Tuesday, December 1, 2015

Aku dan Aku

Aku tidak tahu siapa sebenarnya “Aku”. Tetapi, ketika aku berjalan ke dalam diriku sendiri, maka aku pun terkejut : ternyata “Aku” adalah suara milik-Mu, gema yang terpantul dari “Dinding - Keilahian”.

~ Rumi

Takwil;
"Aku tidak tahu siapa sebenarnya aku". Pertanyaan mengenai diri yaitu aku adalah pertanyaan eksistensial. Suatu pertanyaan eksistensial membutuhkan pendekatan eksistensialis atau pendekatan fenomenologis, sebab fenomenologis bagian dari mode eksistensi.

Aku secara fenomenologis dapat dimaknai sebagai aku yang nampak secara alamiah pada realitas eksternal. Seperti aku yang mendengar, aku yang melihat, aku yang merasa, aku yang berjalan, dan aktifitas-aktifitas lainnya sebagaimana yang nampak diluar.

Namun pertanyaannya, apakah aku adalah pendengaran? apakah aku adalah penglihatan? apakah aku adalah imajinasi? apakah aku adalah pikiran? apakah aku adalah intuisi?

atau apakah aku adalah gabungan dari penglihatan + pendengaran + imajinasi + pikiran = aku? jika demikian, apakah ketika penglihatanku hilang tak bisa lagi disebut aku? apakah ketika pendengaranku hilang tak bisa lagi disebut aku? dan faktanya bahwa kehilangan pendengaran dan penglihatan dan begitu pula kehilangan fakultas jiwa lainnya tak meniscayakan menghilangkan eksistensi aku.

Sebab itu, aku bukan pendengaran, bukan penglihatan, bukan pikiran, namun pada saat yang sama, aku hadir pada pendengaran, penglihatan, dan pikiran. Lalu aku itu apa?

Maulana Rumi memberikan tanda untuk mengenal esensi aku. Kata Rumi, "tetapi ketika aku berjalan ke dalam diriku sendiri . . .". Manusia mesti berjalan ke dalam dirinya sendiri. Berjalan berarti meninggalkan satu titik agar dapat berangkat menuju titik lainnya. Dalam hal ini, manusia mesti berjalan dari yang nampak menuju yang batin. Sebab itu perjalanan mencari aku, bukan perjalanan keluar, namun perjalanan ke dalam yaitu ke dalam diri kita sendiri. Bukankah setiap hari kita berjalan di luar dan tak pernah menemukan aku?!

Kemudian kata Rumi, dalam perjalanan diri menuju aku yang batin akan mengejutkan kita sebab aku bukan lagi aku yang independen dan berdiri sendiri, namun aku yang bergantung secara totalitas pada Ilahi. Dalam bahasa Rumi, "ternyata “Aku” adalah suara milik-Mu, gema yang terpantul dari “Dinding - Keilahian”.

Eksistensi Suara adalah udara, udara yang mengalir dari perut. Jadi aku adalah suara, maksudnya aku pada hakikatnya tak memiliki eksistensi apapun. Sebab suara tak pernah memiliki eksistensi secara independen dan berdiri sendiri. karena itu aku adalah kebergantungan secara totalitas pada Ilahi. aku tak memiliki eksistensi yang independen dan berdiri sendiri. Aku adalah ruh Ilahi. Sebagaimana Firman Ilahi, "dan Aku tiupkan ruhku padanya".

Muhammad Nur Jabir

Comments
0 Comments

0 comments: