Thursday, October 9, 2014

ESKATOLOGI (MA’AD)

Pendahuluan
Setelah memahami bahwa manusia memiliki dua elemen penting yaitu ruh dan badan, pembahasan selanjutnya menjelaskan mengenai perpindahan dari alam dunia menuju alam akhirat. Apakah ruh dan badan sama-sama pindah ke alam sana, atau ruhnya saja, atau keduanya dengan sebuah penakwilan tertentu terhadap badan ?!
Pembahasan mengenai ma’ad pada umumnya dapat dibagi menjadi dua bagian; eksistensi atau keniscayaan realitas ma’ad dan bentuk perpindahan manusia di alam sana. Maksudnya apakah yang dibangkitkan itu ruh atau badan dan atau keduanya. Sebagian besar filsuf lebih tertarik membahas mengenai ma’ad jismani dan juga mengenai bagian pertama yaitu eksistensi ma’ad.
Pengertian Ma’ad
Pengertian tentang ma’ad:
1.   ~  Kembali ke tempat asal mula.
2. ~ Mati setelah kehidupan dan kehidupan setelah mati.
3. ~ Penciptaan alam lain seperti alam dunia sebagai tempat berkumpul mulai manusia pertama sampai manusia terakhir.
4. ~ Kembalinya jiwa ke asal mula.
5. ~ Perpindahan ruh dari alam dunia menuju alam akhirat.
6 ~ Penyatuan jiwa partikular pada jiwa universal.
7. ~ Kiamat adalah bangkitnya manusia dari kuburan di alam akhirat,  yaitu ketika Tuhan hendak menimbang amal-amal manusia dan pada saat yang sama malaikat datang secara berbaris-baris.

Seluruh definisi yang telah dikemukakan diatas menunjukkan bahwa pengertian ma’ad ialah kembali kepada alam keabadian.

Probabilitas Terjadinya Ma’ad
Jika belum dibuktikan kemungkinan terjadinya ma’ad atau kemungkinan hari kebangkitan, tentu pembahasan apapun mengenai ma’ad akan sia-sia. Dalam membuktikan realitas ma’ad, bisa melalui pembuktian adanya realitas yang serupa dengannya, keberadaan alam dunia menunjukkan tentang kemungkinan adanya keberadaan alam lain yang mirip dengan dunia, atau dapat pula dijelaskan melalui hirarki realitas alam yakni hubungan antara alam yang satu dengan alam yang lain.

Karekteristik Ma’ad dan Bentuk Realitasnya.
Berkenaan dengan ma’ad jismani, Menurut Sadra, sebagian besar teolog, filsuf, arif, dan sufi meyakini bahwa kebangkitan kelak adalah kebangkitan jismani sekaligus kebangkitan ruhani. Maksudnya jiwa manusia yang immateri, setelah terpisah dengan badannya, akan kembali lagi pada badannya yang semula. Mulla Sadra pun menyebut teorinya dengan ‘kembalinya badan semula yang disertai dengan jiwa’. Menurut Sadra, teori ini sesuai dengan syariat dan akal manusia. Bahkan penginkaran terhadapnya sebanding dengan pengingkaran atas teks Quran.
Kembalinya (mu’ad) badan semula manusia digambarkan seperti jika ada orang yang meninggal, kemudian ada arwah lain yang melihatnya di alam sana. Arwah tersebut akan mengatakan bahwa Si Fulan itu dulu yang ada di dunia. Pondasi pemikiran Sadra berkenaan dengan hal ini bahwa meskipun diri manusia itu tunggal namun pada saat yang sama berada dalam tiga alam sekaligus; alam materi, alam imajinasi (mitsal), dan alam akal.
Pada awalnya manusia itu materi, selanjutnya dengan gerak menyempurnanya menjadi manusia barzakhi dan perjalanan selanjutnya menjadi manusia akli dan ukhrawi. Dari tiga tingkatan manusia tersebut memiliki badan yang satu, namun pada saat yang sama bergradasi. Persis seperti perubahan-perubahan badan manusia dari anak-anak hingga menginjak masa tua. Maksudnya dikarenakan identifikasi badan tersebut pada jiwa dimana jiwa sejak semula adalah tunggal, maka badan ukhrawi adalah badan dunia itu sendiri yang telah mengalami penyempurnaan.
Namun menurut kaum teolog, maksud kembalinya badan semula ialah terkumpulnya kembali bagian-bagian badan yang telah terurai. Setiap bagian-bagian badan tersebut memiliki keterkaitan dengan jiwa tertentu dan oleh karena itu pula memiliki karekteristik tertentu pula. Jadi, badan yang telah terurai dan tersebar sebelumnya, kembali tersusun ulang karena Tuhan mengetahui sepenuhnya bagian-bagian dari badan tersebut. Setelah melewati proses ini, badan akan menyatu kembali dengan ruh sehingga orang yang semula ada di dunia kembali hadir di akhirat.
Meskipun Ibn Sina meyakini ma’ad jismani dan ma’ad ruhani, namun ia beranggapan dalil pembuktian ma’ad jismani itu lemah. Menurut Ibn Sina, hanya ma’ad ruhani yang bisa dibuktikan secara argumentasi akal. Dan keyakinan terhadap ma’ad jismani hanya bisa diyakini dengan iman melalui teks-teks suci.
Syekh Isyraq atau Suhrawardi juga menolak kebangkitan jismani dalam pemaknaan kembalinya bagian-bagian badan semula yang telah terurai. Namun Suhrawardi meyakini akan keberadaan badan barzakhi. Suhrawardi meyakini, manusia akan kembali ke alam cahaya dikarenakan jiwa cinta terhadap keberadaan sumber asalnya dan atau meninggalkan keteruraian.
Pembuktian Ma’ad
Beberapa dalil berikut ini yang jelaskan oleh Qur’an;
  • Tuhan itu MahaBenar dan tidak melakukan pekerjaan yang batil dan sia-sia. Proposisi ‘alam tak memiliki tujuan’ adalah proposisi yang salah. Karena itu alam ini memiliki tujuan yaitu mendapatkan ketenangan dan kedamaian di alam sana. Alam tersebut disebut dengan alam akhirat.
  • Tuhan MahaBijaksana. Dan Tuhan MahaBijaksana tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan hikmah dan keadilan. Demikian halnya bahwa Tuhan itu MahaAdil sehingga Tuhan memberikan ganjaran pada siapa yang berhak. Karena di dunia yang kita saksikan ini, tidak memberikan jaminan sepenuhnya untuk membalas kebaikan dan kesalahan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu mesti ada satu masa yang dapat membalas amal-amal manusia. Dan masa itu adalah hari kiamat.    
  • Keniscayaan dari rahmat Ilahi adalah mengantarkan manusia pada kesempurnaannya. Oleh karena itu mesti ada kiamat sehingga manusia dapat menyaksikan amal perbuatannya sendiri dan sekaligus menyampaikannya pada kesempurnaan.
  • Dalam surah Yasin ; 78 dijelaskan, Tuhan yang pada saat pertama kali menciptakan manusia, mampu untuk menciptakan kembali manusia tersebut seperti sediakala.
Dalil Argumentasi dari Filsuf
Mulla Sadra dalam beberapa karyanya menyimpulkan bahwa pondasi ma’ad jismani dan ruhani ialah;
  • Meskipun karekteristik badan senantiasa berubah, namun jiwa itu tetap dan menjadi penentu identitas personal badan. Oleh karena itu, keseluruhan badan dan jiwa di dunia akan dibangkitkan kembali di alam akhirat.
  • Wujud adalah kebaikan dan pengetahuan terhadapnya adalah bentuk kebaikan lainnya. Semakin sempurna wujud, semakin sempurna pula kebaikan. Oleh karena itu, eksistensi fakultas akal lebih unggul dan kebahagiaan baginya pun lebih besar. Kenikmatan yang dihasilkan dari persepsi-persepsi tersebut tak dapat dibayangkan, karena akal dari sisi persepsi lebih kuat dari persepsi indrawi. Namun kebaikan-kebaikan ini tak diperoleh selama jiwa masih melekat dengan badan duniawinya, ketika terpisah, barulah teraktual.
  • Jiwa mampu sampai pada maqam tertentu dimana kebergantungannya pada badan semakin sedikit dan jiwanya lebih besar tertuju pada alam lain. Kematian akan membuat badannya terpisah dengan jiwanya. Keterpisahan ini bukan karena ketidakmampuan jiwa dalam menjaga badannya, namun dikarenakan secara fitrawi jiwanya lebih tertuju ke alam sana.

Syekh Isyraq meyakini, kecintaan jiwa terhadap asal mula, lebih besar daripada kecintaan jiwa terhadap badannya. Semakin sedikit kebergantungannya pada materi, cintanya akan semakin besar kepada asal keberadaannya. Ketika manusia mati, badan akan kembali ke asalnya. Tak ada kenikmatan lebih besar dari mempersepsi kesempurnaan. Setelah manusia terpisah dari badannya, manusia akan menyaksikan realitas yang nyata dan emanasi Ilahi akan tercurahkan untuknya.         
Comments
1 Comments

1 comments:

Eskatologi syekh isyrok seperti apa pak?