Saturday, August 10, 2019

Gerak, Hijrah, dan Haji

Jika kita ingin memahami tata cara pelaksaan ibadah haji, sudah semestinya membaca fiqih haji. Demikian halnya, jika ingin tahu makna haji, mesti memahami Islam. Dan dari memahami hakikat Islam, kita akan paham seperti apa hakikat manusia.

Ibadah haji jika dilihat secara global adalah suatu perjalanan eksistensial manusia menuju Tuhan bersama makhluk. Bisa dikatakan, haji adalah keseluruhan Islam. Segala yang Tuhan inginkan kepada manusia telah dirangkum dalam ibadah haji. Islam dan keislaman akan menemukan maknanya bersama hijrah dan gerak.

Haji, hijrah, dan gerak selalu bersama dan berkelindan disebabkan memiliki tujuan yang sama. Ketika Islam ingin dijelaskan dengan kalimat, jadilah Quran. Ketika Islam ingin mewujudkan dirinya dalam bentuk manusia, hadirlah sosok manusia suci, khalifah. Dan ketika Islam ingin menunjukkan dirinya dalam bentuk gerak, lihatlah haji.

Haji adalah tempat untuk tafakkur dan suatu amal untuk memahami. Jika ingin memahami agama Islam, sebelum itu mesti memahami agama Ibrahim melalui amal Ibrahimiyah. Islam adalah agama yang dimulai dengan Ibrahim, kemudian dilanjutkan dengan Musa dan Isa serta berakhir pada risalah Muhammad.

Ibrahim selalu menanti seseorang yang mampu memahaminya dan mengetahui makna rahasia-rahasia dirinya. Ibrahim adalah bapak pergerakan yang ingin menolong kemanusiaan. Ketika Ibrahim menghancurkan berhala, bermakna Ibrahim merobohkan kelas sosial dan meretas diskriminasi ras, suku, dan millah.

Kisah Ibrahim adalah kisah seorang manusia yang dalam kesendiriannya bangkit melawan sejarah. Satu sosok manusia yang tak memiliki senjata kecuali pemikiran dan tak memiliki kekuatan kecuali cinta.

Ibrahim adalah manifestasi dari gerak perubahan pemikiran manusia, dari batu berhala menjadi Ilahiah. Ibrahim adalah pembawa gerakan hijrah terbesar sepanjang sejarah. Ia adalah manifestasi dari ruh pencari hakikat dan ruh perlawan manusia atas pergeseran mazhab, gerak sejarah, dan realitas sosial. Walau sedikit pun Ibrahim tak pernah lalai.

Risalah haji masih senantiasa berlangsung hingga kini dan hari esok, agar orang-orang yang naik haji menyaksikan risalah Ibrahimiyah. Bukan  sekedar berhaji, lalu kembali ke rumah, tapi kembali kepada rutinitas semula.

Haji adalah titik permulaan. Awal perjalan dari Adam, Habil, dan Ibrahim agar sejarah selalu menyertai orang-orang yang menetapkan dirinya di jalan Ibrahimiyah melalui risalah Rasulullah saw.

Monday, April 15, 2019

Takwil Sufistik Surah Annaml

(قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً ۖ وَكَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ)
[Surat An-Naml 34]

- Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.

Takwil Sufistiknya;

"Sesungguhnya 'Ilahi' apabila memasuki suatu 'hati', niscaya Ilahi akan memfanakannya, dan menjadikan seseorang yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat".

Sebab itu jika seseorang telah mengaku hatinya telah bertemu dengan Tuhan, seharusnya ia merasakan kehinaan dan kerendahan dihadapan Ilahi. tak lantas membuat hatinya menjadi mulia.

Jadi jika hati seseorang merasa mulia karena merasa dirinya telah menjadi seorang sufi atau telah memahami terma-terma sufistik, sebenarnya pada saat itu bukan Ilahi yang bertajalli pada hatinya, namun yang bertajalli adalah keangkuhan, kesombongan, ujub, dan riya dimana sifat-sifat tersebut adalah manifestasi dari sifat-sifat setan.

Kata Maulana Rumi:

Ketahuilah,
setan manusia banyak solatnya,
jadi jangan pergi asal baiat saja.
Karena si pemburu, taklid pada burung,
agar perangkap itu dapat memperangkap burung.
Agar suara burung terperangkap ini,
terdengar oleh kawannya,
hingga burung lain ke bawah,
dan juga terperangkap dengan sengatan.

Orang yang tak punya suara,
mencuri suara para Darwish,
agar mampu menipu kaum awam,
Kerja para Darwish adalah membahagiakan,
sedangkan para penipu hanya memberi sengatan

Thursday, April 11, 2019

Alam Imajinasi

Sebenarnya banyak pendekatan dalam menjelaskan alam imajinasi. Beragam teori pun sudah sering kita baca. Maulana sendiri memberikan teori yang sederhana. Ia membagi alam imajinasi menjadi dua bagian; alam imajinasi yang diperlawankan dengan alam nyata, seperti pemahaman sebagian besar manusia, dan alam imajinasi yang dipahami oleh kaum sufi, bahwa alam nyata yang kita saksikan saat ini adalah manifestasi dari alam sana.

Imajinasi sang sufi adalah pancaran keindahan-keindahan yang ada di alam Lāhūt. Dalam syair Rumi, alam lāhūt disimbolkan dengan 'kebun Ilahi'.

Ketika sang sufi terhubung dengan alam lāhūt, alam nyata yang kita saksikan ini, nampak di dalam dirinya dalam bentuk imajinasi. Imajinasi tersebut adalah representasi dari alam-alam ruhaniah.

Jadi istilah imajinasi bagi kaum sufi, sangat berbeda dengan istilah imajinasi yang pada umumnya tergambar dipikiran kita. Saat kita mendengar kata imajinasi akan tergambar dipikiran kita sebagai realitas yang tak nyata.

Kata Maulana Rumi;

"Perang dan damai berakar dari Imajinasi,
Demikian pula,
Keagungan dan kekerdilan berakar dari imajinasi, Imajinasi-imajinasi yang menawan para Wali
adalah bentuk dari pantulan keindahan kebun Ilahi".

Imajinasi secara umum adalah gambaran yang ada di benak (alam mental) kita. Bagi sebagian orang, imajinasi berasal dari khayalan, fantasi, dan bentuk-bentuk yang kita buat sendiri.

Namun bagi sufi, imajinasi yang hadir di dalam jiwa berasal dari alam lain, yaitu alam lāhūt dan mitsāl. Di alam sana (lāhūt dan mitsāl) adalah asal dan sumber bentuk-bentuk yang ada di sini. Bentuk-bentuk di alam sana lebih sempurna dari bentuk-bentuk yang ada di sini.

Bentuk-bentuk yang ada di alam sana hadir di benak seorang sufi melalui 'ilham'. Kata Rumi, setiap sufi tertawan oleh imajinasi yang hadir di dalam dirinya karena apa yang hadir di dalam dirinya melalui ilham, tak lain adalah pencapaian dan perolehan dari sufi itu sendiri dalam perjalanan ruhaniahnya.

Thursday, March 28, 2019

Penghafal Ilmu dan Pecinta Ilmu                                                                                                                                                                       

Setiap orang terhubung secara khusus dengan alam ini. Tentu tidak terkait dengan seluruh alam, tapi terelasi dengan bagian-bagian tertentu dari realitas alam. Keluasan jiwa seseorang akan menentukan relasi keluasan alam yang dimilikinya.

Kata Wittgenstein, "bahasa yang kita gunakan menunjukkan batasan alam kita". Artinya, kekayaan bahasa yang dimiliki seseorang menunjukkan keluasan alam yang dimilikinya.

Nabi Ya'qub as dengan keluasan jiwa yang dimilikinya, mampu mencium aroma pakaian Yusuf dari jarak yang cukup jauh. Sementara pada saat yang sama, Benyamin yang membawa pakaian Yusuf, tak bisa mencium aroma batin pakaian Yusuf, padahal tak ada jarak yang memisahkan antara dirinya dengan pakaian Yusuf.

Kata Maulana Rumi;

Apa yang disaksikan Ya'qub akan aroma Yusuf,
hanya untuk Ya'qub,
Kapankah saudara-saudara Yusuf seperti ini?

Manusia yang tercemar dengan keburukan tak dapat mencium aroma sorgawi. Demikian halnya, solat tidak akan sah tanpa kesucian.

Maulana Rumi menggambarkan kedalaman batin pengetahuan Ya'qub dengan bahasa "begitu lapar terhadap aroma Yusuf";

Betapa lapar Yaqub terhadap aroma Yusuf,
Dari jarak jauh,
Ya'qub mencium aroma pakaian Yusuf,
Tapi si pembawa pakaian Yusuf,
sedikitpun, tak merasakan aroma itu,

Kemudian bait syair berikutnya, Maulana Rumi menyimpulkan, boleh jadi ada orang alim yang tak mampu mengambil manfaat dari pengetahuannya. Boleh jadi ada orang awam, saat mendengarkan nasehat ulama dengan ketulusan hatinya, mampu mendapatkan inayah dan rezeki makrifat Ilahi. Orang alim itu hanya mampu menghafal ilmu, sedangkan si awam begitu cinta terhadap makrifat.

Orang alim yang hanya mampu menghafal ilmu, sebenarnya, ilmu tersebut tak lebih hanya kehinaan baginya karena apa yang ia ketahui belum bersemayam di dalam jiwanya.

Mereka adalah para pengusaha ilmu dan penjual ilmu, bukan pecinta ilmu. Perumpamaan mereka di dalam kisah Yusuf, seperti penjual budak yang tak memperoleh keuntungan apa pun dari budak itu.

Thursday, March 21, 2019

Politik, Kejujuran, dan Kebahagiaan

                                                                                                                                              
Sudah semestinya dan memang seharusnya politik selalu berjalan beriringan dengan kejujuran. Politik terbaik adalah politik yang dibangun di atas nilai-nilai kejujuran. Tapi memang  faktanya, jauh panggang dari api, apa yang kita saksikan justru malah sebaliknya, seolah menghalalkan segala cara, sebab tujuan utama adalah memenangkan kemenangan bagaimana pun caranya.

Ilmu politik yang diajarkan dibangku kuliah, hampir-hampir tak menemukan wujud aktualnya. Politik yang dipahami sebagai alat untuk mencapai tujuan bersama, nampaknya menjadi malapetaka, sebab maksud kata bersama adalah 'kelompok kita sendiri', bukan 'yang lain' yang berbeda dengan kita. Akhirnya 'kelompok kita' harus mendominasi 'kelompok lainnya'. Dan walhasil, politik berubah menjadi 'konspirasi'.

Tapi suka atau tidak, manusia adalah makhluk politik dan madani. Tak mau tahu urusan politik, juga bagian dari politik. Menjauh dari ranah politik adalah sebuah langkah politik. Jadi pertanyaannya, sejauh mana kita harus berpolitik?

Tapi yang pasti, jangan perkecil dan membatasi kehidupan ini, semata-mata sebagai dunia politik. Memaknai hidup dan kehidupan hanya dalam bingkai politik akan membuat kehidupan ini menjadi tak bermakna.

Kehidupan lebih kompleks dari urusan politik. Jika seluruh potensi manusia dikerahkan dalam urusan politik, manusia tak kan bisa memaknai arti sejati dari kebahagiaan. Bahkan jika seseorang begitu bahagia karena mampu meraih kekuasaan sekali pun, cepat atau lambat, kekuasaan tersebut harus dilepaskan.

Itu sebabnya, jika tujuan satu-satunya adalah kekuasaan, dia akan mempertaruhkan apa pun yang ia miliki, bagaimana pun caranya dan dengan cara apa pun. Dusta, fitnah, dan kebohongan akan dia lakukan. Bahkan rela melakukan hal itu semua atas nama agama.

Jadi jangan pernah lupa, jika kita menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas dan kemanusiaan, politik hanya salah satu dimensi dari kehidupan kita untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Namun membangun kehidupan yang lebih baik, baik itu untuk diri sendiri dan orang lain, bukan tugas politik semata, tapi tugas kemanusiaan kita semua.

Jadi, "politik itu untuk kehidupan, bukan kehidupan untuk politik".

Sebaiknya kita merenungi dengan khusyu' pesan Maulana Rumi;

Dia hanya seorang Darwish palsu,
tak layak diberi roti,
jangan buang tulang pada lukisan anjing,

Dia faqir pada makanan,
bukan faqir kepada Tuhan,
Jangan beri makanan pada lukisan mati
dan tak bernyawa.

Para Darwish palsu seperti ikan keramik,
bentuknya seperti ikan namun takut air,

Dia seperti ayam rumahan,
tak seperti Simurgh yang terbang bebas di angkasa,
Ayam rumahan, makan makanan lezat,
tapi luput dari makanan Inayah Ilahi,

Dia mencintai Ilahi disebabkan pemberian,
Tapi jiwanya tak mencintai kebaikan dan keindahan.

~ Muh. Nur. Jabir ~