Wednesday, October 15, 2014

Sekilas Mengenai Perempuan dalam Quran


Dalam Quran, hakikat manusia terletak pada ruh, bukan pada badan. Persoalan gender adalah perkara yang berkaitan dengan badan. Ruh dan hakikat manusia tak memiliki identitas gender. Karena itu Quran adalah guru bagi ruh-ruh manusia. Quran tak pernah membeda-bedakan realitas manusia antara satu dengan lainnya pada aspek ruh. Ruh adalah hakikat immateri yang tak lagi terkait dengan persoalan gender.
Tak heran ketika Quran berbicara mengenai persoalan tazkiyah, tazkiyah yang dimaksud adalah tazkiyah ruh. Quran justru diturunkan untuk mengajarkan pengetahuan dan juga tazkiyah. Berdasarkan hal ini, Islam sejak semula tidak membagi manusia pada laki-laki dan perempuan.
Berbeda dengan pandangan Islam, dalam pandangan barat, manusia sejak semula telah terbedakan dari laki-laki dan perempuan. Meskipun dalam perkembangan selanjutnya, barat sangat berusaha keras untuk menyamakan keduanya. Pembagian tersebut dikarenakan hakikat manusia hanya dilihat dari aspek badannya saja. Selanjutnya mereka menganggap bahwa badan laki-laki dan perempuan sangat mirip, sehingga mereka memberlakukan hukum yang sama pada keduanya. Namun dalam Islam, seluruh hakikat manusia pada ruh, dan badan adalah alat semata dalam menggapai tujuannya.
Meskipun badan dipahami hanya sebagai aksidental semata, namun badan tetap memiliki peran dan hukum yang terkait dengannya. Namun berkaitan dengan nilai, keunggulan, dan kemuliaan tidak disematkan pada badan, namun disematkan pada ruh.
Tak Ada Gender dalam Keunggulan dan Kemuliaan
Kemuliaan atau bahkan kenistaan tidak disematkan pada gender. Karena tidak disematkan kemuliaan dan kenistaan pada badan. Maksudnya, predikat-predikat seperti muslim, kafir, alim, jahil, taqwa, fasiq, benar, salah, mulia, hina adalah tidak disematkan pada badan.
Pengetahuan dan pemikiran disematkan pada akal teori. Penyaksian (mukasyafah) dan syuhud disematkan kepada hati. Takwa dan fasiq disematkan pada jiwa. Jadi tak satupun dari predikat-predikat sebelumnya yang disematkan kepada badan. Begitu pula dengan sifat-sifat lainnya seperti iradah, ikhlas, iman, sabar, tawakkal terkait dengan fakultas akal praktis. Jika sabar tidak terkait dengan persoalan gender, maka penyabar (orang yang sabar) tidak terkait dengan persoalan gender.
Perempuan dan Maqam Khalifatullah
Maqam tertinggi pada diri manusia adalah maqam khalifatullah. Jika demikian, apakah maqam khalifatullah ini hanya diperuntukkan pada laki-laki ? atau khalifatullah ini tidak hanya diperuntukkan bagi laki-laki saja, namun juga untuk perempuan, akan tetapi yang mampu meraih maqam tersebut adalah hanya laki-laki saja! Atau sebenarnya khalifatullah tidak terkait dengan gender ?
Quran (2;30) mengatakan, ‘sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Maqam khalifatullah adalah maqam insaniyah, bukan maqam laki-laki. Pusat atau lokus pembelajaran dan pengajaran pada ruh manusia, bukan pada badan. Yang akan menjadi seseorang itu alim adalah ruh manusia, bukan badan, bukan laki-laki dan perempuan. Yang mengetahui asma-asma Ilahi adalah ruh manusia, bukan badan.
Maqam Mulia Seorang Ibu dalam Quran
Perintah-perintah yang ada dalam Quran, terkadang perintah tersebut ditujukan pada laki-laki dan perempuan sebagai perintah yang berlaku kepada keduanya, dan terkadang ada perintah yang dikhususkan kepada laki-laki atau dikhususkan kepada perempuan. Misalnya dalam Quran  (31;14) Allah swt berfirman, ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu’.
Setelah Quran memuliakan kedua orang tua, lalu Quran berbicara secara terpisah mengenai jerih payah yang ditanggung oleh seorang ibu, bukan seorang ayah. Allah swt berfirman dalam Quran (46;15), ‘Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan’.
Quran berbicara tentang jerih payah yang ditanggung seorang ibu selama 30 bulan. Mulai dari masa mengandung, melahirkan, hingga menyusui adalah masa yang sulit bagi seorang ibu. Quran memaparkan hal tersebut untuk menggambarkan bagaimana bentuk pengkhidmatan seorang ibu. Pengkhidmatan ini tidak setara dengan pengkhidmatan seorang ayah.
Perempuan dalam Irfan

Sebagaimana dipahami bersama, tak ada perempuan yang membawa syariat tertentu karena syariat merupakan aspek pelaksanaan atau implementasi. Namun mesti dipahami bahwa setelah kenabian tasyri’i dan berakhirnya risalah tasyri’i, pintu telah tertutup untuk semuanya, baik laki-laki atau perempuan. Karena itu setelah Rasulullah saw, bertahun-tahun lamanya tak ada lagi risalah baru yang muncul. Oleh karena itu, menjauhkan perempuan dari politik, sosial, budaya, dan ekonomi dengan alasan bahwa perempuan tidak membawa syariat adalah alasan yang tidak benar. Karena jika alasan ini dibenarkan, maka setelah berakhirnya risalah tasyri’i maka semestinya alasan ini pun berlaku terhadap laki-laki. Disisi lain, jika dipahami bahwa inti dari nubuwwah adalah wilayah, maka perempuan sama sekali tidak terhalangi dalam meraih hakekat wilayah. 
Comments
0 Comments

0 comments: