Friday, November 27, 2015

AKU EKSISTENSIALIS

Aku lahir di dunia,

Aku telah menjadi,

Aku telah meng-ada,

Aku datang dengan fenomena,

Aku menjadi tumbuh dan besar,

Aku melompat dan sebagian dari badankumelompat,

Aku membuat badanku melompat,

Aku melompat dari satu titik menuju titik 
yang lain,

Aku melompat dari tempatku, 

Aku melompat dari tempatku menuju 
tempat lainnya,

Aku harus melompat, aku mesti dapat 
melompat,

Aku melompati dan melewati lidahku,

Aku memiliki persepsi, 

Aku mulai mendefinisikan diriku,

Aku menjerit dan aku berbicara,

Aku mulai mendengarkan keributan, 

Aku mencoba memilah keributan,

Aku membuat keributan,

Aku mengeluarkan suara keributan,

Aku mengeluarkan melodi,

Aku berhasil membuat melodi dan 
membuat keributan,

Aku berhasil berbicara,

Aku berhasil menjerit, 

Aku berhasil diam.

Aku memandang,

Aku melihat lagi pandangan-pandangan itu,

Aku menemukan kesadaran, 

Aku lebih memahami lagi sesuatu yang 
aku lihat sebelumnya,

Aku lebih memahami pandangan-pandangan itu,

Aku mempersepsi,

Aku mempersepsi lagi persepsi-persepsi yang telah dipersepsi,

Aku telah memiliki kesadaran,

Aku lebih memahami lagi sesuatu yang 
telah dipersepsi,

Aku mulai belajar, 

Aku mulai memahami kata-kata,

Aku mulai memahami kata-kata kerja,

Aku mulai memahami kalimat-kalimat telah dan sedang,

Aku mulai memahami nama-nama benda,

Aku mulai memahami tunggal dan jamak, 

Aku mulai memahami kalimat ‘orang 
ketiga’,

Aku bisa memilah disini dan disana,

Aku mulai memahami waktu dengan 
isyarat,

Aku mulai membedakan kata sifat,

Aku mulai memahami perbedaan baik dan buruk,

Aku mulai memahami kepemilikan,

Aku mulai memahami milikku,

Aku mulai membedakan milikmu,

Aku mulai merangkai realitas diriku,

Aku mulai bertanggung jawab atas 
pernyataan-pernyataanku,

Aku telah menjadi relasi-relasi dari pernyataanku,

Aku telah menjadi objek dari 
pernyataanku,

Aku mulai bertanggung jawab atas relasi-relasi tersebut,

Aku telah berubah menjadi terbuka atau 
tertutupnya mulutku,

Aku telah berubah menjadi sebuah rangkaian keangkuhan alfabet,

Aku hidup dalam kurun waktu tertentu,

Aku mulai berpikir tentang awal dan akhir,

Aku mulai berpikir tentang diriku, 

Aku mulai berpikir tentang orang lain,

Aku mulai keluar dari tabiat,

Aku telah menjadi, 

Aku bukan lagi tabiat,

Aku telah memiliki pilihan,

Aku mulai memahami bahwa engkau
bukan diriku,

Aku mulai bisa menjelaskan pilihanku,

Aku mulai bisa mendiamkan pillihanku,

Aku mampu menginginkan sesuatu,

Aku mampu tidak menginginkan sesuatu,

Aku telah menjadi,

Aku mulai bertanggung jawab,

Aku mampu makan dengan tanganku 
sendiri,

Aku mampu tidak lagi mengotori badanku,

Aku telah mampu mendengarkan nasehatorang lain,

Aku telah mampu menghindar dari 
keburukan-keburukan,

Aku telah mampu membedakan antara 
panas dan dingin,

Aku mampu untuk tidak bermain-main lagi,

Aku mampu memilah antara baik dan 
buruk,

Aku berusaha melakukan sesuai dengan 
permainan yang disepakati,

Aku bertanggungjawab agar tidak lari dari kesepakatan,

Aku mampu tidak melakukan sesuatu dari yang tidak disepakati,

Aku mampu menjauh dari apa yang tidak disepakati,

Aku suatu ketika mampu tidak melakukan dosa,

Aku suatu ketika mampu melewati batas-batas yang disepakati,

Aku suatu ketika patuh dalam pekerjaan,

Aku suatu ketika tak patuh dalam 
pekerjaan,

Aku telah menjadi, 

Aku telah bertanggungjawab, 

Aku menjadi penyebab,

Aku terpaksa membayar pilihan-pilihanku,

Aku terpaksa membayar pilihan-pilihan masa laluku,

Aku terpaksa membayar waktuku,

Aku baru saja menginjakkan kakiku 
diwaktu ini,

Keniscayaan ruang dan waktu mana yang aku langgar,

Keniscayaan kaidah logika mana yang aku langgar,

Keniscayaan rahasia mana yang aku 
langgar,

Akal sehat manakah yang aku langgar,

Kaidah-kaidah keabadian eksistensi mana yang 
aku langgar,

Kaidah cinta mana yang pernah aku 
langgar,

Kaidah permainan mana yang pernah aku langgar,

Kaidah keindahan mana yang pernah aku
 langgar,

Kaidah seni mana yang aku langgar,

Kaidah diam dan kebebasan mana yang 
aku langgar,

Apakah kaidah, logika, cinta, rahasia, 
permainan, keindahan, seni, diam, 
kebebasan, ruang dan waktu pernah aku
 langgar?

Aku telah melakukan,

Aku menghindar untuk melakukan,

Aku menunjukkan eksistensiku, 

Aku dengan pikiran menunjukkan 
eksistensiku,

Aku dengan bahasa aku tunjukkan
eksistensiku,

Aku menyatakan wujudku sendiri,

Aku menyatakan wujudku pada yang lain,

Aku menyatakan wujudku kepada ILahi,

Aku pergi,

Aku pergi dengan tujuan,

Aku pergi dengan tujuan walau tak 
mengerti tujuan itu apa,

Aku pergi tanpa tujuan,

Aku pergi dengan arah walau tanpa tujuan,

Aku adalah tujuan,

Aku memikirkan yang orang lain 
membicarakannya,

Aku membicarakan yang orang lain 
memikirkannya,

Aku seharusnya berbicara keras namun 
aku berbisik,

Aku seharusnya berbisik namun aku teriak,

Aku berbicara pada orang dimana 
berbicara padanya adalah keburukan,

Aku mengucapkan salam dimana ucapan salam padanya adalah pengkhianatan.

Karya Muhammad Nur Jabir

*puisi ini dibacakan pada peringatan Hari Filsafat Dunia di kampus Paramadina, 28 Nov 2015

Thursday, November 5, 2015

Bahasa dan Persoalan Kontradiksi

Pembahasan kali ini adalah hasil dari perdebatan sesama penghuni di Grup Telegram "Dialektika Pemikiran". Grup ini akan melaksanakan kajian tiap malam jumat. Malam jumat kemarin 5-11-2015 membahas mengenai bahasa dan persoalan-persoalan ketiadaan seperti kontradiksi.  Berikut ini beberapa hasil diskusi yang sempat kami edit;

1) Persoalan bahasa dalam logika tidak sama dengan pembahasan bahasa dalam filsafat.
namun struktur pembahasan bahasa dalam logika menjadi landasan pembahasan dan mempengaruhi pembahasan bahasa dalam filsafat khususnya dalam filsafat islam.

2) dalam epistemologi islam biasanya dijelaskan tiga relasi segitiga yang saling berkaitan antara objek eksternal, gambaran atau makna, dan bahasa. Relasi antara makna dengan objek eksternal sifatnya niscaya dan hakiki. Sedangkan hubungan antara bahasa dengan objek realitas eksternal beserta makna bersifat iktibari. Maksud dari iktibari disini yaitu dalam pengertian kesepakatan atau kontruksi mental.
Yang berarti tidak ada hubungan logis atau tak ada hubungan niscaya antara bahasa dan objek eksternal.

contohnya air eksternal bisa dibahasakan dalam berbagai bahasa; water, air, je'ne, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan hubungan diantaranya tidak niscaya akan tetapi iktibari. Namun antara air eksternal dgn maknanya adalah hubungan niscaya dan tetap.

Iktibari maksudnya bergantung kepada konstruksi mental kita. Sesuatu itu ada dan tidak adanya bergantung kepada konstruksi mental manusia. Sedangkan hakikat tidak bergantung kepada konstruksi mental kita, sesuatu itu ada dan tak ada, tidak bergantung pada kontruksi mental kita seperti gunung, pohon, lautan, yang ada di alam eksternal.

3) Hubungan antara bahasa dan filsafat sangat erat. Tanpa bahasa filsafat tak akan ada, karena itu bahasa memiliki peran penting dalam menjelaskan filsafat
sekaligus menjelaskan bagaimana hubungan antara bahasa dengan berpikir atau tafakkur hubungannya dengan bahasa.

4) Pembahasan selanjutnya terkait dengan persoalan kontradiksi. Pertanyaannya apa yang menyebabkan kita dapat membuat proposisi yang bersifat kontradiksi, misalnya segitiga bersisi empat, sedangkan di mental kita tidak menemukan contoh tersebut ?
Mental kita memiliki kekuatan yang luar biasa karena mampu mengasumsikan yang tak ada. Tiada diasumsikan keberadaannya sehingga terlihat ada di mental kita. Dalam diri manusia terdapat satu fakultas yang disebut dgn mutakhayyilah (creative imajination) yg mampu menghubungkan antara satu konsep dgn konsep lainnya
dan karena alam imajinasi tak terbatas maka potensi creative imajinasi kita pun senantiasa berkreasi tanpa batas, misalnya menghubungkan sesuatu yg bertentangan.

Namun mesti dipahami kontradiksi tidak ada di mental dan tidak ada di eksternal, tapi hanya ada di mafhum (konsep) saja.
konsep lebih umum dari mental dan eksternal. karena dalam filsafat Sadra, mental masih bagian dari gradasi eksistensi sehingga disebut dengan 'wujud zihni'.

Dalam kata lain, kontradiksi tidak berasal dari eksternal dan juga tidak berasal dari mental. Kontradiksi hanya konsep semata yang tidak memiliki akar realitas sama sekali, baik di mental maupun di eksternal.

Oleh karena itu mesti dipahami bahwa konsep-konsep dibenak kita tidak memiliki derajat yang sama, sebagian memiliki akar di alam eksternal, sebagian di mental, dan sebagiannya hanya kontruksi kita saja tanpa punya pijakan apapun, baik eksternal maupun internal.

5) lalu bagaimana kita bisa memiliki konsep kontradiksi?

konsep kontradiksi atau yang lebih luas lagi konsep-konsep yang terkait dengan ketiadaan berangkat dari sebuah pengasumsian (tsubut) bahwa ketiadaan seperti kontradiksi diasumsikan keberadaannya dan berdasarkan asumsi tersebut dibangunlah hukum-hukum dan kaidah-kaidah yg terkait dengan ketiadaan.

6) Bagaimana pertama kali mental kita menangkap ketiadaan?
Mental kita mengasumsikan keberadaan sesuatu terkadang melalui lawan dari suatu konsep tertentu, misalnya setelah menangkap konsep 'ada', secara otomatis benak kita menangkap lawannya yaitu tiada, kemudian dari konsep tiada tersebut, benak kita mengasumsikan keberadaannya, setelah itu barulah akal menjelaskan kaidah-kaidah yang terkait dengan tiada. Jadi hal-hal yg tiada, imajinasi kita memberikan asumsi keberadaannya.

karena itu dalam epistemologi islam, mental memiliki beragam fungsi; selain menangkap hakikat-hakikat eksternal, kerja lainnya memberikan asumsi keberadaan pada hal-hal yang tiada.

Oleh karena itu, ketiadaan tak ada di realitas eksternal, dan juga tak ada di mental, namun mental kita mampu mengasumsikan keberadaannya sehingga kita bisa mendiskusikannya dan membahasnya. Jadi keberadaannya adalah keberadaan yang diasumsikan saja.

Dengan demikian, berkat mental, kita bisa berdiskusi tentang sesuatu yang tidak memiliki misdak di alam eksternal.

Mengasumsikan disini dalam pengertian memberikan tsubut (atau membuat relasi subjek predikat, misalnya tiada adalah ada, maksudnya mental kita mengasumsikan keberadaannya
dalam konsep hingga diturunkan dalam bentuk proposisi).

Maksud dari asumsi disini adalah penetapan (tsubut), maksudnya mental kita mengasumsikan keberadaannya, sebab tiada adalah tiada, tak punya pijakan realitas, baik eksternal maupun internal. karena itu mental kita mengasumsikan keberadaan tiada atau memberikan penetapan padanya (tsubut). Jadi di mental, tiada menjadi ada dan berkat mental kita yang memberikan (tsubut) penetapan.

Dalam kata lain, kekuatan mental kita mampu memberikan tsubut dan mengasumsikan tiada adalah ada. sehingga memiliki subjek dan predikat.

Hormat Kami
Moderator Grup Telegram Dialektika Pemikiran

Muhammad Nur Jabir

Wednesday, September 23, 2015

Setiap Eid adalah Eid Qurban

Setiap Eid adalah Eid Qurban

Jalaluddin Rumi menakwil 'eid' atau Hari Raya sebagai jalan membuka gembok penjara sehingga orang-orang yang terpenjara mendapatkan kebebasan. Bukan hanya orang-orang yang terpenjara oleh materi, namun juga mereka yang terpenjara oleh kekuasaan, terpenjara oleh ketamakan, terpenjara oleh dengki dan hasud, dan lain-lainnya.

Karekteristik 'Eid' ialah memecahkan gembok penjara dan memecahkan cengkraman lingkaran kesesatan yakni dari penjara kezaliman, penjara keterikatan, penjara kejumudan, penjara keterasingan atas diri sendiri, penjara kesepian, serta penjara keterpisahan.

Kata Rumi;

Aku datang lagi bagai Eid agar kubuka gembok-gembok penjara,
dari cengkraman dan taring kanibal.

Orang-orang yang terpenjara di tanah akan merobek bumi. Benih-benih yang sebelumnya terjebak ditanah secara perlahan mulai menampakkan dirinya dan menjadi hijau. Dan yang lebih penting dari segalanya bahwa badan dalam pandangan sufistik adalah penjara dan 'Eid' ruh yang merobek penjara badan. Maksudnya ruh berhasil mendominasi badan dan keluar dari cengkraman badan.

Kata Rumi;

alam ini adalah penjara dan kita adalah orang-orang yang terpenjara,
runtuhkanlah penjara dan jadikan dirimu orang-orang yang bebas.

Sebab itu mati adalah Eid sehingga kematian menemukan maknanya yang baru. Sebab berada pada singgasana mendominasi bukan didominasi. Namun kematian ini bukan kematian sebagai akhir dari kehidupan akan tetapi kematian iradah dimana kematian iradah adalah Qurban itu sendiri. Berdasarkan pemaknaan ini setiap Eid adalah Eid Qurban. Mengorbankan kegelapan di singgasana istana cahaya, mengorbankan kejumudan di kaki puncak pengetahuan dan nalar.

Takdir terbaik bayangan dan kegelapan adalah menjadi quban cahaya. Sebab itu Rumi mengatakan;

musuh adalah kita sendiri dan biarkan kekasih membunuh kita,
kita tenggelam dalam lautan dan kita akan terbunuh oleh ombak.

Pengorbanan adalah karekteristik Eid. Sebab itu setiap Eid meniscayakan qurban. Kegelapan adalah qurbah cahaya, kekerdilan adalah qurban keagungan, dan kekerasan adalah qurban kasih sayang dan kelembutan.

Sebagian orang menyangka Eid adalah fenomena eksternal dan kejadian yang baru yang realitasnya berada diluar eksistensi manusia. Namun hakikatnya, Eid yang meniscayakan kebaruan, tidak terjadi diluar eksistensi manusia. Selama batin manusia tidak memberikan kebaruan, alam realitas eksternalnya pun tak akan memberikan kebaruan. Kebaruan batin adalah hasil dari proses panjang yang dibarengi dengan derita dan penderitaan.

Manusia yang tak mengalami derita dan mencicipi pahit serta tak merasakan penantian, dirinya tak akan merasakan manisnya batin kebahagiaan. Baginya, kenikmatan alam selalu saja berlalu dan tak memberikan warna baru bagi dirinya. Padahal nikmat setiap saat selalu saja baru dan baru.

Akhirnya kami segenap pengurus beserta admin Rumi Institute mengucapkan selamat Hari Raya Qurban.

Mohon maaf lahir dan batin.

Direktur Eksekutif Rumi Institute
Muhammad Nur Jabir

Thursday, September 10, 2015

Pandangan Dunia Jalaluddin Rumi

Tiga unsur utama yang membentuk pandangan dunia Rumi; realitas, makrifat, dan subjek yang mempersepsi. Semua orang meyakini termasuk Rumi bahwa tak ada yang meragukan keberadaan realitas eksternal, suatu keberadaan diluar hakikat diri kita atau diluar benak kita. Dalam sejarah pemikiran, hanya kaum shopis saja yang mengingkari keberadaan realitas eksternal secara mutlak. Namun terlihat dalam keseharian mereka tidak mengamalkan apa yang mereka yakini sendiri karena mereka masih beraktifitas dengan entitas-entitas realitas eksternal.
Sebenarnya realitas itu apa ? Para pemikir telah menguraikan beberapa definisi terkait dengan makna realitas. Namun realitas secara sederhana dapat dimaknai dengan keberadaan yang tidak bergantung kepada pemahaman kita. Maksudnya keberadaan realitas tersebut tidak bergantung pada persepsi kita. Ada dan tidaknya tidak bergantung kepada benak kita. 
Maulana Rumi juga memahami realitas sebagai keberadaan yang keberadaannya tidak bergantung pada persepsi kita. Tapi Rumi tidak berhenti disini, Rumi membuka ruang baru atas pemaknaan realitas. Menurutnya, terjalin relasi yang begitu erat antara realitas dengan potensi yang dimiliki manusia sebagai subjek yang mempersepsi. Jika manusia menguatkan faktor-faktor pendukung dalam mempersepsi sesuatu maka ia akan menemukan realitas-realitas yang baru. Misalnya jika manusia mempertajam persepsi intuisinya seperti potensi dalam menangkap keindahan, maka ia akan mampu memaknai keindahan-keindahan yang ada di realitas eksternal yang selama ini mungkin saja ia yakini sebagai sesuatu yang tidak indah.
Pemaknaan baru atas realitas dalam pandangan Rumi sama sekali bukan dalam pemaknaan bahwa kitalah yang menciptakan realitas. Sebab maksud Rumi dalam persoalan ini yaitu jika potensi-potensi yang ada di dalam diri manusia terbuka dan teraktual, maka manusia akan memiliki relasi-relasi yang lebih luas. Sama sekali bukan dalam pemaknaan bahwa kitalah yang menciptakan realitas. Sebagaimana dalam syair Rumi berikut ini;
تا رهد زین عقل پرحرص وطلب       صد هزاران عقل بیند بوالعجب  
Jika akal yang penuh dengan rakus dan tamak ini bebas
Wahai bul ‘Ajab! Ratusan akal akan terlihat
M.M, Bag 4, 3649) 

Persoalan pandangan dunia bagi Rumi sangat terkait dengan keterbukaan aspek pencarian tujuan dan pemaknaan dalam diri manusia. Jika manusia hanya disibukkan dan tenggelam dalam fenomena-fenomena keseharian dan terperangkap dalam keinginan-keinginan hawa nafsu, aspek pencarian pemaknaan dan tujuan dalam dirinya akan redup, bahkan dia tak kan lagi mampu bergerak lebih jauh dalam mengaktualkan dirinya. Hati, intuisi, dan memaknai cita rasa kehidupan menjadi faktor penggerak dalam menemukan realitas-realitas yang baru.
Contoh sederhana, bayangkan jika kita mengumpulkan seluruh kitab-kitab penting dunia seperti buku-buku filsafat, irfan, tasawwuf, kemudian kita menghilangkan bagian yang terkait dengan intuisi, hati, dan makna hidup, apakah buku-buku tersebut masih mendapatkan tempat dan layak dibaca?
Hal yang paling utama dalam diri manusia adalah karena manusia mempertemukan dua realitas utama; materi dan immateri. Manusia seperti kanal penghubung antara dua lautan; lautan materi dan lautan immateri. Sebab itu Rumi dalam hal ini sangat meyakini bahwa manusia tidak menciptakan realitas tersebut namun menemukannya. Dan intinya terletak pada fakultas persepsi manusia yang mesti diaktualkan sehingga mampu membuka realitas-realitas baru.
Pandangan dunia Rumi adalah sebuah pandangan dunia yang berusaha mengoptimalkan segala potensi yang ada di dalam diri manusia. Beragam potensi berupa fakultas dapat ditemukan dalam diri manusia dan potensi tersebut dapat meluas jika menemukan keterbukaannya. Berdasarkan pandangan ini, pandangan dunia Rumi juga tentunya dapat dipahami sebagai pandangan dunia yang terbuka mengikuti fakultas manusia yang senantiasa berpotensi menemukan keterbukaan dan keterluasan. 
Dari sini kita akan terlihat relasi antara pandangan dunia dengan dasar pemikirannya. Maksudnya sistem pemikiran Rumi sebagai sistem terbuka akan terlihat dengan jelas dalam aktualitas pemikirannya berikut ini;

1. Metode dalam Cerita dan Kisah
Kejeniusan Rumi dapat terlihat bagaimana ia menggunakan suatu kisah dan cerita dalam menjelaskan makna yang ingin disampaikan.  Rumi sama sekali tak peduli apakah kisah dan cerita tersebut benar adanya atau salah. Apa yang penting baginya adalah menyampaikan pesan dengan memanfaatkan suatu kisah atau cerita. Dalam Matsnawi ia mengakui hal tersebut;  
هم مثال ناقصی دست آورم        تا ز حیرانی خرد را واخرم 
Terkadang analogi (kisah) yang tak sempurna aku sampaikan
Hingga ku katakan, ku bawa akal pada keterpesonaan 
M.M, Bag 4, 424)
    
Kritik terhadap kisah dan cerita yang disampaikan Rumi dalam syair-syairnya menurut pandangan ini tidak tepat sebab Rumi sama sekali tidak peduli apakah kisah itu benar atau salah dan apakah kisah tersebut sempurna atau tidak semppurna. Tugas Rumi adalah menyampaikan prinsip-prinsip filosofis, pondasi pandangan dunia, manusia dan kemanusiaan, serta persoalan-persoalan Ilahiyyat melalui kisah, cerita, dan analogi sehingga kaum awam dapat memahaminya.

2. Paradigma Pandangan Dunia
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan sepintas mengenai pandangan dunia dalam pemikiran Rumi. Selanjutnya akan kami paparkan paradigma yang membentuk pandangan dunia Rumi;
a) Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Rumi tidak meragukan alam eksistensi sebagai suatu realitas yang nyata. Fenomena-fenomena seperti gerak, perubahan, paradoksikalitas alam semesta, serta proses gerak menyempurna dari materi menuju tingkatan eksistensi yang lebih sempurna, seluruhnya adalah bukti nyata keberadaan alam eksistensi. Namun penekanan Rumi yaitu membuktikan keberadaan suatu realitas melalui keterbukaan dan mengaktualkan dimensi-dimensi serta fakultas-fakultas manusia. Terminologi yang digunakan Rumi dalam menjelaskan potensi dan dimensi adalah dengan terminologi mata hati, akal, dan yang dipersepsi. 
خاصه چشم دل که آن هفتاد توست      پیش چشم حس که خوشه چین اوست 
Khususnya mata hati yang memiliki 70 batin
Sedangkan mata lahir ini himpunan pemungutannya.
M.M, Bag 4, 338)

غیراز این معقول ها. معقول ها       یابی اندر عشق پُرفرّوبها
selain dari konsep-konsep ini, ada konsep-konsep lain
Akan kau temukan dalam keagungan dan kemuliaan cinta
(M.M, Bag 5, 3233)

Sayangnya banyak yang salah memahami dari syair-syair Rumi sehingga menganggap Rumi penganut aliran idealisme. Mungkin karena Rumi lebih banyak menaruh perhatian kepada aspek internal manusia. Asumsi tersebut terjadi karena mereka tidak memahami maksud dari syair-syair tersebut. Apalagi jika meyakini bahwa pandangan dunia Rumi adalah pandangan dunia yang terbuka, maka Rumi tidak akan dibatasi dalam satu isme tertentu.
b) Maulana Rumi dalam berbagai karyanya tidak membuktikan secara langsung mengenai keterbatasan alam ini. Meski demikian Rumi meyakini apapun yang ada di alam ini, eksistensi mereka tak lagi memiliki realitas dihadapan keagungan dan kebesaran Tuhan. 
Eksistensi alam ini bagi Rumi tidak abadi dan tidak pula kekal. Bahkan jika pun toh  alam ini diasumsikan seolah tak ditemukan batasan akhirnya, namun mesti tetap diasumsikan keterbatasannya. Sebab biar bagaimanapun kita telah menjangkau alam ini melalui eksistensi dan persepsi kita sendiri. Sebab jika persepsi kita mampu menjangkaunya hal ini menunjukkan bahwa realitas tersebut terbatas. Dalam Matsnawi Rumi menjelaskan;
  حق آن كه دايگى كردى نخست            تا نهال ما ز آب و خاك رست
Demi Tuhan, dengan pemeliharaannya hingga ranting kami mengalir air
Tanah tumbuh dan berkembang
          حق آن شه كه ترا صاف آفريد            كرد چندان مشعله در تو پديد
Demi Tuhan yang telah menciptakanmu dengan kelembutannya
Dan obor bintang yang menyala-nyala menyinari dadamu 
         آن چنان معمور و باقى داشتت            تا كه دهرى از ازل پنداشتت‏
Begitu kokoh dan kekal menciptakanmu
Sehingga materialisme mengira dirimu azali 
         شكر دانستيم آغاز ترا            انبيا گفتند آن راز ترا
Kami bersyukur pada Ilahi, karena kami tahu dirimu berawal
Para Nabi telah menjelaskan rahasia dirimu 
         آدمى داند كه خانه حادث است            عنكبوتى نه كه در وى عابث است   
Manusia tahu, rumah itu berawal dan baru
Namun laba-laba yang bernaung dirumahnya tak kan tahu
(M.M, Bag 2, 2316-2320) 
     
Hukum yang berlaku di alam eksistensi ini menurut Maulana Rumi bahwa alam eksistensi dalam keberlangsungannya terus menerus dijaga oleh Tuhan. Keterjagaan alam ini setiap saat dan terus menerus oleh Tuhan adalah bukti keterbatasan alam karena segala entitas di alam ini senantiasa membutuhkan pancaran emanasi Ilahi. Pada saaat yang sama bersamaan dengan pancaran emanasi Ilahi, kehendak Ilahi pun akan selalu menyertai dalam setiap pancarannya.
   قرنها بگذشت و اين قرن نوى است            ماه آن ماه است آب آن آب نيست‏
Abad-abad telah berlalu, dan ini abad baru,
Bulannya, bulan-bulan itu juga, namun airnya, bukan air itu lagi.
         عدل آن عدل است و فضل آن فضل هم            ليك مستبدل شد آن قرن و امم‏
Keadilan adalah keadilan itu juga, pengetahuan pun pengatahuan itu juga,
Namun abad-abadnya dan kaum-kaumnya telah berganti.
         قرنها بر قرنها رفت اى همام            وين معانى برقرار و بر دوام‏
Wahai manusia besar! Abad-abad pergi silih berganti,
Namun pemaknaan ini kekal dan abadi.
         آب مبدل شد در اين جو چند بار            عكس ماه و عكس اختر برقرار
Air di aliran ini telah berganti beberapa kali,
Namun gambar bulan dan bintang tetap
         پس بنايش نيست بر آب روان            بلكه بر اقطار عرض آسمان
Sebab itu paradigmanya bukan pada air mengalir,
Namun pada hamparan singgasana langit.  

Wednesday, August 19, 2015

Naive Wahdatul Wujud

Wujud dalam pandangan Ibn Arabi;

1. Wujud tak dapat didefiniskan.

2. Wujud adalah hakikat tunggal. Sebab itu tidak terkait dengan univokal (musytarak maknawi) dan equivokal (muyatarak lafzi) karena hanya ada satu wujud.

3. Seluruh kesempurnaan-kesempurnaan akan kembali kepada hakikat wujud.

4. Wujud tidak bergradasi. Namun gradasi terjadi pada manifestasi (tajalli), bukan pada wujud.

5. Wujud identik dengan cahaya.

6. Wujud identik dengan ketunggalan.

7. Wujud identik dengan keniscayaan.

Menurut urafa, wujud tidak terbagi pada wujud wajib dan wujud mumkin. Bahkan wujud identik keniscayaan dan keniscayaan akan kembali kepada hakikat wujud, bukan kepada partikular-partikular wujud. Paradigma wujud seperti ini disebut dengan wahdatul wujud.

Mehdi Hairi Yazdi menyebut pandangan wujud Ibn Arabi dengan sebutan 'naive wahdatul wujud' yaitu suatu paradigma wujud yang sama sekali tak bisa dianalisa dengan bahasa dan pemahaman serta tak bisa dianalisa secara filosofis. Sebab 'naive wahdatul wujud' tak memiliki satu jenis keragaman apapun sehingga tak bisa dijelaskan dalam kerangka dan kaidah-kaidah filsafat.

Berbeda dengan naive wahdatul wujud dalam tradisi tasawwuf, wahdatul wujud dalam kerangka filsafat masih menerima perbedaan dalam dirinya yang disebut dengan gradasi wujud sebagaimana yang dijelaskan oleh Mulla Sadra. Adanya perbedaan ini menyebabkan wujud masih bisa dianalisa melalui bahasa dan pemahaman dengan kaidah-kaidah filsafat. Mehdi Hairi Yazdi menyebut paradigma wahdatul wujud filsafat dengan 'critical wahdatul wujud'.