Thursday, November 5, 2015

Bahasa dan Persoalan Kontradiksi

Pembahasan kali ini adalah hasil dari perdebatan sesama penghuni di Grup Telegram "Dialektika Pemikiran". Grup ini akan melaksanakan kajian tiap malam jumat. Malam jumat kemarin 5-11-2015 membahas mengenai bahasa dan persoalan-persoalan ketiadaan seperti kontradiksi.  Berikut ini beberapa hasil diskusi yang sempat kami edit;

1) Persoalan bahasa dalam logika tidak sama dengan pembahasan bahasa dalam filsafat.
namun struktur pembahasan bahasa dalam logika menjadi landasan pembahasan dan mempengaruhi pembahasan bahasa dalam filsafat khususnya dalam filsafat islam.

2) dalam epistemologi islam biasanya dijelaskan tiga relasi segitiga yang saling berkaitan antara objek eksternal, gambaran atau makna, dan bahasa. Relasi antara makna dengan objek eksternal sifatnya niscaya dan hakiki. Sedangkan hubungan antara bahasa dengan objek realitas eksternal beserta makna bersifat iktibari. Maksud dari iktibari disini yaitu dalam pengertian kesepakatan atau kontruksi mental.
Yang berarti tidak ada hubungan logis atau tak ada hubungan niscaya antara bahasa dan objek eksternal.

contohnya air eksternal bisa dibahasakan dalam berbagai bahasa; water, air, je'ne, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan hubungan diantaranya tidak niscaya akan tetapi iktibari. Namun antara air eksternal dgn maknanya adalah hubungan niscaya dan tetap.

Iktibari maksudnya bergantung kepada konstruksi mental kita. Sesuatu itu ada dan tidak adanya bergantung kepada konstruksi mental manusia. Sedangkan hakikat tidak bergantung kepada konstruksi mental kita, sesuatu itu ada dan tak ada, tidak bergantung pada kontruksi mental kita seperti gunung, pohon, lautan, yang ada di alam eksternal.

3) Hubungan antara bahasa dan filsafat sangat erat. Tanpa bahasa filsafat tak akan ada, karena itu bahasa memiliki peran penting dalam menjelaskan filsafat
sekaligus menjelaskan bagaimana hubungan antara bahasa dengan berpikir atau tafakkur hubungannya dengan bahasa.

4) Pembahasan selanjutnya terkait dengan persoalan kontradiksi. Pertanyaannya apa yang menyebabkan kita dapat membuat proposisi yang bersifat kontradiksi, misalnya segitiga bersisi empat, sedangkan di mental kita tidak menemukan contoh tersebut ?
Mental kita memiliki kekuatan yang luar biasa karena mampu mengasumsikan yang tak ada. Tiada diasumsikan keberadaannya sehingga terlihat ada di mental kita. Dalam diri manusia terdapat satu fakultas yang disebut dgn mutakhayyilah (creative imajination) yg mampu menghubungkan antara satu konsep dgn konsep lainnya
dan karena alam imajinasi tak terbatas maka potensi creative imajinasi kita pun senantiasa berkreasi tanpa batas, misalnya menghubungkan sesuatu yg bertentangan.

Namun mesti dipahami kontradiksi tidak ada di mental dan tidak ada di eksternal, tapi hanya ada di mafhum (konsep) saja.
konsep lebih umum dari mental dan eksternal. karena dalam filsafat Sadra, mental masih bagian dari gradasi eksistensi sehingga disebut dengan 'wujud zihni'.

Dalam kata lain, kontradiksi tidak berasal dari eksternal dan juga tidak berasal dari mental. Kontradiksi hanya konsep semata yang tidak memiliki akar realitas sama sekali, baik di mental maupun di eksternal.

Oleh karena itu mesti dipahami bahwa konsep-konsep dibenak kita tidak memiliki derajat yang sama, sebagian memiliki akar di alam eksternal, sebagian di mental, dan sebagiannya hanya kontruksi kita saja tanpa punya pijakan apapun, baik eksternal maupun internal.

5) lalu bagaimana kita bisa memiliki konsep kontradiksi?

konsep kontradiksi atau yang lebih luas lagi konsep-konsep yang terkait dengan ketiadaan berangkat dari sebuah pengasumsian (tsubut) bahwa ketiadaan seperti kontradiksi diasumsikan keberadaannya dan berdasarkan asumsi tersebut dibangunlah hukum-hukum dan kaidah-kaidah yg terkait dengan ketiadaan.

6) Bagaimana pertama kali mental kita menangkap ketiadaan?
Mental kita mengasumsikan keberadaan sesuatu terkadang melalui lawan dari suatu konsep tertentu, misalnya setelah menangkap konsep 'ada', secara otomatis benak kita menangkap lawannya yaitu tiada, kemudian dari konsep tiada tersebut, benak kita mengasumsikan keberadaannya, setelah itu barulah akal menjelaskan kaidah-kaidah yang terkait dengan tiada. Jadi hal-hal yg tiada, imajinasi kita memberikan asumsi keberadaannya.

karena itu dalam epistemologi islam, mental memiliki beragam fungsi; selain menangkap hakikat-hakikat eksternal, kerja lainnya memberikan asumsi keberadaan pada hal-hal yang tiada.

Oleh karena itu, ketiadaan tak ada di realitas eksternal, dan juga tak ada di mental, namun mental kita mampu mengasumsikan keberadaannya sehingga kita bisa mendiskusikannya dan membahasnya. Jadi keberadaannya adalah keberadaan yang diasumsikan saja.

Dengan demikian, berkat mental, kita bisa berdiskusi tentang sesuatu yang tidak memiliki misdak di alam eksternal.

Mengasumsikan disini dalam pengertian memberikan tsubut (atau membuat relasi subjek predikat, misalnya tiada adalah ada, maksudnya mental kita mengasumsikan keberadaannya
dalam konsep hingga diturunkan dalam bentuk proposisi).

Maksud dari asumsi disini adalah penetapan (tsubut), maksudnya mental kita mengasumsikan keberadaannya, sebab tiada adalah tiada, tak punya pijakan realitas, baik eksternal maupun internal. karena itu mental kita mengasumsikan keberadaan tiada atau memberikan penetapan padanya (tsubut). Jadi di mental, tiada menjadi ada dan berkat mental kita yang memberikan (tsubut) penetapan.

Dalam kata lain, kekuatan mental kita mampu memberikan tsubut dan mengasumsikan tiada adalah ada. sehingga memiliki subjek dan predikat.

Hormat Kami
Moderator Grup Telegram Dialektika Pemikiran

Muhammad Nur Jabir

Comments
0 Comments

0 comments: