifat-sifat nabi yang menjelma dalam dirinya serta meniru amal perbuatan para nabi. Jadi perlu dipahami istilah ‘pewaris’ ini disyaratkan adanya hubungan dengan ‘yang mewariskan’. Namun meskipun maqam-maqam tersebut dapat diraih dan diperoleh dengan usaha akan tetapi tidak seperti dengan ilmu-ilmu indrawi karena ilmu-ilmu indrawi terbuka bagi semua orang. Jika maqam tersebut ingin diraih manusia mesti menjadi pewaris nabi dan menjadi ‘pewaris’ manusia mesti terhubung dengan ‘yang mewariskan’.
Disini dapat kita memahami perbedaan antara ilmu warisan dan ilmu perolehan. Dalam ilmu perolehan manusia berusaha mempersiapkan usahanya sendiri, bukan melalui relasi pada seseorang. Namun dalam ilmu warisan penyiapannya dengan relasi spiritual dengan seseorang. Karena itu ilmu warisan lebih banyak kaitannya dengan hubungan spiritual antara yang diwariskan dengan yang mewariskan. Berdasarkan hal ini jika seseorang menginginkan dirinya sebagai pewaris nabi, dirinya mesti terhubung dengan Rasulullah dan keterhubungan ini jalan satu-satunya melalui dengan proses tazkiyah atau proses mensucikan qalbu.
Perbedaan lainnya antara ilmu warisan dengan ilmu perolehan, dalam ilmu perolehan yang diraih di bangku-bangku madrasah, mungkin saja setelah memperolehnya manusia lupa akan ilmu tersebut, namun dalam ilmu warisan pengetahuan tersebut akan terus dingat dan bahkan akan menyertainya di hari kiamat kelak dan dengan ilmu tersebut akan mendapatkan syafaat. Oleh karena itu mereka yang tidak memperoleh ilmu warisan tentu tidak dapat menjadi pewaris dan pastinya tidak termasuk ke dalam ‘ulama adalah pewaris para nabi’.
Derajat Pewaris Para Nabi
Sebagaimana dipahami bahwa para nabi memiliki derajat yang berbeda-beda maka pewaris para nabi pun dengan mengikuti nabi-nabi yang ada memiliki derajat yang berbeda-beda. Hal ini dijelaskan dalam surah al-baqarah : 253 ‘rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain’ dan juga dalam surah isra : 55 ‘dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian yang lain’.
Siapa saja yang hubungannya dengan para nabi lebih kuat, tentu akan memiliki saham yang lebih banyak. Dalam persoalan ilmu warisan ini tidak ada kaitannya dengan sebelum dan setelah dalam konteks ruang dan waktu. Karena meskipun Abu Lahab berada di Hijaz dan masih ada ikatan darah dengan Rasulullah saw namun tak memperoleh pengetahuan warisan apa pun dari Rasulullah saw. Justru yang jauh seperti Bilal dari Habsyah dan Salman dari Persia yang mampu memperoleh pengetahuan dari Rasulullah saw. Dalam persoalan spiritual penekanannya lebih banyak pada persoalan tazkiyatunnafs dimana dengan tazkiyahnya dan suluknya akan menghubungkan dirinya dengan Rasulullah saw sehingga dirinya layak untuk memperoleh warisan pengetahuan dari Rasulullah saw.
Mendapatkan warisan pengetahuan dari nabi tidak ada kaitannya dengan hubungan nasab dan juga golongan. Manusia adalah anak dari pikiran-pikiran dan akidahnya. Manusia Ilahiyah adalah anak dari realitas kehambaan dirinya kepada Allah swt. Relasi antara tauhid dan kehambaan ini akan menghasilkan dasar warisan.
Disisi lain perlu juga dipahami bahwa para nabi disebut sebagai pendidik dan pengajar manusia. Berkenaan dengan Rasulullah saw, Allah swt dalam surah al-baqarah : 151 berfirman, ‘... dan mengajarkan kepadamu kitab dan hikmah’. Dalam Quran menggunakan istilah mu’allim dan makna dari mu’allim bukan hanya mengajar tapi juga mendidik. Dalam kata lain, ilmu tidak bisa ditransfer hanya dengan kata-kata. Maksudnya selama seseorang belum yakin atas dirinya serta mengamalkannya maka dirinya tak kan mungkin menjadi mu’alim bagi yang lain. Perkataan yang tak muncul dari hati, tak kan diterima pula oleh hati. Oleh karena perkataan hati sesuai dengan hati pendengarnya dan juga diletakkan pada tempat yang sesuai.
Para nabi berbicara dari jiwa dan perkataannya seperti perkataan manusia yang mengalami secara langsung sehingga memberikan efek. Karena boleh jadi ada orang yang memberikan pelajaran dan pilihan diksi yang digunakannya indah namun tidak memberikan efek pada yang lain. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Imam Sodiq, ‘seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, maka pesan-pesannya tergelincir dan tidak tertanam di hati’. Namun para petuah agama yang tekun dengan amal dapat mempengaruhi para pendengarnya karena pembicaraannya berasal dari rintihan jiwanya. Selama manusia tidak merasakan derita tersebut maka perkataannya sangat sulit untuk memberikan pengaruh pada yang lain. Mengapa para nabi senantiasa bersyukur kepada Allah swt dikarenakan para nabi senantiasa melihat dan menyaksikan nikmat-nikmat Ilahi secara terus menerus. Para nabi menyaksikan bagaimana nikmat itu berasal dari Allah swt hingga sampai pada dirinya dan pada makhluk-makhluk lainnya. Pengalaman para nabi inilah yang kemudian terbahasakan dalam bahasa yang indah dan memiliki tingkat balaghah yang tinggi dan tentunya dapat mempengaruhi yang lain.
Manusia di dunia ini ibarat bumi yang kering yang senantiasa membutuhkan siraman air sehingga dahaganya dapat terpenuhi. Manusia yang dahaga membutuhkan hubungan dengan Tuhan sehingga pancaran emanasi turun dari realitas eksistensinya dan manusia meneguknya dan mencerapnya secara perlahan-lahan sehingga dirinya senantiasa mengalami perkembangan dan penyempurnaan. Manusia pesuluk yang tidak menyaksikan dan merasakan secara langsung hakekat tersebut tentu umur dan kehidupun yang dijalaninya tak memberikan hasil. Menarik salah satu perkataan dari Syekh Isyraq, ‘sebagian umurku aku jalani dalam petualangan, namun sangat disayangkan tak serang pun  yang saya temui yang ahli syuhud. Kegaiban itu apakah disaksikan atau manusia beriman padanya. Yang populer dalam tatanan masyarakat dan dalam pusat-pusat ilmu ialah tentang ilmu hushuli yang diperoleh dengan argumentasi namun sangat jarang ilmu syuhudi yang diperoleh dengan tazkiyah dan dibawah naungan pengetahuan-pengetahuan Ilahi’.
Dalam Quran setelah menjelaskan sifat-sifat yang sama diantara para nabi, selanjutnya menyampaikan kepada kita semua bahwa para nabi adalah orang-orang yang telah sampai pada tujuan sehingga mereka juga mengambil peran sebagai imam-imam bagi kalian. Oleh karenanya mereka yang di dunia ini tidak mengetahui kenabian, setelah proses kematian mereka akan mengenal pengetahuan tersebut dengan pahit. Karena itu sebaiknya sebelum kita dipaksa untuk bangkit dan sadar, kita sadarkan diri kita.
Inilah salah satu fungsinya mengapa kita mesti mengenal sirah para nabi dan orang-orang soleh karena mengenal mereka dapat menenangkan hati kita. Karena itu Allah swt berfirman kepada Rasulullah saw, kami nukilkan kisah-kisah para nabi terdahulu untuk mengukuhkan hatimu. Dalam surah arr’ad : 28 Allah swt berfirman, ‘Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram’. Selain hal ini, Allah swt juga mengingatkan dan mengajarkan kepada manusia untuk mengingat sirah para nabi agar hati pun menjadi tentram dan teguh. Dalam surah  hud : 120 Allah swt berfirman, ‘Dan Kami menceritakan kepadamu setiap kisah dari kisah-kisah para rasul, kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam kisah-kisah ini telah datang kepadamu kebenaran serta nasihat dan peringatan bagi orang-orang yang beriman’. Hal ini menunjukkan bahwa mengingat sirah para nabi akan  membuat kita menjadi tentram dan teguh, oleh karena mereka adalah manifestasi-manifestasi Ilahi sehingga mengingat para nabi sekaligus mengingat Allah swt. Dalam surah ali imran : 137 Allah swt berfirman, ‘Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (para rasul)’. Lagi-lagi Allah swt mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengingat ummat terdahulu dan memetik pelajaran dari mereka. Tentu faedah dalam memetik hikmah dari para nabi agar dapat melihat akibat dari orang-orang buruk sehingga kita tidak ikut melakukan apa yang telah mereka lakukan dengan mendustakan para nabi dan rasul.      
     


          

Thursday, February 27, 2014

Filsafat Sejarah

[Dimensi Universal ajaran para Nabi dalam Quran]
Sebagaimana dipahami bersama, jika kita memandang dari sisi ruang dan waktu maka para Nabi terpisahkan antara satu dengan yang lainnya. Para Nabi Secara periodik, ada yang lebih dahulu dan ada yang lebih terakhir.  Maksudnya bahwa keterpisahan jarak beserta ruang dan waktu disebabkan oleh keniscayaan materi. Namun meskipun demikian, hal yang mesti dipahami bahwa para Nabi secara substansi adalah hakekat yang tak terpisahkan dan suatu realitas yang tersambung dari awal hingga akhir.
Rahasia mengapa para Nabi merupakan hakekat yang terbentang dan tersambung dari awal hingga akhir, dikarenakan para Nabi merupakan manifestasi agung Ilahi. Oleh karenanya, sebagaimana Allah swt memanifestasikan dirinya dalam nama-namaNya dan nama-namaNya pun kemudian memanifestasikan dirinya dalam beragam bentuk, namun pada saat yang sama nama-nama tersebut merupakan satu hakekat yang tunggal yang tersambung dari awal hingga akhir. Mengikuti hal tersebut, maka para Nabi pun merupakan satu hakekat yang tersambung dari awal hingga akhir sebagai manifestasi nama agung Ilahi. Hal ini menyadarkan kita bahwa hakekat kebenaran juga merupakan suatu realitas yang tunggal yang tersambung dari awal hingga akhir, mengikuti para Nabi sebagai manifestasi dari hakekat kebenaran dari para Nabi yang juga merupakan manifestasi dari Ilahi.
Dari sini pun dapat dipahami bahwa kebatilan sebagai lawan dari hakekat kebenaran  adalah suatu hal yang terpisah-pisah serta terceraiberai dan karena itu pula kebatilan tak memiliki realitas yang tunggal. Jika hakekat kebenaran itu eksistensinya tetap maka kebatilan adalah kesirnaan dan tak memiliki pondasi.
Ajaran para Nabi, melalui hakekatnya yang tersambung dari awal hingga akhir, maka para Nabi pada hakekatnya penyambung masyarakat manusia dari dahulu hingga akan datang. Jika kita mengikuti realitas ini, maka filsafat sejarah dapat dibingkai berdasarkan filosofi hakekat kenabian bahwa para Nabi merupakan pondasi dalam seluruh masyarakat manusia sebab itu tak heran jika jumlah para Nabi bukan hanya 25 saja bahkan lebih. Hal ini juga menegaskan bahwa realitas eksistensi dibangun berdasarkan hakekat kebenaran. Jika kebatilan muncul dipermukaan, kebatilan ini tak kan abadi dan segera akan kembali pada hakekatnya yaitu kesirnaan. Oleh karena itu, Allah swt menciptakan alam ini dan kemudian meletakkan para Nabi dan Rasul di dalamnya sebagai hakekat yang terbentang dan tersambung dari awal hingga akhir. Dalam surah taubah : 33 Allah swt berfirman, ‘Dia-lah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai’. Ayat ini menjelaskan bahwa akhir dari ciptaan realitas alam ini tak mungkin dengan kezaliman namun dengan keadilan. 
Allah swt berkata kepada Rasulullah saw dalam surah annahl : 123 ‘ikutilah agama Ibrahim’. Selanjutnya kepada kita juga mengatakan dalam surah hajj : 78 ‘(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu’. Allah swt menyuruh kita dari dahulu untuk mengikuti tradisi para Nabi. Tradisi ini senantiasa dijaga oleh Allah swt karena di dalamnya terdapat pemikiran Ilahiyah dan pemikiran Ilahiyah yakni tauhid inilah yang kemudian tersebar dalam seluruh generasi manusia dan kemanusiaan. Namun berbeda dengan tradisi orang-orang zalim, misalnya berkenaan dengan Namrud dan Fir’aun Allah swt berfirman dalam surah al-an’am : 45, ‘maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya’. Begitu juga dalam surah al-a’raf : 72 ‘kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami’. Sebagaimana juga dalam surah al-anfal : 8 ‘agar Allah menetapkan yang hak dan membatalkan yang batil’.
Berkenaan dengan hal ini, ada perumpaan yang menarik yang disampaikan oleh Allah swt dalam surah arra’ad : 17 ‘Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, lalu mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya. Maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan’. Dalam ayat ini pertama-tama Allah swt menjelaskan bahwa anugerah Ilahi ini turun bagai air hujan, manusia menampung anugerah tersebut bergantung pada kadar ukurannya masing. Semakin luas wadahnya maka semakin luas pula dalam menampung anugerah Ilahi. Selain itu pula, perumpamaan dalam ayat ini menjelaskan bahwa jika memang hal tersebut adalah sebuah kebenaran maka tentu akan memberikan faedah dalam masyarakat dan jika memberikan faedah dalam masyarakat maka kebenaran tersebut akan kekal dan tetap di bumi. Namun berbeda dengan kebatilan, karena kebatilan tak memberikan faedah dalam masyarakat maka kebatilan cepat berlalu dan sirna.
Allah swt dalam surah qashas : 51 berfirman, ‘Dan sesungguhnya telah Kami turunkan ayat-ayat (Al-Qur’an) ini kepada mereka secara berturut-turut agar mereka ingat’. Ayat ini menjelaskan posisi Nabi sebagai perantara yang menyambungkan perkataan Ilahi agar sampai kepada masyarakat. Kemudian pada ayat lain Allah swt berfirman dalam surah mukminun : 44 ‘Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) para rasul Kami berturut-turut’. Ayat ini menegaskan ketersambungan antara satu Rasul dengan Rasul lainnya dan ayat ini menyebutnya dengan ketersambungan yang mutawatir atau berturut-turut. Berbeda dengan orang-orang zalim dan inkar, Allah swt berfirman dalam surah saba : 19 ‘Dan Kami jadikan mereka kisah (sebagai pelajaran bagi orang lain) dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya’. Oleh karenanya, para Nabi adalah hakekat yang tunggal, yang senantiasa hadir dalam masyarakat, dan kemudian memberikan efek. Dari sini kita dapat mengerti pentingnya memahami tradisi dan sirah para Nabi bahwa ketika realitas manusia tersambungkan dengan hakekat kebenaran maka dirinya pun akan menjadi sebuah realitas yang tetap.
Dalam surah taubah : 32 Allah swt berfirman, ‘Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya’ dan juga dalam surah shaf : 8 ‘tapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci’. Cahaya Ilahi tidak mungkin dimatikan, meskipun ada yang ingin mencoba mematikannya namun mereka tak kan mungkin mematikannya, karena cahaya Ilahi ini sampai kepada masyarakat melalui wahyunya. Cahaya Ilahi yang berupa wahyu ini senantiasa bersinar dan bahkan Allah swt sendiri yang menjaganya sehingga pancaran sinarnya sampai kepada seluruh manusia. Berdasarkan hal ini, jika ada yang menganggap bahwa di alam ini terkadang cahaya Ilahi yang bersinar dan terkadang api kezaliman yang menerangi manusia, tentu anggapan ini adalah anggapan yang tidak tepat karena cahaya Ilahi tak kan pernah padam.
Kemudian dalam beberapa ayat selanjutnya, seperti dalam surah maryam : 41 ‘Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (Al-Qur’an) ini’. Surah maryam : 51 ‘Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Musa di dalam al-Kitab (Al-Qur’an) ini’. Surah maryam : 16 ‘Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur’an’. Surah maryam : 56 ‘Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka kisah) Idris di dalam Al-Qur’an’. Surah shad : 41 ‘Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub’.
Ayat-ayat sebelumnya menunjukkan kepada kita bahwa tradisi mereka yaitu tradisi para Nabi sebelumnya senantiasa hidup hingga saat ini sehingga Allah swt memerintahkan kepada Rasulullah saw agar menceritakan Nabi-Nabi sebelumnya. Dan juga dalam surah al-an’am : 90 allah swt berfirman, ‘Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Maka ikutilah petunjuk mereka’. Yang Allah swt perintahkan kepada kita adalah mengikuti petunjuknya karena petunjuk ini adalah hidayah Ilahi dan hidayah Ilahi ini senantiasa berlangsung terus menerus. Karenanya terkadang hidayah ini dalam bentuk sirah Nabi Ibrahim, terkadang dengan sirah Nabi Musa, terkadang dengan sirah Nabi Isa, dan juga terkadang dengan sirah Nabi-Nabi lainnya. Dan saat ini kita berada dalam sirah Rasulullah saw.
    

Tuesday, August 20, 2013

Insan Kamil dalam Irfan Ibn Arabi

Apakah engkau merasa dirimu hanya benda kecil?
Padahal dalam dirimu terdapat alam semesta
(Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as)

Insan Kamil dalam Irfan Ibn Arabi
Pendahuluan
            Sebagaimana diketahui, pembahasan irfan terdiri dari dua pembahasan inti; pertama, berkenaan dengan tauhid. Kedua, berkenaan dengan muwahhid. Tauhid dalam irfan berkenaan dengan  pembahasan wahdatul wujud, sedangkan yang dimaksud dengan muwahhid adalah seseorang yang telah sampai pada maqam tauhid atau yang biasa disebut dengan insan kamil (manusia sempurna).
            Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai wahdatul wujud yang merupakan puncak tauhid dalam pandangan sufi. Menurut mereka, hakekat wujud hanya satu yaitu wujud Al-Haqq, sedangkan selain Al-Haqq hanya manifestasi, jelmaan, tajalli,  bayangan, atau penampakan dari nama-nama dan sifat-sifat Al-Haqq.
            Dalam tajalli, nama-nama dan sifat-sifat Al-Haqq tersebut bergradasi atau memiliki derajat yang berbeda-beda. Sebagian nama merupakan jelmaan dari nama tertinggi Al-Haqq dan sebagian nama merupakan jelmaan dari nama yang berada pada tingkatan bawah. Manifestasi yang paling agung adalah manifestasi dari nama Allah swt dikarenakan dalam nama Allah swt terkandung seluruh nama-nama Tuhan, sebagaimana dalam surah al-isra’;110 ; Katakanlah, “ serulah Allah dan serulah Al-Rahman, dengan nama mana saja kamu seru, hanya bagi-Nya lah asmaul husna” . Manifestasi nama Allah swt adalah insan kamil atau biasa juga disebut dengan Hakekah Muhammadiyah. Hal ini sesuai dengan hadits Qudsi yang berbunyi ; jika bukan engkau wahai Muhammad maka Aku tidak ciptakan langit dan bumi beserta seisinya.
Hakekat Insan Kamil
            Diantara wujud yang ada, hanya manusialah yang dapat menampung seluruh hakekat di dalam dirinya, sebab dirinya merupakan manifestasi dari nama Allah swt dan nama Allah swt terkandung seluruh nama-nama di dalam diri-Nya. Hakekat insan kamil berada dalam seluruh tingkatan manifestasi, mulai dari alam materi, alam mitsal, alam akal, maqam wahidiyah dan bahkan sampai pada maqam ahadiyah. Namun hanya Rasulullah saw beserta para washinya yang mampu sampai pada maqam ahadiyah, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah al-najm;9 ; Maka  jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Juga dalam hadits, Rasulullah saw bersabda; pernah satu saat diriku bersama dengan Allah swt dimana pada saat itu, baik rasul maupun malaikat muqarrab tak dapat menyertaiku.
            Dari sini, kita akan melihat bahwa hakekat insan kamil memiliki dua aspek; aspek Ilahiyah dan aspek khalqiyah (makhluk). Aspek Ilahiyah didalam diri insan kamil dapat ditinjau dalam  beberapa hal; pertama, insan kamil merupakan cermin dari Al-Haqq. Maksud dari cermin disini bahwa insan kamil merupakan jelmaan dari seluruh nama-nama Ilahi. Kedua, insan kamil tercipta berdasarkan bentuk Al-Rahman. Bentuk disini bukan bentuk dalam pemaknaan material akan tetapi yang dimaksud dengan bentuk adalah ‘sesuatu yang nampak pada sesuatu tersebut’, dan yang nampak dalam batin insan kamil adalah Al-Rahman. Sedangkan yang dimaksud dengan aspek khalqiyah adalah sisi kehambaan dan ubudiyahnya.
            Aspek Ilahiyah di dalam diri insan kamil didapatkan melalui empat tahapan perjalanan sair suluknya. Diawali dari perjalanan dirinya menuju Al-Haqq, kemudian dari Al-Haqq menuju Al-Haqq bersama Al-Haqq, selanjutnya dari Al-Haqq menuju al-khalq bersama Al-Haqq, dan dari al-khalq menuju al-khalq bersama Al-Haqq. Insan kamil atau manusia sempurna adalah mereka yang telah sampai pada perjalanan kedua dan ketiga. Siapa saja yang berhasil suluk sampai pada perjalanan kedua dan ketiga maka disebut dengan insan kamil.
Insan Kamil Sebagai Khalifah
            Makna dari khalifah adalah pengganti, yaitu menggantikan posisi yang digantikan (ghaib). Oleh karena itu, makna khalifah disini harus dimaknai dengan baik jika masih tetap ingin dimaknai sebagai pengganti, sebab persoalannya adalah pengganti disini bukan menggantikan yang ghaib (tidak hadir) karena Tuhan hadir dalam segala sesuatu dan Tuhan tidak pernah tidak hadir. Maka khalifah adalah pengganti yang menggantikan suatu wujud yang tidak pernah tidak hadir. Berdasarkan hal ini kita akan menyimpulkan bahwa yang bisa menjadi khalifah adalah suatu eksistensi yang memiliki keidentikan dengan Al-Haqq. keidentikan tersebut adalah bahwa dirinya hadir dalam seluruh tingkatan manifestasi, mulai dari alam materi hingga maqam ahadiyah,  dan hanya insan kamil saja yang hadir dalam seluruh tingkatan manifestasi. Oleh karena itu, yang berhak menjadi khalifah adalah insan kamil. Dalam Al-Qur’an juga dijelaskan bahwa adam menjadi khalifah setelah Allah swt mengajarkan seluruh nama-nama padanya. (al-baqarah;31)        
Insan Kamil sebagai Ruh Alam Semesta
            Sebagaimana diketahui, ruh manusia berperan sebagai pengatur (rububiyah) terhadap badannya, baik itu disadari atau tidak, meskipun jarang manusia yang menyadari akan hal ini. Untuk membuktikannya, cukup dengan melihat karekteristik dari materi,  dan badan manusia – jika dilihat hanya pada badannya tanpa mengaitkan dengan ruhnya – adalah materi. Jika asumsinya bahwa materi sebagaimana materi dapat mengatur dan merubah nutrisi menjadi rambut, kuku, darah, dst, maka binatang, tumbuhan, dan batu pun seharusnya memiliki karakter yang sama dengan manusia, karena semuanya berasal dari nutrisi. Namun hal tersebut tidak terjadi karena sebagai  diketahui yang mengatur hal tersebut bukan tubuh kita yang hanya materi semata, akan tetapi yang mengatur adalah ruh kita.
            Hubungan alam semesta dengan insan kamil pun demikian halnya. Insan kamil adalah ruh sedangkan alam semesta adalah badannya. Oleh karenanya, dalam tasawwuf atau irfan, manusia disebut sebagai makrokosmos dan alam semesta adalah mikrokosmos. Rahasia mengapa insan kamil adalah ruh alam semesta karena hanya insan kamil yang senantiasa eksis dalam seluruh tingkatan tajalli. Meskipun batinnya naik ke maqam uluhiyah akan tetapi lahirnya tetap saja ada dibumi. Maksudnya kedua aspek didalam dirinya senantiasa terjaga; aspek Ilahiyah dan aspek ubudiyah.
Insan Kamil sebagai Tujuan Penciptaan Alam
            Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa insan kamil merupakan cermin dari seluruh kesempurnaan Ilahiyah. Jika Tuhan ingin melihat kesempurnaan diri-Nya melalui sebuah perantara maka dirinya akan menyaksikan kesempurnaan diri-Nya dalam cermin dan cermin tersebut adalah Rasulullah saw. Alasan lainnya dikarenakan insan kamil merupakan ruh alam sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dan hal ini sesuai dengan hadits Qudsi; jika bukan engaku wahai Muhammad maka Aku tidak ciptakan langit dan bumi beserta seisinya.  
Insan Kamil sebagai Simbol Keabadian atau Kehancuran Alam Semesta
            Jika dipahami bahwa insan kamil sebagai ruh alam semesta, maka alam semesta bergantung pada insan kamil, baik dalam keabadiannya maupun dalam kehancurannya. Sebagaimana badan manusia bergantung kepada ruhnya. Maksudnya  selama ruh manusia masih berada dalam tubuhnya maka tubuh tersebut memiliki kehidupan, namun disaat ruh meninggalkan tubuhnya maka pada saat itu tubuhnya tak memiliki kehidupan sebagaimana sebelumnya.     
            Terjadinya kiamat dalam pandangan irfan adalah disaat insan kamil kembali ke maqam uluhiyah secara totalitas. Maksudnya disaat insan kamil meninggalkan dunia ini maka pada saat itu akan terjadi kiamat. Hal ini sesuai dengan yang ditegaskan oleh Imam Maksumin as; jika tidak ada hujjah (insan kamil) maka bumi ini akan hancur.
Insan Kamil untuk Seluruh Manusia
            Apakah insan kamil ini hanya dikhususkan kepada para Rasul, Nabi, dan para Imam ? jika bersandar pada penjelasan Al-Qur’an, maka insan kamil ini tidak hanya dikhususkan kepada para Maksumin semata (Rasul, Nabi, dan Imam). Dalam surah al-ahzab;72 Allah swt berfirman; “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, lalu semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan khawatir akan mengkhianatinya. Tetapi manusia (berani) memikul amanat itu”.
            Amanah dalam ayat diatas ditawarkan kepada seluruh golongan manusia dan tidak dikhususkan kepada golongan tertentu dari manusia. Rahasia mengapa manusia mampu menerima amanah tersebut dikarenakan manusia memiliki dua aspek; aspek Ilahiyah dan aspek khalqiyah sehingga manusia bisa hadir dalam seluruh manifestasi. Namun tentunya manusia hanya bisa naik ke atas melalui berkah wilayah insan kamil, Wilayah Muhammadi saw.