Thursday, March 14, 2019

"Tak Tahu, Merasa Tahu, Tak Mau Tahu"

Sebenarnya kita semua tahu, ketidaktahuan kita lebih banyak dari apa yang kita ketahui. Ketidaktahuan kita seperti samudera, lebih luas dari apa yang kita ketahui. Jadi tak perlu membicarakan apa yang tidak kita ketahui. Apa ada jalan membicarakan sesuatu yang tidak kita ketahui? Kecuali kita memilih menjadi orang yang 'sok tahu', tak masalah.

Tapi kata Mark Twain, "Lebih baik anda tutup mulut dan terlihat bodoh, daripada anda buka mulut dan semua orang memahami bahwa anda benar-benar bodoh".

Bahkan, jangankan atas sesuatu yang tidak kita ketahui, apa yang kita ketahui pun, belum tentu benar-benar kita ketahui, sebab selalu saja menyisakan ketidaktahuan dari apa yang kita ketahui.

Coba perhatikan objek yang setiap hari kita jumpai dan begitu dekat dengan kehidupan kita. Misalnya air, sejauh apa sih pengetahuan kita tentang air? Padahal air salah satu objek yang sangat berguna dalam kehidupan kita. Boleh dikata, hampir-hampir tak mungkin dalam kehidupan keseharian kita terpisahkan dari air.

Namun saat berselancar di dunia maya, kita baru menyadari, betapa sedikit pengetahuan kita tentang air. Bahkan hingga kini, penelitian tentang air  oleh para ahli masih terus berlangsung. Belum lagi dengan objek-objek pengetahuan kita yang lain, khususnya pengetahuan-pengetahuan kita yang sangat abstrak, seperti agama, keyakinan, kepercayaan, ideologi, politik, dan ratusan konsep-konsep lainnya.

Jadi yang mana sebenarnya yang benar-benar kita ketahui? Pertanyaan ini semakin sulit terjawab sebab ternyata apa yang kita ketahui tak menjamin bahwa kita benar-benar mengetahuinya.

Tapi mungkin kita bisa menjawabnya dengan sederhana bahwa apa yang kita ketahui adalah apa yang kita alami secara personal. Misalnya saat kita bertanya, apa anda tahu berenang? Sebab meskipun saya tahu teorinya, tapi jika tak bisa renang, itu berarti sama saja saya tidak mengetahuinya.

Bahkan meskipun saya pernah melihat secara langsung orang yang sedang berenang, selama saya belum bisa renang, tetap saja saya akan dianggap sebagai orang yang tak tahu berenang. Tapi saat saya benar-benar pandai berenang, orang-orang akan mengatakan kepada saya bahwa saya pandai berenang.

Pengetahuan kita yang sejati adalah pengalaman atas apa yang kita alami. Meskipun tahu namun tak pernah mengalaminya, rasa-rasanya kita belum benar-benar mengetahuinya.

Namun perjalanan kehidupan kita tak sepanjang perjalanan waktu. Kita tak punya waktu untuk mengalami seluruh pengalaman-pengalaman yang orang lain alami. Kesadaran atas hal itu juga berdasarkan pengalaman dari orang-orang di sekitar kita. Apa yang mereka alami belum tentu kita alami. Begitu pula sebaliknya.

Tapi kita beruntung karena betapa banyak orang yang menuliskan pengalamannya. Berkat tulisan-tulisan mereka kita bisa belajar apa yang orang lain alami, apakah berakhir dengan baik atau buruk.

Problem utama kita karena enggan belajar dari pengalaman orang lain. Tak pernah membuka diri karena selalu merasa cukup dengan pengalaman diri sendiri.

Berikut ini pesan yang cukup indah dari Maulana Rumi dan sekaligus bisa kita anggap sebagai kategori manusia berdasarkan pengetahuan dalam pandangan Maulana Rumi:

1.
Seseorang yang tahu dan ingin tahu,
Orang itu telah mengantarkan dirinya kepada kebahagiaan yang tinggi.

2.
Seseorang yang tahu dan tahu bahwa dirinya tahu,
Orang itu telah menempatkan pelana pada kuda petarung.

3.
Seseorang yang tahu dan tidak tahu kalau dirinya tahu,
Orang itu telah berdampingan dengan kendi air, namun membiarkan dirinya kehausan.

4.
Seseorang yang tak tahu dan tahu kalau dirinya tidak tahu,
Kepincangan keledainya telah sampai di tujuan.

5.
Seseorang yang tak tahu dan ingin tahu,
Orang itu ingin membebaskan jiwa dan raganya dari kebodohan,

6.
Seseorang yang tak tahu, dan tak tahu kalau dirinya tidak tahu,
Orang itu selamanya berada dalam kebodohan di dalam kebodohan.

7.
Seseorang yang tak tahu dan tak ingin tahu,
Alangkah malangnya, jika makhluk seperti ini masih tetap hidup!




Friday, March 8, 2019

SAYA LEBIH BAIK DARI ORANG LAIN?

Tapi menurut saya, salah satu kesempurnaan jiwa, saat diri ini tak menganggap lebih baik dari orang lain. Kita  bisa belajar dari Iblis saat mengatakan, 'aku lebih baik darinya'. Ungkapan tersebut adalah ungkapan kejahilan, keangkuhan, dan egoisme.

Tapi mengapa kita tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain?

Boleh jadi ada orang merasa lebih baik dari yang lain karena soal genetika atau konstruksi sosial. Padahal seseorang tak punya keterlibatan sama sekali saat kedua keunggulan tersebut diwariskan pada dirinya.

Alasan kedua mengapa kita tak boleh merasa lebih baik dari yang lain, karena kita tak tahu apa yang sedang terbercik di dalam hati seseorang, kita hanya bisa menilai seseorang dari sisi luar saja. Padahal penilaian seperti itu seringkali salah. Banyak orang yang memakai baju kesucian, tapi punya hati busuk. Bisa juga sebaliknya, sepintas terlihat sebagai orang sesat, namun menjunjung tinggi nilai moralitas dan kemanusiaan.

Alasan ketiga, saat kita menilai suatu aib pada orang lain, sebenarnya aib tersebut ada di dalam diri kita dan kita pun mengalaminya.

Kata Maulana Rumi dalam kitab fihi ma fihi:

"Segala sifat buruk seperti hasud, dengki, tamak, zalim, angkuh, dan tanpa belas kasih, tak kau rasakan perih dan sakitnya, sebab sifat-sifat tersebut ada di dalam dirimu, Namun saat kau melihat sifat-sifat itu pada orang lain, barulah kau merasakan perih dan sakitnya".

Alasan keempat, orang yang paling merasa bertaqwa, tak pernah menjamin dan memastikan dirinya, kehidupannya akan berakhir dengan husnul khatimah, sebagaimana tak satu pun dari kita yang bisa memastikan, orang buruk yang kita saksikan hari ini, akhir kehidupannya pasti berakhir dengan keburukan.

Jadi lebih baik kita sibuk mencari aib diri kita sendiri daripada sibuk mencari-cari aib orang lain. Jika kita sibuk mencari aib diri kita sendiri, tak kan ada waktu yang tersisa untuk mencari-cari aib orang lain.

Kata Maulana Rumi,

Memiliki pandangan yang baik,
syarat menjadi manusia,
Aib itu disini dan disana,
Jangan kau cari!

Saturday, February 2, 2019

Fiksi: Salah Satu Bentuk Keindahan Kreasi Imajinasi Manusia



Tak mudah menciptakan kisah yang menarik. Kisah yang memberikan gelora. Melambungkan imajinasi kita untuk menemukan makna-makna yang ada dibaliknya. Melantunkan kisah dalam bahasa fiksi, bisa dianggap sebagai satu anugerah yang tak hadir di dalam setiap insan. Padahal salah satu fakultas yang dimiliki manusia disebut dengan ‘creative imagination’. Melalui fakultas ini manusia bisa merangkai suatu kisah yang tak pernah terjadi sama sekali di dunia ini.

Berkat fakultas ‘creative imagination’ ini, manusia bisa menciptakan suatu keindahan di dalam imajinasi. Dan hasil kreasinya bisa diekspresikan dalam bentuk roman, novel, cerpen, bahkan film. Alam imajinasi lebih luas dari alam yang kita huni sekarang ini.

Para filsuf dan sufi salah satu diantara mereka yang diberikan kekuatan mengaktualkan potensi ‘creative imagination’. Mitos Sisyphus adalah salah satu karya Albert Camus yang cemerlang. Camus mengisahkan mitos yunani kuno, Sisyphus. Ia separuh manusia – separuh tuhan. Camus ingin menyampaikan pesan melalui mitos tersebut, manusia tak kan pernah puas dari keinginan-keinginannya. Manusia selalu berjalan melawan arah kodratinya.

Kisah Laila-Majnun salah satu kisah fiksi sufistik yang sangat indah. Kisah percintaan Laila dan Majnun yang tak ada wujudnya di dunia nyata. Nizam sengaja mengurai kisah tersebut untuk menjelaskan kepada kita gambaran cinta seorang hamba kepada TuhanNya. Laila adalah simbol Tuhan dan Majnun simbol dari seorang hamba.

Kisah-kisah fiksi sengaja diciptakan agar membawa dan menuntun imajinasi kita sampai kepada tujuan yang dimaksud. Jadi memang benar, fiksi berasal dari kisah-kisah rekaan atau khayalan yang tidak ditemukan di dunia nyata. Namun fiksi tersebut sengaja diciptakan agar mampu mengaktifkan imajinasi kita. fiksi adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi agar sampai pada makna yang dimaksud.

Jadi kita bisa mendefinisikan fiksi sebagai kisah rekaan atau khayalan. Dan tak salah juga jika didefiniskan sebagai potensi yang mampu mengaktifkan imajinasi kita. Dalam logika, bab definisi, kita diajarkan cara atau metode dalam mendefinisikan sesuatu. Terkadang kita mendefinisikan sesuatu melalui objek pembahasan, bisa juga mendefinisikan sesuatu melalui tujuan dari objek pembahasan tersebut, atau dengan cara yang lain. Ketika seseorang mendefinisikan fiksi sebagai potensi untuk mengaktifkan imajinasi agar sampai pada makna yang dimaksud, berarti orang tersebut sedang mendefinisikan fiksi melalui tujuannya. Sebab fiksi sengaja dibuat untuk menyampaikan pesan atau maksud tertentu pada pembaca.

Coba perhatikan definisi filsafat, terkadang filsafat didefinisikan dari objek pembahasannya yaitu suatu ilmu yang membahas tentang wujud qua wujud. Ada juga filosof yang mendefinisikan filsafat dari tujuannya yaitu untuk menyempurnakan jiwa manusia. Sokrates mendefinisikan filsafat untuk melatih diri menuju kematian. Tapi saya lebih suka definisi guru saya, filsafat adalah derita.

Salah satu kaidah dalam filsafat, ‘tak ada perdebatan dalam satu peristilahan’. Maksudnya setiap orang berhak membuat definisi tertentu selama orang tersebut menjelaskan definisinya. Dan setiap orang berhak memaknai suatu peristilahan, selama orang tersebut menjelaskannya.

Salah satu adab dalam berdiskusi atau berdebat, kita harus menggunakan istilah yang sama agar sampai pada tujuan yang dimaksud. Dan jika mengeritik seseorang dengan menggunakan istilah yang berbeda serta tidak menggunakan istilah yang digunakan oleh orang tersebut, tentu tak kan ada hasilnya kecuali berubah menjadi satu debat kusir. Kau di sana, aku di sini, tak pernah bertemu.

Tapi kalau mengatakan kitab suci sebagai fiksi, mungkin lain soal. Bahasa fiksi berbeda dengan bahasa Quran (kitab suci yang saya yakini). Bahasa Quran, bukan bahasa sastra, ilmiah, sains, filsafat, sufistik, dan fiksi. Bahasa Quran adalah bahasa wahyu. Bahasa yang berasal dari pengalaman batin kenabian di dalam diri Rasulullah saw. Bahasa berasal dari pengalaman atas suatu fenomena tertentu. Pengalaman itu bisa di alam materi, imajinasi, dan di dalam pengalaman batin ruhaniah seseorang.

Ada penelitian yang menarik tentang Quran, Lesley Hazleton, seorang peniliti Yahudi. Dia mengakui, Quran tidak mungkin dipahami melalui terjemahan. Bahasa Quran harus dipahami dari bahasa Quran itu sendiri. Hasil penelitian ini direkam oleh TED di Youtube, Lesley Hazleton: A “tourist” reads the Koran.

Kalau kita baca literatur tentang perdebatan bahasa Quran, jauh sebelum ini sudah ada yang mengatakan kalau Quran adalah fiksi, bahkan ada yang mengatakan sebagai bahasa mitos. Jadi mengapa harus marah saat ini? Apa karena diangkat di layar televisi sehingga membuat kita marah dan jika tidak terekam di media tivi tidak akan membuat kita marah? Mengapa kita tidak marah sejak dahulu kala? Apakah karena kita tidak tahu atau karena kurang baca?   

Thursday, January 24, 2019

Apa Jadinya Jika Setiap Saat Krisis Melanda Kita?




Arti krisis dalam kamus besar bahasa Indonesia, selain menjelaskan keadaan yang berbahaya, kemelut, bisa juga dimaknai sebagai, momen yang sangat menentukan di dalam cerita atau drama, ketika situasi tiba-tiba berbahaya dan keputusan cepat harus diambil.

Tahun-tahun sebelumnya dan berlanjut hingga sekarang ini, kita telah banyak mengalami krisis, gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, kekeringan, dan pembunuhan massal. Hampir tak ada hari yang tenang untuk bercengkrama dengan keindahan kecuali sesekali kita mengarungi jalan-jalan di pedesaan, menghirup udara segar, dan bercengkrama dengan keindahan kepolosan wajah-wajah yang tulus.

Namun krisis masih tetap berlanjut hingga sekarang ini dan sampai detik ini. Tak ada kata usai dalam menghadapi krisis kehidupan sebab peristiwa krisis yang baru, datang menyapa hampir di setiap kesendirian kita. Seolah keseharian yang kita lalui dengan kebahagiaan sebanding dengan krisis yang menerpa kita. Namun ada satu hal yang luput, justru inti persoalannya karena krisis datang setiap saat, datang begitu cepat silih berganti, akhirnya menjadi terbiasa, dan sirna dari pikiran kita.

Artinya krisis sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita. Saking biasanya sehingga krisis tak lagi menjadi sebuah krisis. Krisis hanya datang sesaat untuk menyapa dan bersamaan dengan itu pergi dan sirna. Apa masih ada krisis jika sudah menjadi kebiasaan?

Coba lanjutkan krisis-krisis berikut ini, demontrasi, makanan kadaluarsa berisi cacing, korupsi, perbedaan aliran, hoax, terorisme, kebebasan berbicara, politik, perang sipil, tabrakan, travel umrah, dan krisis-krisis lainnya. Bukankah krisis-krisis tersebut sudah menjadi kebiasaan? Dan kalau sudah menjadi ‘biasa’, tak kan disebut lagi sebagai krisis.

Di antara krisis-krisis tersebut, ada krisis yang beruntung sebab ada orang yang meriyawatkannya dan memberitakannya. Tapi tidak semua krisis mendapatkan keberuntungan. Bahkan boleh jadi, cara mengemas suatu peristiwa akan sangat menentukan apakah peristiwa tersebut bisa dianggap sebagai suatu krisis atau bukan. Bahkan sebuah fiksi sekalipun bisa menciptakan krisis sosial hingga mengancam Indonesia bubar.

Jadi manusia kini tidak hanya berhadapan oleh suatu peristiwa krisis tapi juga dihadapkan dengan ‘kemasan peristiwa’ yang akan menentukan apakah peristiwa itu dianggap sebagai suatu krisis atau bukan. Bukan hanya itu, letak peristiwa atau dimana ‘kemasan peristiwa’ tersebut akan diproduksi, juga akan sangat menentukan. Jika ‘kemasan peristiwa’ diproduksi di ruang-ruang debat raksasa yang ditonton jutaan pemirsa, peristiwa itu akan benar-benar terlihat sebagai krisis.

Ada dua istilah waktu di alam pemikiran Yunani kuno, waktu kronologi (chronos) dan waktu kairos. Waktu kronologi adalah waktu yang dibagi menjadi jam, menit, dan detik. Kita merencanakan kegiatan keseharian dan rencana-rencana esok hari dengan waktu kronologi. Namun waktu kairos adalah waktu yang datang secara tiba-tiba, tak diperhitungkan, dan tidak dinantikan.

Waktu kairos adalah waktu yang menghentakkan benak kita secara tiba-tiba, menghentikan kebiasaan kita dengan terpaksa, dan memberikan pertanyaan besar yang akan mengubah kebiasaan-kebiasaan kita sebelumnya. Waktu kairos identik dengan saat peristiwa krisis pertama kali menghampiri kehidupan kita.

Jaman ‘internet is everything’ lebih memudahkan setiap orang menciptakan krisis karena ‘kemasan peristiwa’ tidak hanya terkait dengan masa kini tapi sangat memungkinkan peristiwa masa lalu diubah menjadi krisis masa kini. Seolah waktu kairos yang telah dipaparkan ribuan tahun lalu, baru saja dipaparkan belakangan ini.

Berbagai fenomena krisis telah mengepung kehidupan keseharian kita. Setiap saat kita dipertemukan dengan krisis-krisis yang baru. Hal yang paling menakutkan karena kemanusiaan kita akan terbiasa dengan krisis sehingga krisis menjadi kebiasaan kita. Dan pada akhirnya kita mulai tak peduli dan acuh atas berbagai krisis.

Kesimpulannya, kemanusiaan kita tak lagi memiliki empati dan tak berempati kepada kemanusiaan kita. Artinya riwayat kemanusiaan kita telah berakhir dan menjadi pemangsa setiap nilai-nilai kemanusiaan. Suatu bentuk kemanusiaan yang hanya mampu melahirkan kebuasan dan keganasan.

Benar kata Leon Trotsky, “bagi mereka yang memilih hidup tenang, seharusnya tidak dilahirkan di abad 20”.

  
 



Tuesday, January 22, 2019

Memeluk Hujan!



Apa ada orang yang tak merindukan hujan? Apalagi pesan setiap hujan tak sama. Hampir setiap hujan menawarkan makna yang berbeda-beda, makna-makna yang menelusuri di setiap keindahan imajinasi setiap orang. Seolah di dalam setiap tetesan hujan terangkum seluruh makna-makna yang dikandungnya; kegalauan, kesepian, kecemasan, keindahan, kebahagiaan, kerinduan, dan bahkan luka derita penderitaan.

Benar! Hujan tak pernah menitipkan makna yang sama. Hujan tetap dinanti walau di musim penghujan sebab di musim kemarau tak lagi dinantikan, tapi dicari dan berusaha menemukannya. Dan memang seperti itulah cara hujan memainkan perasaan kita dan berdialog dengan kita. Kita harus pandai-pandai menjamu hujan saat ia datang menawarkan maknanya. Karena ia datang begitu saja. Hampir-hampir tak pernah tahu kapan ia benar-benar datang dan benar-benar pergi.

Amat disayangkan, berkali-kali kita hanya mampu mempermainkan hujan. Seolah hujan berafiliasi kepada kepentingan tertentu. Seolah hujan berpihak pada agama tertentu dan punya kepentingan. Bukan kali ini saja, tapi kemarin-kemarin juga begitu, hanya mampu mempermainkan makna-maknanya saja. Padahal hujan turun karena kerinduannya ingin memeluk seluruh penduduk bumi. Dan hujan pun tak ingin dijamu bak seorang Raja, yang akan menyibukkan setiap orang untuk menyambut kedatangannya.

Tugas kita hanya menerima hujan apa adanya. Membirkannya mengalir begitu saja atau mempersiapkan lorong atau kanal khusus agar tepat di kanal itulah air hujan menelusuri makna-makna yang diiginkannya. Sebab hujan sampai kapan pun akan tetap diam dan membisu. Manusialah yang harus aktif memaknainya. Tugas hujan hanya memberi dan tugas kita adalah menerimanya dan menangkap makna-maknanya.

Ada yang berbeda kali ini setiap kali hujan turun. Karena makna keindahan hujan hampir punah, sebab hujan hanya dimaknai sebagai ancaman, terutama saat hujan turun di kota-kota besar. Ibarat monster yang datang dengan giginya yang tajam dan raut wajah menakutkan, siap menerkam keangkuhan para pemilik kota. Dan memang benar, bukan musim penghujan kali ini, musim penghujan kemarin, hujan tetap saja menyisakan korban, tanah longsor, banjir, dan ketenggelaman.

Tugas kita bukan menolak hujan. Tapi menyiapkan kolam raksasa agar air hujan bisa menari-nari di dalam kolam itu. Mungkin akan menghabiskan miliyaran, bahkan triliyunan dalam mewujudkan kolam raksasa itu. Biaya untuk merubuhkan gedung-gedung yang dibangun di atas tangan-tangan indah keangkuhan para pemilik kota. Biaya untuk memaksakan agar orang-orang terpaksa pindah. Dan biaya untuk membangun kolam raksasa yang megah, yang akan memanjakan mata dan hati para penduduk kota agar tidak berlarut-larut dalam tekanan hidup yang mencekam.

Bukankah ini lebih baik karena uang triluyanan itu membuat jutaan orang bahagia. Dan membuat kita semua bisa tidur pulas dalam menyambut air hujan dengan senyuman indah di setiap musim penghujan datang! Bukankah akan lebih indah jika di kota-kota besar orang-orang bisa menyaksikan kolam raksasa agar dengan leluasa mereka bisa membuang ego-ego keangkuhan ke dalam air kebijaksanaan itu! Bukankah kita bahagia, anak-anak kota bisa bermain-main dan berlari-lari di atas kolam raksasa! Bukankah akan nampak lebih indah jika orang-orang kota bisa mancing ikan persis di tengah-tengah kota!

Kali ini hujan benar-benar mengajak nurani kemanusiaan kita. Mencoba mengoyak-ngoyak keangkuhan yang tak berarti. Dan selalu bertanya, “sampai kapan kita akan membiarkan air hujan merenggut nyawa!” apakah kita masih belum bisa belajar dari setiap musim penghujan yang akan menjebak kita dalam kecemasan!

Kali ini kita butuh pembangunan yang berbasis lingkungan. Butuh sistem politik dan politisi yang berbasis lingkungan. Bahkan memaknai kembali kemanusiaan kita berbasis lingkungan. Sebab hanya dengan cara ini kita bisa memeluk semesta dan hujan. Terutama memeluk kemanusiaan kita yang semakin rapuh.