Monday, April 4, 2016

Kajian Suluk (1)

Perbedaan Akhlak dengan Amalan Sufistik;
1.      Pembahasan akhlak adalah suatu pembahasan yang akan membimbing manusia dalam meraih sifat-sifat malakah dengan menundukkan beberapa fakultas dalam diri manusia. Sedangkan amalan sufistik dilakukan sebagai tujuan agar menyaksikan hakikat-hakikat batin dan tujuan tertinggi adalah liqaullah.
2.      Pembahasan yang tidak dibahas di dalam persoalan akhlak ialah mengenai persoalan sair suluk atau mengarungi perjalanan ruhaniah dari satu maqam menuju maqam selanjutnya hingga sampai pada puncak tertinggi yaitu liqaullah. Adapun wilayah akhlak membimbing manusia dalam memperindah ruh dengan sifat-sifat yang baik seperti adil, jujur, amanah, dan sifat-sifat lainnya. Selain itu pula tugas akhlak adalah menjauhkan nafs dari sifat-sifat yang buruk.
3.      Tindakan manusia tanpa disertai dengan tawajjuh kepada Ilahi akan menyebabkan tindakan tersebut tak lagi punya makna secara ruhaniyah. Sedangkan dalam akhlak tidak mesti disyaratkan demikian.
Beberapa hal penting terkait dengan persoalan tazkiyah dan suluk;
1.      Setelah manusia memutuskan berjalan menuju Allah swt, kebutuhan utama seorang pesuluk adalah terkait dengan persoalan riyadhah (latihan) atau biasa juga disebut dengan tazkiyah. Adapun makna berjalan menuju Allah swt;
a.       Bahwa kita akan berangkat menuju Tuhan dalam tingkatan yang paling batin, sebagaimana Quran menjelaskannya dengan kalimat "Dialah yang Akhir".
b.      Dalam surah al-Syura (42);53, "ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali segala urusan”. Ayat tersebut ingin menjelaskan bahwa hakikat segala sesuatu kembali kepada Allah swt, bukan kembali kepada surga dan neraka. Sebab itu jika manusia kembali kepada neraka atau surga, sebenarnya kita tidak termasuk ke dalam rombongan kafilah alam semesta sebab alam semesta kembali kepada Allah swt, bukan ke neraka atau ke surga.
c.       Dalam surah al-Maidah (5);35 Allah swt berfirman, " . . . dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya". Allah swt memerintahkan kita untuk mencari perantara agar dapat kembali kepada-Nya. Bahwa tujuan adalah Allah swt dan selain Tuhan adalah wasilah atau perantara. Namun manusia yang tak sadar menjadikan Tuhan sebagai perantara agar dimasukkan ke surga sehingga tujuannya adalah sorgawi, bukan kepada Ilahi.
d.      Dalam surah al-Qashas (28);88 Allah swt berfirman, "tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya”. Berdasarkan ayat ini, jika kita mencari selain Allah swt pada hakikatnya kita mencari kesirnaan dan bukan keabadian sebab segala sesuatu sirna kecuali wajah-Nya.
2.      Pada umumnya setelah manusia memiliki kesadaran dan merenungi bahwa Allah swt meliputi segala sesuatu, manusia akan mengalami apa yang disebut dengan yaqzah. Yaqzah adalah suatu bentuk perubahan secara revolusioner dalam diri manusia. Perubahan tersebut secara langsung akan menarik manusia kembali kepada Ilahi. Manusia rindu dan ingin bergerak untuk sampai kepada kebahagiaan yang sejati yang disebut dengan liqaullah. Sebab itu menurutu kaum sufi, iradah adalah awal gerak manusia dan liqaullah  adalah titik akhir perjalan manusia.
Diantara maksud-maksud dalam melakukan riyadhah;
1.      Menjauhkan segala hal selain Tuhan dalam proses suluk. Disini pesuluk akan memahami bahwa zuhud yang sebenarnya adalah menghilangkan segala bentuk rintangan eksternal yang dapat menghalangi manusia menuju Allah swt.
2.      Menghilangkan penghalang internal atau segala sesuatu yang ada di dalam diri manusia yang akan menghalangi manusia menuju Allah swt. Berikut ini beberapa hal yang mesti dilakukan agar manusia bisa berhasil dalam melakukan tahap ini;
a.       Beribadah yang disertai dengan tafakkur.
b.      Mendengarkan keindahan Ilahi.
c.       Mendengarkan perkataan orang-orang yang memiliki jiwa yang bersih.
3.      Manusia berusaha melembutkan jiwanya sebab Allah swt memiliki sifat lathif (MahaLembut) sebab itu jika manusia tak memiliki jiwa yang lembut akan sulit terkoneksi secara langsung (tanpa hijab) dengan Ilahi. Dalam hal ini manusia perlu melakukan dua hal: berusaha memiliki pikiran yang jernih dan juga cinta yang jernih.
Penjelasan Mengenai Zuhud
Pemaknaan zuhud dalam ranah sufistik berbeda dengan zuhud dalam ranah akhlak. Zuhud dalam ranah akhlak tak ubahnya seperti transaksi, seolah-olah memberikan sesuatu dan berharap mendapatkan sesuatu dari pemberian tersebut. Adapun zuhud bagi seorang arif ialah meninggalkan segala bentuk kenikmatan yang akan menghalangi manusia berjalan menuju Ilahi. Dalam kata lain, zuhud bagi seorang arif ialah meninggalkan segala perkara yang akan membuat manusia lalai dari mengingat Ilahi.
Makna Tafakkur
Maksud dari tafakkur disini ialah menundukkan nafsu ammarah melalui nafsul muthmainnah. Jika nafsul muthmainnah berhasil mendominasi nafsu ammarah maka fakultas imajinasi dan waham manusia akan suci dan mampu menghindari hal-hal yang buruk. Sebelum melakukan riyadhah, manusia terpenjara oleh alam imajinasi dan wahamnya namun setelah melakukan riyadhah akan terbebas dari hal tersebut.
Dalam menundukkan nafsu ammarah, hendaknya manusia melakukan ibadah yang disertai dengan tafakkur. Jika dalam melakukan suatu rangkaian ibadah, jiwanya senantiasa tawajjuh kepada Allah swt maka ia sedang berada di jalan Allah swt sehingga ia akan mendapatkan pertolongan dari aspek tawajjuh tersebut.   

Dosa adalah penghalang dalam meraih ketaatan. Demikian halnya, meninggalkan tafakkur akan menghalangi manusia dalam mengingat (tazakkur) sebab tafakkur bermakna 'mencari' dan tazakur bermakna 'memiliki'. Oleh karena itu, pertama manusia bertobat (kembali) dan setelah itu senantiasa mengingat Allah swt.
Comments
0 Comments

0 comments: