Kan sudah kukatakan padamu,
jangan "ke sana"!
karena yang kau kenal, hanya aku.
~ Maulana Rumi
"Disana" mana yang mesti kita hindari dan kita tak semestinya pergi kesana? Rumi menjawabnya dengan bait selanjutnya "karena yang kau kenal hanya aku".
Aku disini memiliki dua makna; diri dan Tuhan. Aku sebagai diri sebab kita mengenal diri kita sendiri meskipun tidak sepenuhnya, dan Aku sebagai Tuhan karena fitrah suci manusia selalu mengingat-Nya dan selalu ingin kembali pada-Nya.
Saat manusia melangkah "ke sana", berarti ia telah melangkah keluar...
Thursday, December 10, 2015
Epistemologi Modern; Analisa terhadap Pengetahuan
Beragam pendekatan dalam menganalisis esensi pengetahuan. Misalnya menganalisa pengetahuan dari sisi fungsinya atau menganalisa pengetahuan dari aspek pengetahuan sebagai prihal yang bersifat partikukar serta menganalisa pengetahuan dari aspek kaitannya dengan persoalan proposisional.
Pembahasan kita terkait dengan pengetahuan dari sisi proposisional bahwa, maksud dari pengetahuan disini adalah terkait dengan relasi dari pengetahuan tersebut yaitu proposisi. Maksudnya seseorang memahami atas suatu proposisi. Oleh karena itu definisi pengetahuan...
Monday, December 7, 2015
Kesadaran dan Kejahilan
Di dunia ini hanya ada satu keutamaan, dan itu kesadaran.
Dan hanya ada satu dosa, dan itu kejahilan.
Dan adapun diantara keduanya, keterbukaan dan ketertutupan setiap mata adalah satu-satunya pembeda antara manusia sadar dan manusia jahil.
~ Rumi
Langkah pertama sampai ke tingkat kesadaran adalah memusatkan diri pada tindakan, perkataan, dan pikiran. Saat manusia memahami kondisi-kondisi yang terjadi pada dirinya, baik itu pikiran, imajinasi, dan juga kehidupan dirinya, pertanda bahwa ia telah memiliki satu tahap kesadaran tertentu atas realitas...
Tuesday, December 1, 2015
Aku dan Aku
Aku tidak tahu siapa sebenarnya “Aku”. Tetapi, ketika aku berjalan ke dalam diriku sendiri, maka aku pun terkejut : ternyata “Aku” adalah suara milik-Mu, gema yang terpantul dari “Dinding - Keilahian”.
~ Rumi
Takwil;
"Aku tidak tahu siapa sebenarnya aku". Pertanyaan mengenai diri yaitu aku adalah pertanyaan eksistensial. Suatu pertanyaan eksistensial membutuhkan pendekatan eksistensialis atau pendekatan fenomenologis, sebab fenomenologis bagian dari mode eksistensi.
Aku secara fenomenologis dapat dimaknai sebagai aku yang nampak secara alamiah...
Friday, November 27, 2015
AKU EKSISTENSIALIS
4:27 PM
No comments
Aku lahir di dunia,
Aku telah menjadi,
Aku telah meng-ada,
Aku datang dengan fenomena,
Aku menjadi tumbuh dan besar,
Aku melompat dan sebagian dari badankumelompat,
Aku membuat badanku melompat,
Aku melompat dari satu titik menuju titik
yang lain,
Aku melompat dari tempatku,
Aku melompat dari tempatku menuju
tempat lainnya,
Aku harus melompat, aku mesti dapat
melompat,
Aku melompati dan melewati lidahku,
Aku memiliki persepsi,
Aku mulai mendefinisikan diriku,
Aku menjerit dan aku berbicara,
Aku mulai mendengarkan keributan,
Aku mencoba memilah keributan,
Aku membuat keributan,
Aku mengeluarkan suara keributan,
Aku mengeluarkan melodi,
Aku berhasil membuat melodi dan
membuat keributan,
Aku berhasil berbicara,
Aku berhasil menjerit,
Aku berhasil diam.
Aku memandang,
Aku melihat lagi pandangan-pandangan itu,
Aku menemukan kesadaran,
Aku lebih memahami lagi sesuatu yang
aku lihat sebelumnya,
Aku lebih memahami pandangan-pandangan itu,
Aku mempersepsi,
Aku mempersepsi lagi persepsi-persepsi yang telah dipersepsi,
Aku telah memiliki kesadaran,
Aku lebih memahami lagi sesuatu yang
telah dipersepsi,
Aku mulai belajar,
Aku mulai memahami kata-kata,
Aku mulai memahami kata-kata kerja,
Aku mulai memahami kalimat-kalimat telah dan sedang,
Aku mulai memahami nama-nama benda,
Aku mulai memahami tunggal dan jamak,
Aku mulai memahami kalimat ‘orang
ketiga’,
Aku bisa memilah disini dan disana,
Aku mulai memahami waktu dengan
isyarat,
Aku mulai membedakan kata sifat,
Aku mulai memahami perbedaan baik dan buruk,
Aku mulai memahami kepemilikan,
Aku mulai memahami milikku,
Aku mulai membedakan milikmu,
Aku mulai merangkai realitas diriku,
Aku mulai bertanggung jawab atas
pernyataan-pernyataanku,
Aku telah menjadi relasi-relasi dari pernyataanku,
Aku telah menjadi objek dari
pernyataanku,
Aku mulai bertanggung jawab atas relasi-relasi tersebut,
Aku telah berubah menjadi terbuka atau
tertutupnya mulutku,
Aku telah berubah menjadi sebuah rangkaian keangkuhan alfabet,
Aku hidup dalam kurun waktu tertentu,
Aku mulai berpikir tentang awal dan akhir,
Aku mulai berpikir tentang diriku,
Aku mulai berpikir tentang orang lain,
Aku mulai keluar dari tabiat,
Aku telah menjadi,
Aku bukan lagi tabiat,
Aku telah memiliki pilihan,
Aku mulai memahami bahwa engkau
bukan diriku,
Aku mulai bisa menjelaskan pilihanku,
Aku mulai bisa mendiamkan pillihanku,
Aku mampu menginginkan sesuatu,
Aku mampu tidak menginginkan sesuatu,
Aku telah menjadi,
Aku mulai bertanggung jawab,
Aku mampu makan dengan tanganku
sendiri,
Aku mampu tidak lagi mengotori badanku,
Aku telah mampu mendengarkan nasehatorang lain,
Aku telah mampu menghindar dari
keburukan-keburukan,
Aku telah mampu membedakan antara
panas dan dingin,
Aku mampu untuk tidak bermain-main lagi,
Aku mampu memilah antara baik dan
buruk,
Aku berusaha melakukan sesuai dengan
permainan yang disepakati,
Aku bertanggungjawab agar tidak lari dari kesepakatan,
Aku mampu tidak melakukan sesuatu dari yang tidak disepakati,
Aku mampu menjauh dari apa yang tidak disepakati,
Aku suatu ketika mampu tidak melakukan dosa,
Aku suatu ketika mampu melewati batas-batas yang disepakati,
Aku suatu ketika patuh dalam pekerjaan,
Aku suatu ketika tak patuh dalam
pekerjaan,
Aku telah menjadi,
Aku telah bertanggungjawab,
Aku menjadi penyebab,
Aku terpaksa membayar pilihan-pilihanku,
Aku terpaksa membayar pilihan-pilihan masa laluku,
Aku terpaksa membayar waktuku,
Aku baru saja menginjakkan kakiku
diwaktu ini,
Keniscayaan ruang dan waktu mana yang aku langgar,
Keniscayaan kaidah logika mana yang aku langgar,
Keniscayaan rahasia mana yang aku
langgar,
Akal sehat manakah yang aku langgar,
Kaidah-kaidah keabadian eksistensi mana yang
aku langgar,
Kaidah cinta mana yang pernah aku
langgar,
Kaidah permainan mana yang pernah aku langgar,
Kaidah keindahan mana yang pernah aku
langgar,
Kaidah seni mana yang aku langgar,
Kaidah diam dan kebebasan mana yang
aku langgar,
Apakah kaidah, logika, cinta, rahasia,
permainan, keindahan, seni, diam,
kebebasan, ruang dan waktu pernah aku
langgar?
Aku telah melakukan,
Aku menghindar untuk melakukan,
Aku menunjukkan eksistensiku,
Aku dengan pikiran menunjukkan
eksistensiku,
Aku dengan bahasa aku tunjukkan
eksistensiku,
Aku menyatakan wujudku sendiri,
Aku menyatakan wujudku pada yang lain,
Aku menyatakan wujudku kepada ILahi,
Aku pergi,
Aku pergi dengan tujuan,
Aku pergi dengan tujuan walau tak
mengerti tujuan itu apa,
Aku pergi tanpa tujuan,
Aku pergi dengan arah walau tanpa tujuan,
Aku adalah tujuan,
Aku memikirkan yang orang lain
membicarakannya,
Aku membicarakan yang orang lain
memikirkannya,
Aku seharusnya berbicara keras namun
aku berbisik,
Aku seharusnya berbisik namun aku teriak,
Aku berbicara pada orang dimana
berbicara padanya adalah keburukan,
Aku mengucapkan salam dimana ucapan salam padanya adalah pengkhianatan.
Karya...
Thursday, November 5, 2015
Bahasa dan Persoalan Kontradiksi
Pembahasan kali ini adalah hasil dari perdebatan sesama penghuni di Grup Telegram "Dialektika Pemikiran". Grup ini akan melaksanakan kajian tiap malam jumat. Malam jumat kemarin 5-11-2015 membahas mengenai bahasa dan persoalan-persoalan ketiadaan seperti kontradiksi. Berikut ini beberapa hasil diskusi yang sempat kami edit;
1) Persoalan bahasa dalam logika tidak sama dengan pembahasan bahasa dalam filsafat.
namun struktur pembahasan bahasa dalam logika menjadi landasan pembahasan dan mempengaruhi pembahasan bahasa dalam filsafat khususnya...
Wednesday, September 23, 2015
Setiap Eid adalah Eid Qurban
Setiap Eid adalah Eid Qurban
Jalaluddin Rumi menakwil 'eid' atau Hari Raya sebagai jalan membuka gembok penjara sehingga orang-orang yang terpenjara mendapatkan kebebasan. Bukan hanya orang-orang yang terpenjara oleh materi, namun juga mereka yang terpenjara oleh kekuasaan, terpenjara oleh ketamakan, terpenjara oleh dengki dan hasud, dan lain-lainnya.
Karekteristik 'Eid' ialah memecahkan gembok penjara dan memecahkan cengkraman lingkaran kesesatan yakni dari penjara kezaliman, penjara keterikatan, penjara kejumudan, penjara keterasingan atas diri...
Thursday, September 10, 2015
Pandangan Dunia Jalaluddin Rumi
Tiga unsur utama yang membentuk pandangan dunia Rumi; realitas, makrifat, dan subjek yang mempersepsi. Semua orang meyakini termasuk Rumi bahwa tak ada yang meragukan keberadaan realitas eksternal, suatu keberadaan diluar hakikat diri kita atau diluar benak kita. Dalam sejarah pemikiran, hanya kaum shopis saja yang mengingkari keberadaan realitas eksternal secara mutlak. Namun terlihat dalam keseharian mereka tidak mengamalkan apa yang mereka yakini sendiri karena mereka masih beraktifitas dengan entitas-entitas realitas eksternal.
Sebenarnya realitas itu apa ? Para pemikir telah menguraikan beberapa definisi terkait dengan makna realitas. Namun realitas secara sederhana dapat dimaknai dengan keberadaan yang tidak bergantung kepada pemahaman kita. Maksudnya keberadaan realitas tersebut tidak bergantung pada persepsi kita. Ada dan tidaknya tidak bergantung kepada benak kita.
Maulana Rumi juga memahami realitas sebagai keberadaan yang keberadaannya tidak bergantung pada persepsi kita. Tapi Rumi tidak berhenti disini, Rumi membuka ruang baru atas pemaknaan realitas. Menurutnya, terjalin relasi yang begitu erat antara realitas dengan potensi yang dimiliki manusia sebagai subjek yang mempersepsi. Jika manusia menguatkan faktor-faktor pendukung dalam mempersepsi sesuatu maka ia akan menemukan realitas-realitas yang baru. Misalnya jika manusia mempertajam persepsi intuisinya seperti potensi dalam menangkap keindahan, maka ia akan mampu memaknai keindahan-keindahan yang ada di realitas eksternal yang selama ini mungkin saja ia yakini sebagai sesuatu yang tidak indah.
Pemaknaan baru atas realitas dalam pandangan Rumi sama sekali bukan dalam pemaknaan bahwa kitalah yang menciptakan realitas. Sebab maksud Rumi dalam persoalan ini yaitu jika potensi-potensi yang ada di dalam diri manusia terbuka dan teraktual, maka manusia akan memiliki relasi-relasi yang lebih luas. Sama sekali bukan dalam pemaknaan bahwa kitalah yang menciptakan realitas. Sebagaimana dalam syair Rumi berikut ini;
تا رهد زین عقل پرحرص وطلب صد هزاران عقل بیند بوالعجب
Jika akal yang penuh dengan rakus dan tamak ini bebas
Wahai bul ‘Ajab! Ratusan akal akan terlihat
( M.M, Bag 4, 3649)
Persoalan pandangan dunia bagi Rumi sangat terkait dengan keterbukaan aspek pencarian tujuan dan pemaknaan dalam diri manusia. Jika manusia hanya disibukkan dan tenggelam dalam fenomena-fenomena keseharian dan terperangkap dalam keinginan-keinginan hawa nafsu, aspek pencarian pemaknaan dan tujuan dalam dirinya akan redup, bahkan dia tak kan lagi mampu bergerak lebih jauh dalam mengaktualkan dirinya. Hati, intuisi, dan memaknai cita rasa kehidupan menjadi faktor penggerak dalam menemukan realitas-realitas yang baru.
Contoh sederhana, bayangkan jika kita mengumpulkan seluruh kitab-kitab penting dunia seperti buku-buku filsafat, irfan, tasawwuf, kemudian kita menghilangkan bagian yang terkait dengan intuisi, hati, dan makna hidup, apakah buku-buku tersebut masih mendapatkan tempat dan layak dibaca?
Hal yang paling utama dalam diri manusia adalah karena manusia mempertemukan dua realitas utama; materi dan immateri. Manusia seperti kanal penghubung antara dua lautan; lautan materi dan lautan immateri. Sebab itu Rumi dalam hal ini sangat meyakini bahwa manusia tidak menciptakan realitas tersebut namun menemukannya. Dan intinya terletak pada fakultas persepsi manusia yang mesti diaktualkan sehingga mampu membuka realitas-realitas baru.
Pandangan dunia Rumi adalah sebuah pandangan dunia yang berusaha mengoptimalkan segala potensi yang ada di dalam diri manusia. Beragam potensi berupa fakultas dapat ditemukan dalam diri manusia dan potensi tersebut dapat meluas jika menemukan keterbukaannya. Berdasarkan pandangan ini, pandangan dunia Rumi juga tentunya dapat dipahami sebagai pandangan dunia yang terbuka mengikuti fakultas manusia yang senantiasa berpotensi menemukan keterbukaan dan keterluasan.
Dari sini kita akan terlihat relasi antara pandangan dunia dengan dasar pemikirannya. Maksudnya sistem pemikiran Rumi sebagai sistem terbuka akan terlihat dengan jelas dalam aktualitas pemikirannya berikut ini;
1. Metode dalam Cerita dan Kisah
Kejeniusan Rumi dapat terlihat bagaimana ia menggunakan suatu kisah dan cerita dalam menjelaskan makna yang ingin disampaikan. Rumi sama sekali tak peduli apakah kisah dan cerita tersebut benar adanya atau salah. Apa yang penting baginya adalah menyampaikan pesan dengan memanfaatkan suatu kisah atau cerita. Dalam Matsnawi ia mengakui hal tersebut;
هم مثال ناقصی دست آورم تا ز حیرانی خرد را واخرم
Terkadang analogi (kisah) yang tak sempurna aku sampaikan
Hingga ku katakan, ku bawa akal pada keterpesonaan
( M.M, Bag 4, 424)
Kritik terhadap kisah dan cerita yang disampaikan Rumi dalam syair-syairnya menurut pandangan ini tidak tepat sebab Rumi sama sekali tidak peduli apakah kisah itu benar atau salah dan apakah kisah tersebut sempurna atau tidak semppurna. Tugas Rumi adalah menyampaikan prinsip-prinsip filosofis, pondasi pandangan dunia, manusia dan kemanusiaan, serta persoalan-persoalan Ilahiyyat melalui kisah, cerita, dan analogi sehingga kaum awam dapat memahaminya.
2. Paradigma Pandangan Dunia
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan sepintas mengenai pandangan dunia dalam pemikiran Rumi. Selanjutnya akan kami paparkan paradigma yang membentuk pandangan dunia Rumi;
a) Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Rumi tidak meragukan alam eksistensi sebagai suatu realitas yang nyata. Fenomena-fenomena seperti gerak, perubahan, paradoksikalitas alam semesta, serta proses gerak menyempurna dari materi menuju tingkatan eksistensi yang lebih sempurna, seluruhnya adalah bukti nyata keberadaan alam eksistensi. Namun penekanan Rumi yaitu membuktikan keberadaan suatu realitas melalui keterbukaan dan mengaktualkan dimensi-dimensi serta fakultas-fakultas manusia. Terminologi yang digunakan Rumi dalam menjelaskan potensi dan dimensi adalah dengan terminologi mata hati, akal, dan yang dipersepsi.
خاصه چشم دل که آن هفتاد توست پیش چشم حس که خوشه چین اوست
Khususnya mata hati yang memiliki 70 batin
Sedangkan mata lahir ini himpunan pemungutannya.
( M.M, Bag 4, 338)
غیراز این معقول ها. معقول ها یابی اندر عشق پُرفرّوبها
selain dari konsep-konsep ini, ada konsep-konsep lain
Akan kau temukan dalam keagungan dan kemuliaan cinta
(M.M, Bag 5, 3233)
Sayangnya banyak yang salah memahami dari syair-syair Rumi sehingga menganggap Rumi penganut aliran idealisme. Mungkin karena Rumi lebih banyak menaruh perhatian kepada aspek internal manusia. Asumsi tersebut terjadi karena mereka tidak memahami maksud dari syair-syair tersebut. Apalagi jika meyakini bahwa pandangan dunia Rumi adalah pandangan dunia yang terbuka, maka Rumi tidak akan dibatasi dalam satu isme tertentu.
b) Maulana Rumi dalam berbagai karyanya tidak membuktikan secara langsung mengenai keterbatasan alam ini. Meski demikian Rumi meyakini apapun yang ada di alam ini, eksistensi mereka tak lagi memiliki realitas dihadapan keagungan dan kebesaran Tuhan.
Eksistensi alam ini bagi Rumi tidak abadi dan tidak pula kekal. Bahkan jika pun toh alam ini diasumsikan seolah tak ditemukan batasan akhirnya, namun mesti tetap diasumsikan keterbatasannya. Sebab biar bagaimanapun kita telah menjangkau alam ini melalui eksistensi dan persepsi kita sendiri. Sebab jika persepsi kita mampu menjangkaunya hal ini menunjukkan bahwa realitas tersebut terbatas. Dalam Matsnawi Rumi menjelaskan;
حق آن كه دايگى كردى نخست تا نهال ما ز آب و خاك رست
Demi Tuhan, dengan pemeliharaannya hingga ranting kami mengalir air
Tanah tumbuh dan berkembang
حق آن شه كه ترا صاف آفريد كرد چندان مشعله در تو پديد
Demi Tuhan yang telah menciptakanmu dengan kelembutannya
Dan obor bintang yang menyala-nyala menyinari dadamu
آن چنان معمور و باقى داشتت تا كه دهرى از ازل پنداشتت
Begitu kokoh dan kekal menciptakanmu
Sehingga materialisme mengira dirimu azali
شكر دانستيم آغاز ترا انبيا گفتند آن راز ترا
Kami bersyukur pada Ilahi, karena kami tahu dirimu berawal
Para Nabi telah menjelaskan rahasia dirimu
آدمى داند كه خانه حادث است عنكبوتى نه كه در وى عابث است
Manusia tahu, rumah itu berawal dan baru
Namun laba-laba yang bernaung dirumahnya tak kan tahu
(M.M, Bag 2, 2316-2320)
Hukum yang berlaku di alam eksistensi ini menurut Maulana Rumi bahwa alam eksistensi dalam keberlangsungannya terus menerus dijaga oleh Tuhan. Keterjagaan alam ini setiap saat dan terus menerus oleh Tuhan adalah bukti keterbatasan alam karena segala entitas di alam ini senantiasa membutuhkan pancaran emanasi Ilahi. Pada saaat yang sama bersamaan dengan pancaran emanasi Ilahi, kehendak Ilahi pun akan selalu menyertai dalam setiap pancarannya.
قرنها بگذشت و اين قرن نوى است ماه آن ماه است آب آن آب نيست
Abad-abad telah berlalu, dan ini abad baru,
Bulannya, bulan-bulan itu juga, namun airnya, bukan air itu lagi.
عدل آن عدل است و فضل آن فضل هم ليك مستبدل شد آن قرن و امم
Keadilan adalah keadilan itu juga, pengetahuan pun pengatahuan itu juga,
Namun abad-abadnya dan kaum-kaumnya telah berganti.
قرنها بر قرنها رفت اى همام وين معانى برقرار و بر دوام
Wahai manusia besar! Abad-abad pergi silih berganti,
Namun pemaknaan ini kekal dan abadi.
آب مبدل شد در اين جو چند بار عكس ماه و عكس اختر برقرار
Air di aliran ini telah berganti beberapa kali,
Namun gambar bulan dan bintang tetap
پس بنايش نيست بر آب روان بلكه بر اقطار عرض آسمان
Sebab itu paradigmanya bukan pada air mengalir,
Namun pada hamparan singgasana langit....
Wednesday, August 19, 2015
Naive Wahdatul Wujud
Wujud dalam pandangan Ibn Arabi;
1. Wujud tak dapat didefiniskan.
2. Wujud adalah hakikat tunggal. Sebab itu tidak terkait dengan univokal (musytarak maknawi) dan equivokal (muyatarak lafzi) karena hanya ada satu wujud.
3. Seluruh kesempurnaan-kesempurnaan akan kembali kepada hakikat wujud.
4. Wujud tidak bergradasi. Namun gradasi terjadi pada manifestasi (tajalli), bukan pada wujud.
5. Wujud identik dengan cahaya.
6. Wujud identik dengan ketunggalan.
7. Wujud identik dengan keniscayaan.
Menurut urafa, wujud tidak terbagi pada wujud wajib dan wujud...
Monday, August 17, 2015
Apakah Heidegger seorang mistis (sufi)?
Menjawab pertanyaan tersebut sejak awal perlu ditekankan antara sufi dalam pemaknaan sesuatu yang diperoleh dari ‘pengalaman sufistik’ dengan sufi dalam pemaknaan ‘bahasa sufistik’. Heidegger tentu bukan seorang pelaku mistis atau dalam kata lain, filsafat Heidegger sedang tidak menjaskan filsafatnya sebagai hasil dari pengalaman ...
Sunday, August 16, 2015
Heidegger dan Kematian
Saat Heidegger berpikir tentang kematian, ada satu pertanyaan menarik tentang kematian yang diajukan oleh Heidegger; bagaimanakah kematian dapat menolong manusia? Menurutnya, menaruh perhatian kepada kematian dapat memberikan pandangan jernih kepada manusia. Heidegger dari satu sisi memberikan penekanan yang berbeda mengenai eksistensi bahwa ‘dasein’ (eksistensi manusia) memiliki dua tingkatan;
1. keterasingan atas eksistensi.
2. kesadaran atas eksistensi.
Pada tingkatan pertama, manusia hidup dalam dunia entitas-entitas keseharian dan asyik dalam kehidupan keseharian bahkan tenggelam di dalamnya. Ketenggelaman tersebut menghasilkan percakapan-percakapan yang tak bernilai. Pada tingkatan ini, ketertarikan manusia hanya pada bentuk-bentuk eksistensi.
Namun pada tingkatan selanjutnya yaitu pada tingkatan kesadaran atas eksistensi, manusia tidak akan tenggelam dalam entitas-entitas lainnya, namun mampu melampauinya. Keberadaan-keberadaan entitas lainnya akan menakjubkan dirinya dan oleh karenanya, kehidupan dalam tingakatan ini adalah kesadaran terus menerus terhadap eksistensi. Heidegger menyebut tingkatan ini dengan ‘ontological mode’.
Tingkatan pertama adalah tingkatan kehidupan keseharian dan keterasingan dari eksistensi. Heidegger menganggap tingkatan ini tidak esensi dan tidak memberikan kesejatian manusia. Pada tingkatan ini manusia tidak merasakan tanggungjawab terhadap yang lainnya dan manusia tak dapat membangun dirinya dan dunianya.
Namun ketika manusia sampai pada tingkatan kedua, segala perhatian dan pikirannya tertuju pada eksistensi. Manusia akan menemukan kehidupannya yang sejati. Pada tingkatan ini, manusia memiliki kesadaran sepenuhnya terhadap dirinya; sadar atas potensi-potensi dan juga keterbatasan-keterbatasan dirinya. Fungsi kematian pada tingkatan ini akan semakin jelas. Seseorang dengan pemikiran yang sederhana, dari tingkatan keterasingan atas eksistensi tak kan sampai pada tingkatan kesadaran atas eksistensi. Manusia mesti mengalami beberapa pengalaman tertentu sehingga mampu membangkitkan kesadaran internalnya. Setiap manusia dalam kehidupan kesehariannya pasti berhadapan dengan fenomena-fenomena yang tak mungkin dihindari dan sekaligus menggugah dirinya. Fenomena tersebutlah yang mengantarkan manusia berpikir mengenai eksistensi. Kematian dan berpikir pada kematian memiliki peran khusus sebab mampu mempersiapkan kepada manusia, kemungkinan memiliki kehidupan yang sejati dan bermakna....
Friday, August 14, 2015
Apakah Hakikat itu ada?
Jika hakikat itu ada apakah pengetahuan dapat menjangkaunya? Tak ada jalan lain kecuali memulainya dengan ilmu huduri (kehadiran). Setiap persepsi dan 'subjek yang mempersepsi', dilihat dari sisi bahwa ia mempersepsi dirinya sendiri, maka sebenarnya ia memperoleh suatu hakikat yaitu hakikat dirinya sebab persepsi adalah hakikat dan wujud itu sendiri. Pengetahuan dan 'objek yang diketahui' dalam hal ini adalah satu dimana wujud dan 'persepsi ilmu huduri' tak terpisah, tak berbeda, dan tak berbilang sehingga tak bisa dikatakan diantara keduanya ada...
Thursday, August 13, 2015
Fenomenologi Instagram
Mungkin sebagian dari kita masih ingat, dahulu betapa susahnya mendapatkan sebuah gambar foto dari kamera. Mengabadikan kenangan melalui kamera waktu itu tidak mudah. Prosesnya cukup melelahkan dan meraup kocek yang tidak sedikit. Mungkin masih ingat 'klise foto' yang dimasukkan ke dalam kamera. Klise foto berfungsi merekam gambar melalui pemotretan kamera. Setelah melakukan pemotretan, hasil gambarnya tak dapat langsung dinikmati. Klisenya mesti 'dicuci' terlebih dahulu. Terkadang ada klise foto yang terbakar atau tidak menghasilkan gambar sama...
Wednesday, August 12, 2015
Takwil Syair Rumi (8)
Yang kuraih dalam hidupku, tak lebih dari tiga perkataan saja; mentah, matang, dan terbakar.
~ Rumi
Rumi merangkum perjalanan hidupnya dalam tiga hal; mentah, masak, dan terbakar. Ketiga hal itu sebenarnya menjelaskan perjalanan gerak ruhaniyah dirinya sebagaimana sufi lainnya. Tiga hal itu merupakan tangga perjalanan. Namun bagaimana kita memaknai ketiga hal itu?
Sebagian menakwil makna tiga tahapan kehidupan Rumi yaitu mentah, matang, dan terbakar dengan tiga tahapan perjalanan makrifat yaitu ilmul yaqin, 'ainul yaqin, dan haqqul yaqin.
Ilmu...
Tuesday, August 11, 2015
Melampaui Kematian
Mulla Abdurrazzaq Lahiji menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ma'ad (hari akhir) adalah kembalinya manusia kepada kehidupan setelah menjalani kematian. Sebab itu ma'ad adalah suatu keniscayaan.
Pembahasan ma'ad salah satu persoalan yang penting, bukan hanya bagi kaum teolog namun juga bagi para ilmuan dan pemikir. Seluruh mazhab dalam Islam meyakini ma'ad sebagai bagian dari ushuluddin (prinsip agama). Sebab itu tak perlu ragu mengenai posisi penting ma'ad. Kata ma'ad berasal dari 'aud, artinya kembali. Mengapa hari akhir disebut ma'ad? Karena...
Tuhannya Filsuf dan Tuhannya Nabi
Perbedaan Tuhan para filsuf dan Tuhan para Nabi, Tuhan para Nabi dapat diseru dengan do'a, namun Tuhan para filsuf mesti didialektikakan dan diargumentasikan. Para filsuf seperti ahli matematika sibuk menyelesaikan persoalan-persoalan matematika. Namun para Nabi seperti para pecinta yang senantiasa asyik dengan dekat kekasihnya. Lantunan doa dan pujian yang bergumam di bibirnya begitu lembut dalam mengurai keindahan Ilahi dan keagungan Ilahi. Tak heran jika para Nabi pun mengajak kaumnya menuju jalan Ilahi dengan penuh kelembutan dan kasih sayang,...
Sunday, August 9, 2015
Sadra dan Filsafat
Keberhasilan Sadra dikarenakan kemampuan dia menggunakan karya ribuan tahun pemikiran sebelumnya. Maksudnya Sadra telah mampu merubah suatu pemikiran dari teori menjadi sebuah wacana.
Kata Sadra, maksud dari teks filsafat itu bukan berarti bahwa kita cukup memahami teori sebelumnya, kemudian mengajarkan kembali teks tersebut kepada orang lain.
Maksud dari teks filsafat itu bahwa dari teori-teori filsafat sebelumnya mesti diawali dengan suatu wacana yang baru. Teori-teori filsafat sebelumnya mesti direnungi dengan pemikiran yang baru.
Jika filsafat...
Fenomenologi dan Problemnya
Hirarki atau gradasi salah satu karekteristik hakikat eksistensi. Lokus gradasi hanya pada eksistensi dan tak kan mewujud pada yang realitas yang lain.
Ketika dikatakan bahwa ketunggalan merupakan esensi yang fundamental bagi wujud. Tak semestinya kita berpandangan bahwa ketunggalan hanya aksiden bagi wujud sehingga dikatakan kita mensifatkan ketunggalan pada wujud. Karena mesti dipahami bahwa tak ada sesuatu diluar eksistensi yang dapat mengaksiden pada wujud. Maksudnya, wujud adalah ketunggalan itu sendiri dan ketunggalan adalah wujud itu sendiri....
Terminologi Ufuk dan Ideologi
Kata ufuk dalam Quran adalah kata yang sangat penting. Dalam Quran;
{سَنُرِیهِمْ آیَاتِنَا فِی الْآفَاقِ وَفِی أَنفُسِهِمْ حَتَّى یَتَبَیَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ}
(Fuşşilat):53 - Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi (Afaq) dan pada diri mereka sendiri (anfus)آ, hingga jelas bagi mereka bahwa Dia adalah Al-Haqq (The Truth).
Kata tersebut termasuk salah satu kata yang menunjukkan mukjizat Quran. Ayat ini menjelaskan, kami tunjukkan tanda-tanda kami pada Ufuk-ufuk dan pada jiwa-jiwa (anfus)...